Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai memberi tekanan pada daya beli masyarakat, terutama di kota besar seperti Jakarta. Kenaikan harga barang dan jasa terjadi di tengah gaji yang relatif stagnan, sehingga banyak pekerja memilih lebih hemat dalam pengeluaran harian.
Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, mengatakan perubahan perilaku belanja terlihat jelas di pusat perbelanjaan. Menurut dia, trafik pengunjung pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen, sementara kunjungan akhir pekan masih stabil bahkan cenderung naik.
Dolar AS dan Daya Beli
Ellen menyebut penguatan dolar AS membuat sejumlah harga di masyarakat ikut naik. Kondisi ini membuat banyak rumah tangga menahan belanja yang tidak mendesak. Tekanan tersebut dirasakan paling nyata oleh pekerja kantoran di wilayah perkotaan.
Ia menilai masyarakat kini lebih berhitung dalam mengatur pengeluaran harian. Kebiasaan makan dan belanja di luar rumah mulai dikurangi. Sebagian pekerja memilih membawa bekal dari rumah agar pengeluaran tetap terkendali.
Dalam konferensi pers Festival Jakarta Great Sale 2026, Ellen menyinggung posisi dolar yang sudah berada di kisaran Rp17.000. Ia berharap nilai tukar tidak menembus Rp18.000 karena akan menambah tekanan harga. Menurut dia, kenaikan harga di masyarakat sudah cukup terasa saat ini.
Perilaku Konsumen Berubah
Perubahan paling terlihat terjadi pada karyawan yang biasa makan siang di mal. Jika sebelumnya mereka datang hampir setiap hari kerja, kini frekuensinya berkurang. Sebagian besar memilih makan dari rumah untuk menghemat biaya.
Ellen mengatakan kebiasaan itu ikut menekan trafik pusat belanja pada hari kerja. Menurut dia, penurunan tersebut terutama terjadi saat weekdays. Sementara itu, situasi berbeda terlihat pada akhir pekan.
Pada hari libur, pusat belanja masih ramai karena dikunjungi keluarga. Daya tarik mal sebagai tempat rekreasi membuat kunjungan tetap terjaga. Anak-anak menjadi salah satu faktor penting yang mendorong orang tua datang kembali.
Trafik Weekdays Menurun
APPBI DPD DKI Jakarta mencatat penurunan trafik di pusat belanja Jakarta sekitar 15 hingga 20 persen pada hari kerja. Angka tersebut menggambarkan pelemahan aktivitas konsumsi di tengah tekanan ekonomi. Namun, penurunan itu tidak merata pada seluruh hari dalam sepekan.
Menurut Ellen, akhir pekan justru menunjukkan kondisi yang lebih baik. Kunjungan bisa lebih tinggi dari biasanya karena masyarakat memanfaatkan waktu bersama keluarga. Pola ini menunjukkan fungsi mal masih kuat sebagai ruang hiburan sekaligus belanja.
Ia menilai perilaku konsumen saat ini cenderung selektif dan menahan diri. Pengunjung datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga mencari pengalaman. Karena itu, pusat belanja perlu menjaga daya tarik agar trafik tetap stabil.
Strategi Pusat Belanja
Untuk menjaga kunjungan, pusat belanja dinilai perlu memperkuat pengalaman yang ramah keluarga. Ellen menekankan pentingnya menghadirkan aktivitas yang menarik bagi anak-anak. Dengan begitu, orang tua memiliki alasan untuk datang kembali.
Ia mengatakan anak-anak yang merasa nyaman di pusat belanja akan mendorong kunjungan ulang. Daya tarik semacam ini menjadi modal penting di tengah tekanan daya beli. Pusat belanja tidak hanya bersaing pada sisi transaksi, tetapi juga pada sisi hiburan.
Festival Jakarta Great Sale 2026 menjadi salah satu upaya menjaga pergerakan pengunjung. Ajang ini diharapkan membantu mendongkrak trafik sekaligus penjualan tenant. Di tengah pelemahan daya beli, strategi promosi menjadi semakin penting bagi industri ritel.
