Profesi detektif kerap dibayangkan seperti di film dan serial televisi, lengkap dengan kewenangan hukum dan akses data rahasia. Namun, Detektif Jubun menegaskan bahwa realitas profesi itu di Indonesia sangat berbeda. Ia menyampaikan penjelasan tersebut saat menjadi bintang tamu dalam podcast YouTube milik pengusaha sekaligus figur publik Grace Tahir.
Menurut Jubun, istilah detektif di Indonesia pada dasarnya hanya sebatas penyebutan. Dalam praktiknya, ia lebih tepat disebut sebagai private investigator yang bekerja tanpa kewenangan layaknya aparat penegak hukum. Ia juga menjelaskan bahwa profesi itu dapat dijalankan siapa saja, selama memiliki kemampuan investigasi dan jaringan yang memadai.
Realitas Detektif di Indonesia
Jubun menegaskan bahwa kata detektif di Indonesia tidak memiliki makna hukum yang sama seperti dalam film. Istilah tersebut lebih banyak dipakai untuk menggambarkan pekerjaan investigasi secara umum. Karena itu, publik kerap salah memahami ruang kerja seorang investigator.
Ia menyebut dirinya tidak memiliki akses khusus terhadap data rahasia atau kewenangan penyidikan resmi. Semua informasi yang dihimpun berasal dari sumber yang tersedia secara legal. Pendekatan itu menjadi pembeda utama antara investigator swasta dan aparat penegak hukum.
Dalam penuturannya, profesi ini berangkat dari kebutuhan masyarakat yang ingin mencari kepastian atas suatu persoalan. Mulai dari urusan rumah tangga hingga pencarian orang hilang, permintaan datang dari berbagai latar belakang. Situasi itu membuat pekerjaan investigator semakin relevan di tengah kehidupan modern.
Meski begitu, Jubun menekankan bahwa profesi ini tetap harus dijalankan dengan etika yang kuat. Ia tidak ingin pekerjaannya disalahartikan sebagai jalan pintas untuk melanggar privasi orang lain. Menurut dia, kepercayaan klien justru menjadi fondasi utama dalam setiap kasus.
Kasus Perselingkuhan Paling Dominan
Dari berbagai permintaan yang masuk, kasus perselingkuhan menjadi yang paling sering ditangani Jubun. Mayoritas klien yang datang adalah perempuan yang sudah memiliki kecurigaan sejak awal. Mereka umumnya mencari bukti yang lebih kuat sebelum mengambil keputusan.
Jubun menjelaskan bahwa klien jarang datang tanpa pegangan sama sekali. Sebagian besar sudah memiliki potongan informasi, tetapi masih membutuhkan verifikasi lapangan. Foto, video, atau bukti momentum sering menjadi kebutuhan utama mereka.
Menurutnya, motif klien pun berbeda-beda, ada yang ingin memastikan dugaan, ada pula yang menyiapkan langkah konfrontasi. Dalam sejumlah kasus, bukti yang terkumpul juga dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk pembicaraan keluarga. Karena itu, proses investigasi tidak hanya soal pengungkapan fakta, tetapi juga ketepatan waktu.
Ia menyebut perkembangan kasus rumah tangga turut dipengaruhi oleh perubahan pola komunikasi masyarakat. Hubungan yang berawal dari media sosial kini semakin mudah terbentuk, tetapi juga rentan memunculkan masalah. Kondisi tersebut membuat jasa investigator semakin dicari dalam beberapa tahun terakhir.
Teknologi Bantu Detektif
Dalam menjalankan tugas, Jubun memadukan teknik digital dengan cara konvensional di lapangan. Menurut dia, sekitar 90 persen proses awal pencarian memanfaatkan internet. Namun, ia menegaskan bahwa metode yang digunakan tetap berada dalam koridor legal.
Ia memastikan timnya tidak melakukan peretasan atau membuka data secara ilegal. Informasi dikumpulkan dari data yang tersedia di ruang publik, lalu dianalisis dengan kreativitas dan ketelitian. Cara ini dianggap efektif untuk memetakan kebiasaan, relasi, dan jejak target.
Selain penelusuran digital, penyamaran dan pengintaian lapangan juga tetap digunakan. Tim bekerja untuk memperkuat informasi yang diperoleh dari internet dengan bukti langsung. Kombinasi dua metode itu membantu memastikan akurasi hasil investigasi.
Menurut Jubun, teknologi justru memperluas kemampuan seorang private investigator. Media sosial, jejak digital, dan pola komunikasi menjadi sumber informasi yang sangat penting. Karena itu, kemampuan membaca data kini menjadi modal utama dalam pekerjaan investigasi.
Batasan Detektif dan Etika
Meski jasa investigasi terus berkembang, Jubun menegaskan bahwa dirinya memiliki batasan dalam menerima klien. Ia menolak permintaan yang memiliki niat buruk atau berpotensi disalahgunakan. Contohnya, kasus yang bertujuan mengambil anak dengan cara tidak benar langsung ditolak.
Bagi Jubun, menjaga kerahasiaan klien adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Setiap informasi yang masuk harus diperlakukan secara hati-hati. Kepercayaan menjadi aset paling penting dalam hubungan antara investigator dan klien.
Ia juga mengaku tidak menangani kasus kriminal berat yang menjadi kewenangan aparat penegak hukum. Fokus pekerjaannya berada pada pencarian informasi, penelusuran orang hilang, dan penanganan love scam. Batas itu dibuat agar pekerjaan tetap profesional dan tidak melanggar aturan.
Selain mengungkap fakta, Jubun kerap memberi pendampingan emosional kepada klien yang menghadapi konflik rumah tangga. Ia mendorong penyelesaian yang mengarah pada pembinaan dan pemulihan, bukan langsung perpisahan. Pendekatan ini membuat perannya lebih luas daripada sekadar pencari bukti.
