Dari Buruh Pabrik, Aisah Sukses Jual Jajanan Betawi

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 28 Mei 2026 08:06 WIB 2
Dari Buruh Pabrik, Aisah Sukses Jual Jajanan Betawi

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha sampingan untuk menambah penghasilan pada 2018. Dari jualan keripik pedas, usahanya kemudian berubah arah dan berkembang menjadi produsen jajanan jadul khas Betawi dengan omzet jutaan rupiah per bulan.

Bisnis yang dipatenkan dengan nama Betawi Punya Gaye pada 2020 itu lahir dari kebutuhan bertahan di tengah perubahan pasar dan pandemi. Berkat ketekunan, keberanian beralih usaha, serta pendampingan dari program kewirausahaan, Aisah kini dikenal sebagai pelaku UMKM yang sukses membangun merek lokal.

Perjalanan usaha Aisah

Aisah mulai berjualan saat masih bekerja di pabrik spidol. Saat itu, ia hanya ingin memiliki pemasukan tambahan dari usaha kecil-kecilan.

Ia membawa keripik pedas ke tempat kerja, lalu menawarkannya kepada rekan kerja. Sebagian produk juga dititipkan ke warung sekitar rumah dan lingkungan pabrik.

Hasil penjualan pada masa awal mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Angka itu menjadi modal penting untuk melihat potensi usaha yang ia jalankan.

Namun, usaha keripik tersebut kemudian tersendat karena banyak warung tutup saat pandemi COVID-19. Kondisi itu membuat penjualan turun dan Aisah harus memikirkan langkah baru.

Berubah ke jajanan Betawi

Alih-alih berhenti, Aisah memilih beralih ke jajanan khas Betawi. Ia kemudian memproduksi kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang.

Keputusan itu diambil setelah ia menilai produk lama kurang bertahan di pasar yang berubah. Ia melihat jajanan tradisional memiliki peluang lebih besar karena punya ciri khas dan pasar tersendiri.

Aisah juga memutuskan berhenti dari pekerjaannya di pabrik setelah hampir 20 tahun mengabdi. Menurutnya, sudah waktunya fokus penuh pada usaha yang sedang tumbuh.

Langkah tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Dari buruh pabrik, ia bertransformasi menjadi pelaku usaha yang lebih mandiri.

Nama dan identitas merek

Pada 2020, Aisah mulai serius menekuni usahanya dengan bergabung ke Jakpreneur. Ia memanfaatkan waktu luang untuk memperkuat pengetahuan bisnis dan memperjelas identitas mereknya.

Ia juga mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan itu membantunya memahami pentingnya perlindungan merek dalam usaha.

Awalnya, usahanya bernama Camilan 19. Namun, nama tersebut dinilai terlalu umum dan kurang kuat secara branding.

Setelah mendapat arahan, ia memilih nama Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang. Nama itu sekaligus menjadi penguat citra produk yang dekat dengan budaya Betawi.

Omzet dan dukungan pelatihan

Dari usaha yang terus berkembang, Aisah kini mampu meraih omzet jutaan rupiah setiap bulan. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa produk tradisional masih memiliki pasar yang menjanjikan.

Ia mengandalkan resep yang diracik secara mandiri hingga menemukan rasa yang pas. Pengalaman sejak kecil membantu dirinya memahami karakter kue dan camilan yang diminati konsumen.

Aisah mengaku pernah sering membantu orang tua membuat kue saat masih kecil. Modal pengalaman itu membuatnya lebih percaya diri saat menekuni bisnis kuliner rumahan.

Pelatihan dari Rumah BUMN BRI turut memperkuat kemampuan usaha yang ia bangun. Dukungan itu membantu Aisah menjaga konsistensi produksi, pemasaran, dan pengembangan merek.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!