Desa Sukamantri Bogor Kembangkan Ekonomi dari Tanaman Hias

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 09:48 WIB 6
Desa Sukamantri Bogor Kembangkan Ekonomi dari Tanaman Hias

Desa Sukamantri di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menunjukkan bahwa desa di lereng perbukitan pun dapat menggerakkan ekonomi secara mandiri. Berbekal komoditas tanaman hias, desa seluas 638 hektare itu mampu menembus pasar ekspor dan menarik perhatian nasional.

Perjalanan menuju desa yang berdiri sejak 1978 itu memakan waktu sekitar 30 menit dari Stasiun Bogor dalam kondisi lalu lintas lancar. Saat dikunjungi pada Kamis, 21 Mei 2026, kawasan desa terlihat aktif melayani warga, mengembangkan usaha, dan memperkuat sentra tanaman hias sebagai unggulan utama.

Ekonomi Desa Sukamantri

Desa Sukamantri tumbuh di wilayah perbukitan dan kaki Gunung Salak, sehingga memiliki karakter ekonomi yang khas. Potensi pertanian dan usaha warga berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap produk tanaman hias.

Kantor desa menjadi titik awal untuk melihat aktivitas pelayanan dan pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Pada jam kerja, aparatur desa tampak sibuk melayani warga dan tamu yang datang untuk melihat langsung perkembangan desa.

Jarak dari kantor desa ke sentra tanaman hias sekitar 1 hingga 1,5 kilometer. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dalam waktu sekitar 5 sampai 10 menit.

Infrastruktur jalan di desa ini juga tergolong rapi dan memudahkan distribusi hasil usaha warga. Kondisi tersebut mendukung kelancaran aktivitas ekonomi, terutama bagi pelaku usaha yang mengandalkan mobilitas cepat.

Tanaman Hias Desa Sukamantri

Tanaman hias menjadi komoditas unggulan yang mengangkat nama Desa Sukamantri hingga dikenal luas. Anthurium Kuping Gajah, Philodendron, dan Aglaonema menjadi jenis yang mudah dijumpai di sentra pembibitan maupun gerai penjualan.

Warga setempat memang sudah lama bergerak di bidang tanaman hias. Namun, lonjakan penjualan mulai terasa pada 2020 ketika pandemi Covid-19 membuat minat masyarakat terhadap tanaman hias meningkat tajam.

Momentum itu dimanfaatkan oleh BUMDes Bersama Muda Sejahtera untuk memperkuat rantai usaha warga. Para petani mendapat pelatihan budidaya agar kualitas tanaman, teknik perawatan, dan kesiapan pasar mereka semakin baik.

Menurut Kaur Keuangan Desa Sukamantri, Sudrajat, pelatihan didukung dengan menghadirkan narasumber agar petani bisa belajar langsung. Ia menyebut para peserta kini telah lebih mandiri dalam mengelola usahanya.

Program Desa BRILian

Jejak ekspor tanaman hias membuat Desa Sukamantri dilirik mengikuti program Desa BRILian dari BRI. Program ini dirancang untuk memberdayakan desa unggulan agar menjadi percontohan dalam pengembangan ekonomi pedesaan.

Kaur TU dan Umum Desa Sukamantri, Nur Amalia, mengatakan desa tersebut sebenarnya sudah melakukan ekspor tanaman hias sebelum masuk program. Meski begitu, keikutsertaan dalam Desa BRILian memberi nilai tambah bagi pengembangan usaha yang telah berjalan.

Sudrajat menjelaskan, BRI memiliki proses penilaian tersendiri sebelum sebuah desa ditetapkan sebagai bagian dari Desa BRILian. Tujuannya adalah mendongkrak potensi yang sudah ada, lalu memperluas manfaatnya bagi masyarakat.

Dalam konteks Sukamantri, potensi terbesar yang dinilai menonjol adalah ekspor tanaman hias. Program ini membantu desa yang sebelumnya lebih dikenal di lingkup terbatas, kemudian naik kelas ke tingkat nasional.

Dampak Bagi Warga

Dampak program Desa BRILian dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan petani di Desa Sukamantri. Bantuan dan pendampingan membuat potensi desa lebih tereksplorasi serta lebih mudah diperkenalkan ke luar daerah.

Sudrajat menyebut reward dari program tersebut dimanfaatkan untuk menambah modal pengembangan usaha yang ada di BUMDes. Dana itu langsung masuk ke rekening BUMDes sehingga bisa segera dipakai untuk kebutuhan penguatan usaha.

Selain tanaman hias, warga Desa Sukamantri juga memiliki beragam usaha lain yang menopang ekonomi lokal. Usaha tersebut meliputi pabrik tahu, peternakan kambing, agen gas, agen BRILink, hingga ayam petelur.

Seorang pekerja di sentra tanaman hias, Jaelani, mengatakan bantuan dari BUMDes sangat membantu, terutama pada pengadaan perlengkapan budidaya. Ia menunjuk jaring paranet sebagai salah satu dukungan yang dirasakan nyata oleh petani.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!