Dokter Ingatkan Risiko Makan Daging Berlebihan saat Idul Adha

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 03:07 WIB 3
Dokter Ingatkan Risiko Makan Daging Berlebihan saat Idul Adha

Momen Idul Adha identik dengan melimpahnya olahan daging di rumah, mulai dari sate, gulai, rendang, hingga tongseng yang tersaji hampir sepanjang hari. Di balik tradisi tersebut, dokter mengingatkan bahwa pola makan berlebihan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi-hepatologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyanto, SpPD-KGEH, menegaskan pentingnya menjaga porsi makan selama Idul Adha. Ia menyebut, konsumsi daging yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan asam urat.

Daging Idul Adha dan Kesehatan

Menurut dr Aru, masyarakat sebaiknya tetap makan seperti biasa meski hidangan daging tersedia melimpah. Ia mengingatkan agar momen Idul Adha tidak menjadi alasan untuk mengonsumsi daging secara berlebihan.

Ia menilai perubahan pola makan yang drastis dapat berdampak pada kondisi tubuh dalam waktu singkat. Karena itu, pengendalian porsi menjadi langkah penting agar tubuh tetap seimbang.

Risiko tersebut juga perlu diwaspadai oleh mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit tertentu. Orang dengan diabetes, hipertensi, atau gangguan metabolik lain disarankan lebih berhati-hati dalam memilih makanan.

Risiko Daging Idul Adha Berlebih

Konsumsi daging yang terlalu banyak dapat memengaruhi kadar kolesterol dan tekanan darah. Dalam jangka tertentu, kebiasaan ini juga berpotensi memicu kenaikan asam urat.

Dr Aru menjelaskan bahwa bukan hanya jumlah daging yang perlu diperhatikan, tetapi juga frekuensi makannya. Mengonsumsi hidangan daging secara terus-menerus sepanjang hari dapat membuat asupan lemak dan garam melonjak.

Kondisi tersebut menjadi lebih berisiko bila disertai pola hidup yang kurang aktif. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap semua hidangan khas Idul Adha harus disantap tanpa jeda.

Cara Olah Daging Idul Adha

Dr Aru menyarankan agar olahan daging tidak dibuat terlalu asin, terlalu berminyak, atau terlalu berlemak. Ia juga menyoroti penggunaan santan berlebih yang dapat meningkatkan kandungan lemak dalam makanan.

Makanan dengan kadar lemak tinggi dapat memicu peningkatan kolesterol dan tekanan darah. Dalam beberapa kondisi, pola olah seperti ini juga bisa memperburuk keluhan asam urat.

Alternatif pengolahan yang lebih ringan dinilai lebih aman untuk dikonsumsi dalam jumlah wajar. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa menikmati sajian Idul Adha tanpa membebani tubuh secara berlebihan.

Batas Wajar Konsumsi Daging Idul Adha

Kebiasaan menyantap sate, gulai, tongseng, hingga rendang dari pagi sampai malam sebaiknya dihindari. Menurut dr Aru, pola seperti itu membuat asupan daging dan lemak menumpuk dalam satu hari.

Ia menegaskan pentingnya mengatur frekuensi makan agar tubuh tidak menerima beban berlebih. Mengonsumsi dalam porsi wajar dan disertai jeda makan akan lebih baik bagi kesehatan.

Kesadaran menjaga porsi menjadi kunci agar tradisi Idul Adha tetap bisa dinikmati dengan aman. Dengan pengaturan yang tepat, masyarakat dapat merayakan hari besar ini tanpa mengabaikan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!