Aktris senior Diah Permatasari memberikan tanggapan mengenai hubungan asmara putra bungsunya, Marco, yang kini berusia 19 tahun. Ia menilai perjalanan Marco menuju pernikahan masih sangat panjang dan tidak perlu diburu-buru. Sikap itu disampaikannya saat ditemui di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, pada Jumat, 29 Mei 2026. Bagi Diah, hubungan yang dijalani Marco saat ini merupakan bagian dari proses pendewasaan.
Diah menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terlalu banyak menuntut dalam urusan asmara sang putra. Ia memilih memberi ruang agar Marco bisa menentukan pilihan dengan tenang dan bertanggung jawab. Dalam pandangannya, yang terpenting adalah kecocokan dan kebahagiaan Marco bersama pasangan. Ia pun menyebut pernikahan belum menjadi prioritas utama dalam keluarga saat ini.
Hubungan Marco Menurut Diah
Diah Permatasari menyebut Marco masih berada dalam fase muda untuk memikirkan pernikahan. Usianya yang baru 19 tahun dianggap masih terlalu awal untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Ia menilai pengalaman berpacaran justru penting sebagai bagian dari proses belajar. Karena itu, Diah tidak ingin mengarahkan putranya dengan tekanan berlebihan.
Dalam keterangannya, Diah menekankan bahwa setiap anak memiliki waktu sendiri untuk menentukan masa depannya. Ia percaya hubungan yang sehat akan berjalan baik jika dijalani tanpa paksaan. Sikap tenang itu juga membuatnya tidak tergesa-gesa memberi penilaian terhadap pasangan Marco. Menurutnya, yang perlu dilihat saat ini adalah kenyamanan dan keserasian keduanya.
Meski demikian, Diah tetap memantau perkembangan putranya dari waktu ke waktu. Ia ingin memastikan Marco tumbuh dengan cara yang matang dalam memilih jalan hidupnya. Namun, pemantauan itu tidak diiringi dengan campur tangan yang berlebihan. Diah memilih menjadi ibu yang mendukung, bukan mengendalikan.
Bagi Diah, kebahagiaan anak adalah ukuran utama dalam menyikapi hubungan asmara. Selama Marco merasa senang dan nyaman, ia menganggap hal itu sudah cukup baik. Pandangan tersebut membuat Diah tampak santai menghadapi kisah asmara putranya. Ia bahkan menegaskan bahwa kebahagiaan Marco juga menjadi sumber kebahagiaannya.
Sikap Bebas untuk Marco
Diah memberikan kebebasan kepada Marco untuk menjalani hubungan sesuai pilihannya sendiri. Ia tidak ingin putranya merasa tertekan oleh harapan keluarga. Menurutnya, sikap terbuka justru membuat komunikasi antara ibu dan anak tetap sehat. Dengan begitu, Marco bisa lebih leluasa belajar memahami tanggung jawab dalam hubungan.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya tidak menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk pasangan Marco. Selama sang putra merasa cocok dan bahagia, Diah menilai itu sudah menjadi modal penting. Ia percaya setiap hubungan memiliki dinamika yang berbeda. Oleh karena itu, ia lebih memilih melihat prosesnya secara alami.
Diah menyadari bahwa masa muda adalah waktu yang tepat untuk mengenal karakter pasangan. Dari proses itu, seseorang bisa belajar tentang pengertian, komitmen, dan kedewasaan. Ia menilai pengalaman tersebut jauh lebih penting dibanding terburu-buru melangkah ke pernikahan. Pandangan itu menjadi alasan mengapa ia memilih bersikap rileks.
Dalam kesempatan itu, Diah kembali menegaskan bahwa dirinya tidak ingin memberi beban kepada Marco. Ia ingin sang putra menjalani hubungan dengan hati yang tenang. Baginya, keputusan terbaik akan muncul seiring berjalannya waktu. Karena itu, ia memilih mendampingi tanpa ikut mengatur terlalu jauh.
Pernikahan Belum Jadi Prioritas
Soal pernikahan, Diah mengatakan topik tersebut belum menjadi pembahasan utama di keluarganya. Ia menilai masih banyak waktu untuk memikirkan langkah itu di kemudian hari. Saat ini, fokus utamanya adalah memastikan Marco menjalani masa muda dengan bahagia. Baginya, tidak ada alasan untuk terburu-buru membicarakan masa depan yang masih panjang.
Diah menegaskan bahwa ia akan mempertimbangkan banyak hal jika kelak pembicaraan tentang pernikahan muncul. Namun, untuk sementara, ia memilih menunggu perkembangan hubungan Marco secara natural. Ia percaya waktu akan memberi jawaban terbaik. Sikap ini menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan ketenangan keluarga.
Menurut Diah, hubungan anak dan pasangan akan lebih sehat jika didasarkan pada kecocokan. Ia tidak ingin kebahagiaan Marco terganggu oleh tekanan dari luar. Oleh karena itu, ia memilih memberi dukungan yang bersifat positif. Dengan cara itu, Marco diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Di akhir pernyataannya, Diah menegaskan kembali bahwa kebahagiaan anak adalah kebahagiaan ibu. Ia menyebut selama Marco happy, dirinya pun ikut happy. Pernyataan itu menegaskan pandangannya yang sederhana namun tegas dalam mendukung putranya. Bagi Diah, restu terbaik adalah saat anak menjalani hidup dengan bahagia.
Kebahagiaan Anak Jadi Patokan
Diah Permatasari menempatkan kebahagiaan anak sebagai patokan utama dalam setiap keputusan keluarga. Ia tidak ingin membangun ekspektasi yang justru membuat Marco tertekan. Menurutnya, dukungan keluarga seharusnya memberi ruang, bukan batasan yang memberatkan. Sikap ini membuat hubungannya dengan Marco tetap terasa hangat dan terbuka.
Ia juga memandang hubungan asmara sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dijalani dengan bijak. Selama dilakukan dengan saling memahami, hubungan itu bisa menjadi pelajaran berharga. Diah percaya kedewasaan tumbuh dari pengalaman, bukan dari tuntutan. Karena itu, ia menganggap fase pacaran Marco masih wajar dan perlu dihormati.
Dukungan yang diberikan Diah menunjukkan pendekatan yang realistis sebagai seorang ibu. Ia tidak menolak, tetapi juga tidak memaksakan arah hubungan putranya. Semua keputusan penting akan disesuaikan dengan kesiapan Marco dan situasi yang ada. Dengan pendekatan tersebut, keluarga tetap bisa menjaga keharmonisan.
Pernyataan Diah sekaligus memperlihatkan bahwa ia lebih mengutamakan proses daripada hasil akhir. Baginya, kebahagiaan Marco saat ini jauh lebih penting dibanding pembahasan pernikahan. Pandangan itu menjadi cerminan kedewasaan dalam mendampingi anak yang mulai beranjak dewasa. Pada akhirnya, ia ingin Marco menjalani hidup dengan tenang, bahagia, dan bertanggung jawab.
