D2D Jadi Peluang Baru Industri Satelit Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 01 Juni 2026 08:34 WIB 2
D2D Jadi Peluang Baru Industri Satelit Indonesia

Teknologi direct-to-device atau D2D mulai menjadi perbincangan global karena dinilai mampu menghubungkan ponsel dan perangkat sensor langsung ke satelit. Asosiasi Satelit Indonesia menilai perkembangan ini membuka peluang besar bagi industri nasional, meski implementasinya masih menghadapi tantangan regulasi dan kedaulatan data.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia, Rusdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan D2D terbagi ke dalam dua kategori utama, yakni koneksi langsung ke perangkat genggam dan koneksi ke sensor atau direct IoT. Ia menyampaikan hal itu di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026, saat menjelaskan arah perkembangan teknologi satelit yang kian strategis.

Direct to Device Makin Dekat

Rusdianto menjelaskan, direct-to-device memungkinkan ponsel terhubung langsung ke jaringan satelit tanpa perlu infrastruktur tambahan seperti BTS. Skema ini dinilai relevan untuk memperluas konektivitas di wilayah yang belum terjangkau jaringan terestrial.

Selain ponsel, perangkat sensor di berbagai sektor juga dapat terhubung langsung ke satelit untuk mengirim data secara real time. Menurut ASSI, potensi ini besar untuk sektor maritim, industri, hingga pemantauan lingkungan.

Pada model direct IoT, sensor tidak lagi harus melalui pengumpul data sebelum dikirim ke satelit. Perubahan itu dinilai akan mempercepat alur transmisi, sekaligus meningkatkan efisiensi pengiriman informasi dari lapangan.

Regulasi Direct to Device

Meski potensinya besar, penerapan D2D di Indonesia masih menunggu kejelasan regulasi dari pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital saat ini tengah mengkaji model operasional, penggunaan spektrum, dan aspek kepatuhan teknis.

Saat ini, layanan D2D dimungkinkan menggunakan spektrum Mobile Satellite Service atau MSS. Namun, bandwidth yang tersedia masih terbatas untuk mendukung layanan berskala luas.

Di tingkat global, International Telecommunication Union masih membahas tambahan alokasi frekuensi untuk teknologi ini. Jika pembahasan berjalan lancar, perluasan spektrum diperkirakan baru terealisasi pada akhir 2027 atau awal 2028.

Model Operasi Direct to Device

ASSI menjelaskan ada dua pendekatan teknologi dalam D2D, yakni model transparan dan model regeneratif. Model transparan memanfaatkan jaringan seluler yang sudah ada, sedangkan model regeneratif membuat satelit berfungsi seperti operator seluler dengan jaringan inti sendiri.

Di Indonesia, skema operasionalnya masih dikaji apakah akan dijalankan oleh operator seluler atau oleh satelit. Meski demikian, ASSI menilai model transparan lebih mungkin diterapkan pada tahap awal.

Rusdianto menyebut satelit kemungkinan besar akan menjadi perpanjangan dari BTS dalam implementasi awal di Indonesia. Pendekatan itu dinilai lebih realistis karena dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia.

Kedaulatan Data Direct to Device

Selain regulasi, ASSI menekankan pentingnya kedaulatan dalam penerapan D2D di Indonesia. Idealnya, seluruh infrastruktur satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri agar kepentingan nasional tetap terjaga.

Namun, pengembangan infrastruktur tersebut membutuhkan waktu dan investasi yang sangat besar. Karena itu, ASSI mendorong agar data dari layanan D2D tetap landing di Indonesia meski infrastruktur satelit melibatkan pihak asing.

Rusdianto menegaskan bahwa data konsumen harus tetap berada di dalam negeri demi menjaga kedaulatan digital. Ia menambahkan, perkembangan D2D juga harus diantisipasi karena persaingan global di sektor satelit semakin intens.

Selain Starlink, sejumlah pemain seperti Amazon dan perusahaan asal China juga tengah mengembangkan konstelasi satelit LEO dalam jumlah besar. Kondisi itu membuat industri satelit Indonesia dituntut bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam adopsi teknologi baru.

ASSI menilai pemerintah perlu sigap membaca perubahan industri satelit global, terutama pada teknologi direct to device. Kecepatan adaptasi akan menjadi penentu apakah Indonesia hanya menjadi pasar atau ikut mengambil peran dalam ekosistem satelit masa depan.

Dengan kesiapan regulasi, spektrum, dan perlindungan data, teknologi D2D berpeluang menjadi penggerak baru konektivitas nasional. Jika dikelola dengan tepat, inovasi ini dapat membuka akses komunikasi yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta industri antariksa global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!