Daging dan Jeroan Kurban Sebaiknya Dipisahkan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 01:55 WIB 3
Daging dan Jeroan Kurban Sebaiknya Dipisahkan

Hari Raya Idul Adha identik dengan pembagian daging kurban dalam jumlah besar, namun cara penanganannya kerap luput dari perhatian. Kebiasaan mencampur daging dan jeroan dalam satu wadah dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri. Karena itu, pemisahan sejak awal menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan pangan.

Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementerian Pertanian, drh Ira Firgorita, menegaskan daging, jeroan merah, dan jeroan hijau sebaiknya ditempatkan dalam wadah berbeda. Imbauan itu disampaikan dalam Webinar Paman Kece Seri 6: Mengolah Daging Kurban yang Aman yang digelar Badan Pengawas Obat dan Makanan pada Kamis, 21 Mei 2026. Menurut dia, pemisahan ini perlu dilakukan sejak proses distribusi agar mutu daging tetap terjaga.

Daging Kurban Perlu Dipisahkan

Daging kurban dan jeroan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga penanganannya tidak bisa disamakan. Jeroan, terutama yang berasal dari saluran pencernaan hewan, lebih rentan membawa bakteri. Jika disatukan, risiko penyebaran kuman ke daging bersih menjadi lebih besar.

Drh Ira menjelaskan bahwa pemisahan tidak hanya berlaku antara daging dan jeroan, tetapi juga antarjenis jeroan. Jeroan merah dan jeroan hijau idealnya tidak ditempatkan dalam satu wadah. Langkah sederhana ini membantu mencegah kontaminasi silang yang bisa terjadi saat distribusi.

Dalam praktiknya, banyak warga memilih wadah atau kantong yang sama demi alasan kepraktisan. Namun, cara tersebut justru berpotensi menurunkan keamanan pangan pada daging kurban. Kondisi lembap dan bercampurnya cairan dari jeroan dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.

Karena itu, panitia pembagian kurban disarankan menyiapkan wadah terpisah sejak awal. Setiap jenis bahan pangan sebaiknya diberi perlakuan yang sesuai agar kualitasnya tetap baik. Dengan begitu, daging yang diterima masyarakat bisa diolah lebih aman.

Risiko Jeroan Hijau

Jeroan hijau adalah istilah untuk organ yang berhubungan langsung dengan sistem pencernaan hewan, seperti usus dan babat. Bagian ini lebih mudah terpapar sisa makanan dan kotoran di dalam tubuh hewan. Akibatnya, potensi kontaminasi bakterinya relatif lebih tinggi dibandingkan daging biasa.

Karena karakteristik itu, jeroan hijau memerlukan penanganan yang lebih hati-hati sejak awal. Pencucian yang kurang tepat dapat membuat kotoran dan bakteri justru menyebar ke permukaan lain. Situasi ini berisiko menurunkan kebersihan bahan pangan yang dibagikan.

Drh Ira menyarankan jeroan hijau direbus terlebih dahulu sebelum diberikan kepada masyarakat. Perebusan dapat membantu menurunkan risiko bakteri yang masih menempel pada permukaan jeroan. Proses ini menjadi langkah tambahan untuk meningkatkan keamanan konsumsi.

Selain itu, jeroan hijau tidak sebaiknya dicampur dengan daging segar dalam satu tempat penyimpanan. Cairan dari jeroan dapat berpindah ke daging dan memicu kontaminasi silang. Jika dibiarkan, mutu daging akan menurun dan berpotensi membahayakan kesehatan.

Distribusi yang Lebih Aman

Penanganan daging kurban sebaiknya dimulai dari proses pemotongan hingga pembagian kepada masyarakat. Setiap tahap membutuhkan kebersihan alat dan wadah yang memadai. Kebiasaan kecil yang tertib dapat berdampak besar pada keamanan pangan.

Panitia kurban dianjurkan menggunakan wadah berbeda untuk daging, jeroan merah, dan jeroan hijau. Pemisahan ini memudahkan proses distribusi sekaligus mengurangi risiko pencemaran silang. Langkah tersebut juga membantu masyarakat mengenali jenis bahan yang diterima.

Setelah dibagikan, daging dan jeroan tetap perlu segera disimpan dengan benar di rumah. Penyimpanan yang tidak terpisah dapat mempercepat kerusakan bahan pangan. Suhu dan kebersihan tempat simpan juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.

Masyarakat diimbau untuk tidak hanya fokus pada jumlah daging yang diterima, tetapi juga pada cara pengelolaannya. Penanganan yang tepat akan menjaga kualitas gizi dan keamanan bahan pangan kurban. Dengan begitu, manfaat ibadah kurban dapat dirasakan secara lebih optimal.

Peran Konsumen Di Rumah

Setelah menerima daging kurban, masyarakat perlu segera memilah dan membersihkan bahan pangan sesuai jenisnya. Daging, jeroan merah, dan jeroan hijau sebaiknya tidak disimpan bersama. Kebiasaan ini penting untuk mencegah perpindahan bakteri antarbagian.

Peralatan dapur yang digunakan untuk mengolah jeroan juga sebaiknya dipisahkan dari alat untuk daging segar. Pisau, talenan, dan wadah perlu dicuci bersih setelah dipakai. Dengan cara itu, risiko kontaminasi silang bisa ditekan sejak di rumah.

Pengolahan yang higienis akan membantu menjaga kualitas sajian kurban bagi keluarga maupun tetangga. Daging yang aman diolah akan menghasilkan makanan yang lebih layak konsumsi. Hal ini sejalan dengan tujuan menjaga kesehatan masyarakat setelah pembagian kurban.

Anjuran pemisahan daging dan jeroan menjadi pengingat bahwa keamanan pangan dimulai dari kebiasaan sederhana. Langkah kecil seperti memisahkan wadah dapat mencegah masalah yang lebih besar. Dalam konteks Idul Adha, kedisiplinan tersebut menjadi bagian dari kepedulian terhadap sesama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!