Daya Beli Melemah, Trafik Mal Jakarta Turun 15-20 Persen

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 18:03 WIB 5
Daya Beli Melemah, Trafik Mal Jakarta Turun 15-20 Persen

Nilai tukar dolar Amerika Serikat yang terus menguat terhadap rupiah ikut menekan daya beli masyarakat, termasuk para pekerja kantoran di Jakarta. Di tengah kenaikan harga barang dan jasa, banyak orang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, mengatakan sebagian pekerja mulai mengurangi frekuensi makan dan berbelanja di mal. Kondisi itu membuat trafik pengunjung di pusat perbelanjaan Jakarta turun pada hari kerja, meski akhir pekan masih terjaga.

Daya Beli di Mal Melemah

Ellen menyebut pelemahan daya beli terasa nyata di pusat belanja, terutama pada jam makan siang. Menurut dia, banyak karyawan yang biasanya makan di mal kini memilih membawa bekal dari rumah.

Perubahan perilaku itu membuat pengeluaran harian masyarakat menjadi lebih terkendali. Namun, dampaknya langsung terasa pada kunjungan ke tenant makanan dan minuman di pusat perbelanjaan.

“Yang biasanya kalau bekerja lima hari, sekarang mungkin cuma dua hari makan di pusat belanja,” kata Ellen dalam konferensi pers Festival Jakarta Great Sale 2026, Rabu (20/5/2026). Ia menambahkan, kondisi tersebut merupakan respons wajar terhadap kenaikan harga yang terjadi di masyarakat.

Rupiah dan Harga Naik

Ellen menyoroti nilai tukar dolar AS yang disebut sudah berada di kisaran Rp17.000. Ia berharap rupiah tidak menembus level Rp18.000 karena tekanan itu berpotensi memperburuk kondisi harga di dalam negeri.

Menurutnya, penguatan dolar berdampak pada kenaikan biaya barang dan jasa yang dirasakan masyarakat luas. Situasi ini membuat banyak keluarga harus menyusun ulang prioritas belanja agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi.

Di tengah tekanan tersebut, gaji masyarakat disebut cenderung stagnan dengan kenaikan yang sangat terbatas setiap tahun. Kesenjangan antara kenaikan biaya hidup dan pendapatan menjadi alasan utama masyarakat semakin berhemat.

Trafik Weekdays Turun

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pengunjung pusat perbelanjaan pada hari kerja turun sekitar 15 hingga 20 persen. Penurunan itu terutama terjadi pada kelompok pekerja kantoran yang mengurangi aktivitas makan siang di mal.

Ellen menjelaskan, fenomena tersebut tidak terjadi merata sepanjang pekan. Pada hari biasa, kunjungan melemah, tetapi situasinya berbeda saat akhir pekan tiba.

Menurut dia, kondisi itu menunjukkan pola belanja masyarakat sedang berubah mengikuti tekanan ekonomi. Pusat perbelanjaan kini lebih bergantung pada kunjungan keluarga pada Sabtu dan Minggu.

Weekend Masih Menarik

Berbeda dengan hari kerja, trafik pusat belanja pada akhir pekan disebut tetap stabil bahkan cenderung meningkat. Kunjungan keluarga menjadi penopang utama ramainya mal di Jakarta saat libur.

Ellen menilai pusat belanja masih memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak. Jika anak sudah menyukai suasana mal, orang tua biasanya akan kembali datang bersama keluarga.

Ia menekankan bahwa hiburan untuk anak menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kunjungan. “Anak-anak itu juga perlu di-entertain,” ujarnya, menandai bahwa mal masih punya modal untuk bertahan di tengah tekanan daya beli.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!