Dolar AS Menguat, Trafik Mal Jakarta Turun Saat Hari Kerja

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 08:06 WIB 6
Dolar AS Menguat, Trafik Mal Jakarta Turun Saat Hari Kerja

Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang terus menguat terhadap rupiah mulai memberi tekanan pada daya beli masyarakat, termasuk pekerja kantoran di Jakarta. Kondisi itu ikut mendorong kenaikan harga barang dan jasa, sementara penghasilan cenderung bergerak stagnan dari tahun ke tahun.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut sebagian masyarakat kini memilih mengurangi frekuensi belanja dan makan di mal. Dalam konferensi pers Festival Jakarta Great Sale 2026, Rabu (20/5/2026), ia menilai penurunan trafik terutama terlihat pada hari kerja.

Dampak Dolar pada Daya Beli

Ellen mengatakan penguatan dolar AS membuat harga di masyarakat ikut naik dan memicu penyesuaian perilaku belanja. Ia menyinggung nilai tukar yang sudah mendekati Rp18.000 per dolar AS, sehingga banyak konsumen menahan pengeluaran.

Menurut dia, situasi tersebut terasa langsung di kelompok pekerja yang biasanya mengandalkan pusat belanja untuk makan siang. Kini sebagian dari mereka memilih membawa makanan dari rumah agar pengeluaran harian lebih terkendali.

Perubahan kebiasaan itu menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya memengaruhi konsumsi besar, tetapi juga belanja harian. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok dan menunda pengeluaran yang dianggap tidak mendesak.

Perubahan Kebiasaan Pekerja

Ellen menjelaskan, banyak karyawan yang sebelumnya rutin makan di mal selama lima hari kerja kini mengurangi frekuensinya. Sebagian hanya datang dua hari dalam sepekan, sedangkan hari lainnya memilih membawa bekal dari rumah.

Fenomena tersebut berpengaruh pada trafik pusat perbelanjaan di Jakarta pada hari kerja. Meski begitu, penurunan itu belum terjadi merata pada seluruh hari dan lebih tampak pada periode weekdays.

Ia menilai langkah menahan pengeluaran merupakan respons wajar ketika harga kebutuhan meningkat dan pendapatan belum bertambah signifikan. Situasi itu membuat pusat belanja harus membaca ulang pola kunjungan konsumen agar strategi promosi tetap tepat sasaran.

Trafik Weekdays Menurun

Secara keseluruhan, trafik pusat perbelanjaan di Jakarta pada hari kerja turun sekitar 15 persen hingga 20 persen. Ellen menyebut penurunan tersebut sebagai kondisi yang cukup terasa oleh pengelola mal.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa akhir pekan masih menunjukkan performa yang stabil. Bahkan, kunjungan pada Sabtu dan Minggu cenderung meningkat karena banyak keluarga memanfaatkan waktu libur untuk beraktivitas di mal.

Pola ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumsi, bukan penurunan di semua lini secara bersamaan. Pusat belanja tetap memiliki daya tarik, tetapi intensitas kunjungan kini lebih bergantung pada waktu dan tujuan kedatangan.

Daya Tarik Keluarga

Ellen menilai pusat belanja memiliki kekuatan tersendiri untuk menarik keluarga, terutama anak-anak. Bila anak merasa nyaman dan terhibur, mereka cenderung meminta orang tua datang kembali ke lokasi yang sama.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak di pusat perbelanjaan. Upaya ini dinilai dapat menjaga arus pengunjung tetap stabil, meski daya beli masyarakat sedang tertekan.

Dalam pandangannya, strategi hiburan keluarga menjadi salah satu cara untuk mempertahankan relevansi mal di tengah perubahan perilaku belanja. Dengan pengalaman yang menarik, pusat belanja tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga tujuan rekreasi keluarga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!