Dokter Ingatkan Orang Tua Tak Terlalu Cepat Menyerah Soal Makan Anak

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 06:02 WIB 3
Dokter Ingatkan Orang Tua Tak Terlalu Cepat Menyerah Soal Makan Anak

Kebiasaan anak hanya mau makan menu tertentu, seperti nasi dengan telur atau nugget setiap hari, dinilai masih sering terjadi di banyak keluarga Indonesia. Dokter spesialis gizi klinik dr Diana Felicia Suganda, M.Kes, SpGK, menilai pola ini muncul karena orang tua terlalu cepat mengalah demi memastikan anak tetap makan.

Dalam talkshow bersama Frisian Flag pada Jumat, 29 Mei 2026, dr Diana menegaskan bahwa kebiasaan tersebut dapat menjadi kesalahan yang berdampak pada kualitas gizi anak. Ia menyebut, anak perlu dikenalkan pada beragam makanan agar kebutuhan zat gizi terpenuhi lebih baik.

Pola Makan Anak Perlu Variasi

dr Diana menjelaskan bahwa orang tua kerap membiarkan anak memilih menu yang sama berulang kali. Sikap itu biasanya muncul karena kekhawatiran anak tidak makan sama sekali. Namun, kebiasaan tersebut justru membuat anak semakin terbiasa dengan pilihan yang terbatas.

Menurutnya, variasi makanan penting untuk mengenalkan anak pada beragam rasa, tekstur, dan kandungan gizi. Jika anak terus diberi menu yang sama, kesempatan untuk belajar menerima makanan lain menjadi makin kecil. Kondisi ini dapat memengaruhi pola makan anak dalam jangka panjang.

Ia menilai, kebiasaan seperti nasi telur atau nugget setiap hari sebaiknya tidak dibiarkan menjadi pola utama. Orang tua perlu lebih aktif menyusun menu yang seimbang, termasuk sumber protein, sayuran, dan buah. Dengan begitu, anak terbiasa sejak dini dengan makanan yang lebih beragam.

Pengenalan Makanan Baru Butuh Sabar

dr Diana menekankan bahwa penolakan terhadap makanan baru adalah hal yang umum pada anak. Situasi itu biasanya terjadi ketika anak masih berada dalam masa eksplorasi rasa dan tekstur. Karena itu, orang tua tidak perlu langsung menganggap anak benar-benar tidak menyukai makanan tersebut.

Ia mengatakan, pengenalan makanan baru membutuhkan kesabaran dan pengulangan. Anak sering kali perlu mendapatkan paparan berkali-kali sebelum akhirnya mau mencoba. Satu atau dua kali penolakan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa makanan itu tidak disukai.

Menurut dr Diana, pendekatan yang konsisten jauh lebih efektif dibanding menyerah terlalu cepat. Orang tua dapat menawarkan makanan baru dalam porsi kecil tanpa paksaan. Cara ini membantu anak merasa lebih nyaman saat berhadapan dengan menu yang belum dikenal.

Risiko Gizi dari Menu Terbatas

Menu yang terlalu monoton dapat membuat asupan zat gizi anak menjadi kurang beragam. Padahal, setiap kelompok makanan memiliki peran yang berbeda bagi tumbuh kembang. Jika pilihan makanan terbatas, ada kemungkinan kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara optimal.

dr Diana menjelaskan bahwa anak memerlukan asupan dari berbagai sumber untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Protein, vitamin, mineral, dan serat perlu hadir dalam pola makan harian. Ketidakseimbangan menu dapat memengaruhi kualitas kesehatan anak secara keseluruhan.

Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan makan yang terbentuk di masa kanak-kanak dapat terbawa hingga usia berikutnya. Karena itu, orang tua perlu melihat pola makan bukan hanya dari sisi anak mau atau tidak mau makan. Yang lebih penting adalah memastikan makanan yang diterima tetap berkualitas dan bervariasi.

Peran Orang Tua di Meja Makan

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat. Sikap tenang saat anak menolak makanan dapat membantu proses adaptasi menjadi lebih baik. Sebaliknya, respons yang terlalu cepat menyerah justru memperkuat preferensi pada satu jenis makanan saja.

dr Diana menyarankan agar keluarga menjadikan waktu makan sebagai momen mengenalkan pilihan makanan yang lebih luas. Anak dapat diajak mencoba tanpa tekanan, namun tetap ada batasan yang jelas mengenai menu harian. Pendekatan ini membantu anak belajar bahwa makanan tidak hanya terdiri dari satu atau dua pilihan.

Dengan pola asuh yang konsisten, anak diharapkan lebih mudah menerima makanan baru dan memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat. Orang tua juga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila anak menunjukkan penolakan makan yang menetap. Langkah tersebut penting untuk mencegah masalah gizi sejak dini.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!