Rupiah Melemah, Industri Satelit Lokal Dinilai Punya Peluang

Teknologi BRH 28 Mei 2026 01:44 WIB 2
Rupiah Melemah, Industri Satelit Lokal Dinilai Punya Peluang

Industri satelit dalam negeri menghadapi tekanan baru setelah nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini membuat biaya komponen, perangkat, dan kebutuhan ground segment yang masih banyak bergantung pada mata uang asing ikut meningkat.

Di tengah situasi tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia, Sigit Jatipuro, menilai pelemahan rupiah justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat industri satelit dan manufaktur nasional. Pandangan itu disampaikan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Industri Satelit Hadapi Tekanan

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada industri satelit karena sebagian besar kebutuhan masih menggunakan transaksi dalam dolar Amerika Serikat. Hal ini membuat biaya operasional dan pengadaan peralatan menjadi lebih mahal.

Sigit menilai Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang cukup kuat di kawasan Asia Tenggara. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, daya saing industri satelit nasional masih tertinggal.

Menurut dia, kondisi tersebut harus dibaca sebagai sinyal untuk memperkuat industri lokal. Dengan begitu, ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi secara bertahap.

Peluang Dari Kurs Tinggi

Sigit menjelaskan bahwa ketika dolar menguat, sektor yang berorientasi ekspor justru berpeluang mendapat keuntungan. Biaya produksi yang dibayar dalam rupiah dapat menghasilkan pendapatan dalam dolar Amerika Serikat.

Selisih kurs tersebut, kata dia, dapat menjadi margin tambahan bagi pelaku industri lokal. Karena itu, pelemahan rupiah tidak semata-mata harus dilihat sebagai ancaman.

Ia menilai momentum ini seharusnya mendorong industrialisasi di dalam negeri. Ekosistem teknologi dan satelit nasional perlu diperkuat agar mampu berdiri lebih mandiri.

Investor Lokal Didorong Masuk

Di tengah melambatnya investasi asing, Sigit mendorong investor domestik untuk memperbesar penanaman modal di sektor teknologi nasional. Menurutnya, ini menjadi saat yang tepat bagi pelaku usaha lokal untuk mengambil peran lebih besar.

Ia menyebut pasar domestik dapat menjadi tahap awal pengembangan industri sebelum melangkah ke pasar ekspor. Strategi tersebut dinilai lebih realistis untuk membangun fondasi bisnis yang kuat.

Dengan memulai dari pasar dalam negeri, perusahaan dapat menguji produk, memperluas jaringan, dan menyiapkan daya saing global. Langkah ini juga dinilai memberi manfaat langsung bagi pertumbuhan industri nasional.

Kemandirian Teknologi Nasional

Sigit menekankan pentingnya menanamkan pola pikir industri dan ekspor sejak dini kepada generasi muda. Menurut dia, kemandirian teknologi tidak akan tercapai tanpa perubahan cara pandang yang berkelanjutan.

Ia menilai Indonesia harus membangun ekosistem yang mampu menciptakan produk sendiri, bukan hanya menjadi pasar bagi barang impor. Dalam jangka panjang, hal itu akan memperkuat posisi Indonesia di industri satelit regional maupun global.

Sebelumnya, rupiah diketahui terus tertekan hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat dan mencatat titik terendah sepanjang masa. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan membantu Bank Indonesia mengendalikan tekanan nilai tukar mulai keesokan harinya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!