Dokter Ingatkan Risiko Ubi Cream Cheese yang Viral

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 01:22 WIB 6
Dokter Ingatkan Risiko Ubi Cream Cheese yang Viral

Ubi cream cheese belakangan ramai diburu pembeli di media sosial dan pusat perbelanjaan. Pada Kamis, 14 Mei 2026, pantauan di salah satu mal di Kabupaten Tangerang menunjukkan camilan ini laris hingga pengunjung rela mengantre. Meski dianggap lebih sehat karena berbahan dasar ubi, pakar gizi mengingatkan bahwa penilaian tersebut tidak boleh berhenti pada bahan utamanya saja.

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, menegaskan tambahan topping tinggi lemak dan gula dapat meningkatkan total kalori makanan. Ia menyebut ubi memang mengandung karbohidrat kompleks dan serat, tetapi olahan kekinian tidak otomatis lebih sehat. Menurutnya, masyarakat tetap perlu memperhatikan porsi dan kandungan keseluruhan sebelum mengonsumsi camilan viral itu.

Ubi Bukan Jaminan Sehat

Ubi kerap dipersepsikan sebagai bahan pangan yang lebih baik dibanding dessert berbasis tepung olahan. Persepsi itu muncul karena ubi identik dengan real food dan memiliki kandungan serat. Namun, nilai gizi tersebut dapat berubah ketika diolah dengan tambahan bahan lain.

Dr Raissa menjelaskan, ubi memang memiliki keunggulan sebagai sumber karbohidrat kompleks. Kandungan serat di dalamnya juga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Meski begitu, manfaat itu tidak otomatis membuat seluruh olahan ubi menjadi menu sehat.

Menurut dia, cara pengolahan menentukan kualitas akhir makanan. Bila ubi dipadukan dengan saus manis dan keju krim dalam jumlah besar, profil gizinya ikut bergeser. Kondisi tersebut membuat camilan yang tampak sederhana menjadi lebih padat energi.

Karena itu, masyarakat perlu melihat komposisi secara utuh, bukan hanya nama bahan utamanya. Ubi dapat menjadi pilihan yang baik bila diolah dengan bijak. Sebaliknya, tambahan yang berlebihan bisa menghapus keunggulan gizinya.

Topping Menambah Kalori

Topping cream cheese menjadi salah satu faktor yang membuat ubi cream cheese lebih menarik bagi konsumen. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang gurih memberi sensasi berbeda pada camilan tersebut. Namun, bahan ini juga membawa kandungan lemak yang tidak sedikit.

Dr Raissa menekankan, penambahan topping tinggi lemak dan gula dapat menaikkan total kalori secara signifikan. Hal ini membuat camilan yang semula dianggap ringan berubah menjadi makanan tinggi energi. Dalam jangka tertentu, kebiasaan seperti ini dapat berdampak pada asupan harian yang berlebih.

Ia mengingatkan, konsumen sering kali tertipu oleh label sehat pada makanan berbahan dasar ubi. Padahal, kombinasi bahan tambahan dapat membuat kadar gula dan lemak menyerupai dessert lain. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk tidak berasumsi sebelum melihat kandungan sesungguhnya.

Pengendalian porsi menjadi kunci dalam menikmati makanan seperti ini. Satu porsi mungkin tidak langsung bermasalah, tetapi konsumsi berulang dapat menumpuk kalori. Kebiasaan tersebut perlu diwaspadai terutama oleh orang yang sedang menjaga berat badan.

Persepsi Sehat Harus Dikritisi

Fenomena makanan viral sering memengaruhi cara pandang konsumen terhadap sebuah produk. Ketika bahan dasarnya dianggap alami, masyarakat cenderung memberi label sehat tanpa pertimbangan lebih jauh. Padahal, proses pengolahan dapat mengubah manfaat awal bahan tersebut.

Dalam kasus ubi cream cheese, citra sehat muncul karena ubi dipandang lebih baik dibanding roti atau dessert manis lain. Persepsi ini kemudian diperkuat oleh tren di media sosial dan antrean pembeli di pusat perbelanjaan. Akibatnya, banyak orang mengikuti tren tanpa menelaah komposisinya.

Dr Raissa menyebut, penilaian makanan sebaiknya tidak hanya bertumpu pada satu bahan utama. Kandungan gula, lemak, dan total kalori harus dihitung sebagai satu kesatuan. Dengan begitu, konsumen dapat menilai apakah makanan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Ia juga menilai edukasi gizi masih perlu diperkuat di tengah maraknya makanan kekinian. Banyak produk tampak sehat dari kemasan dan bahan dasarnya, tetapi tetap tinggi kalori. Karena itu, literasi gizi penting agar masyarakat tidak mudah terjebak promosi yang menyesatkan.

Bijak Menikmati Camilan

Masyarakat tetap dapat menikmati ubi cream cheese selama memahami batasannya. Konsumsi sesekali dalam porsi kecil dinilai lebih aman dibanding menjadikannya makanan harian. Pola ini membantu menjaga keseimbangan asupan tanpa harus menghindari camilan sepenuhnya.

Perhatian utama adalah tidak makan berlebihan hanya karena menganggap makanan tersebut lebih sehat. Saat porsi membesar, kalori yang masuk ke tubuh ikut meningkat. Jika dilakukan terus-menerus, risiko kelebihan asupan menjadi lebih besar.

Selain porsi, konsumen juga bisa memilih versi olahan yang lebih sederhana. Penggunaan topping secukupnya dapat membantu menekan gula dan lemak tambahan. Langkah kecil seperti ini dapat membuat camilan tetap enak tanpa terlalu membebani asupan harian.

Dengan meningkatnya tren makanan viral, kewaspadaan terhadap kandungan gizi menjadi semakin penting. Ubi cream cheese boleh jadi populer, tetapi status viral tidak sama dengan status sehat. Pilihan bijak tetap menjadi kunci agar camilan tidak berubah menjadi sumber kalori berlebih.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!