Curhatan pemilik brand hijab lokal Dyalodya viral di media sosial setelah mengungkap kerugian besar akibat tumpukan paket retur dalam sepekan. Unggahan itu menyoroti persoalan sistem Cash on Delivery atau COD yang dinilai rawan disalahgunakan oleh oknum pembeli maupun pihak tak bertanggung jawab.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram @dyalodya, terlihat paket berlabel COD yang gagal terkirim dan dikembalikan oleh kurir. Pemilik usaha menilai praktik tersebut bukan hanya merugikan secara materi, tetapi juga mengganggu operasional dan berpotensi merusak reputasi merek.
Dampak COD pada Dyalodya
Pemilik Dyalodya, Siti Zahra, menjelaskan bahwa usahanya yang berdiri sejak 2017 tengah menghadapi tekanan berat dari tingginya paket retur COD. Ia menyebut, dalam satu minggu, jumlah paket yang kembali cukup untuk menimbulkan kerugian yang tidak kecil. Menurut dia, kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem COD masih rentan disalahgunakan. Situasi tersebut membuat proses pengiriman menjadi jauh lebih rumit dan memakan biaya tambahan.
Zahra mengaku video yang ia unggah dibuat sebagai bentuk edukasi kepada pelanggan dan publik. Ia ingin menjawab keluhan dari sejumlah orang yang mengaku tidak pernah memesan produk Dyalodya, namun menerima paket. Di sisi lain, ia juga ingin menunjukkan bahwa pelaku usaha sering menjadi pihak yang paling terdampak ketika ada penyalahgunaan sistem pembayaran. Karena itu, ia memilih membuka persoalan ini ke publik agar lebih banyak orang waspada.
Dalam narasi videonya, Zahra memperlihatkan tumpukan paket yang sebagian besar berstatus COD dan kembali tanpa diterima pelanggan. Ia menegaskan, tidak semua retur otomatis berarti kesalahan pembeli, tetapi kasus yang terjadi berulang membuat usaha semakin berat. Paket yang sudah diproses, dikemas, dan dikirim tetap berujung kembali ke gudang. Akibatnya, biaya operasional terus keluar tanpa menghasilkan penjualan.
Modus Paket Retur Mencurigakan
Zahra juga membongkar adanya paket retur yang diduga menjadi bagian dari modus penipuan. Ia menunjukkan isi paket yang sudah terbuka dan tampak diganti dengan barang tidak layak, seperti celana kolor bekas. Temuan itu membuatnya semakin yakin bahwa ada praktik yang tidak beres dalam alur pengiriman. Menurut dia, kasus seperti ini tidak bisa dianggap sepele karena dampaknya langsung terasa pada bisnis kecil.
Ia menyebut ada paket yang kondisi kemasannya rusak dan isinya tidak lagi sesuai dengan barang yang dikirim. Dalam video itu, Zahra menahan emosi saat memperlihatkan kerusakan dan isi paket yang telah ditukar. Ia menilai tindakan tersebut bukan sekadar retur biasa, melainkan bentuk penipuan yang merugikan penjual. Kerugian semacam ini, kata dia, juga menyita waktu dan tenaga tim operasional.
Lebih jauh, Zahra menilai pola penipuan yang terjadi tampak terorganisasi. Ia menduga ada pihak-pihak tertentu yang memahami celah dalam sistem pengiriman COD. Dengan memanfaatkan kelengahan di lapangan, paket dapat dikirim, ditolak, lalu dikembalikan dalam kondisi tidak semestinya. Karena itu, ia meminta pelaku usaha lain untuk lebih berhati-hati saat menjalankan penjualan dengan metode serupa.
Risiko Penyalahgunaan Alamat
Selain retur mencurigakan, Zahra mengungkap adanya modus lain yang dinilai jauh lebih berbahaya. Ia mengatakan ada pihak yang menggunakan alamat Dyalodya untuk mengirim paket dengan identitas pengirim yang tidak jelas. Menurut dia, alamat pelanggan atau toko bisa saja dipakai untuk kepentingan yang tidak sah. Kondisi ini berisiko menimbulkan kebingungan sekaligus merusak kepercayaan konsumen.
Zahra menjelaskan, paket yang dikirim dalam modus tersebut bisa saja diterima orang yang tidak pernah memesan barang. Hal ini membuat penerima paket berada dalam posisi yang dirugikan karena harus menghadapi kiriman yang tidak dikenalnya. Ia menilai praktik itu dapat mencoreng nama baik toko apabila pelanggan mengira Dyalodya sebagai pengirimnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya verifikasi sebelum menerima paket COD.
Dalam video itu, Zahra bahkan mengingatkan masyarakat agar tidak menerima paket jika merasa tidak pernah melakukan pemesanan. Ia menegaskan, kewaspadaan perlu ditingkatkan agar alamat pribadi tidak disalahgunakan oleh oknum tertentu. Menurut dia, masyarakat perlu segera memastikan asal paket sebelum membayar atau membuka kiriman. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat mengurangi risiko menjadi korban modus serupa.
Respons dan Edukasi Konsumen
Unggahan curahan hati Zahra mendapat perhatian luas dari warganet dan telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali. Kolom komentar dipenuhi respons dari pengguna media sosial yang mengaku pernah mengalami kejadian serupa. Banyak di antara mereka menyoroti kemungkinan kebocoran data pelanggan dari kurir maupun pihak internal. Diskusi itu menunjukkan bahwa persoalan COD bukan hanya dialami satu pelaku usaha.
Sejumlah warganet juga menyarankan agar sistem COD dinonaktifkan sementara untuk mengurangi risiko kerugian. Mereka menilai praktik penipuan dan penyalahgunaan data semakin sering terjadi, sehingga pelaku usaha perlu mengambil langkah pencegahan. Di sisi lain, ada pula yang menekankan pentingnya pengawasan pada data pribadi dan alamat pengiriman. Respons tersebut memperlihatkan tingginya kekhawatiran publik terhadap keamanan transaksi daring.
Bagi pelaku UMKM, kasus yang dialami Dyalodya menjadi pengingat bahwa layanan COD perlu dikelola dengan lebih hati-hati. Transparansi data, verifikasi pesanan, dan koordinasi dengan kurir menjadi bagian penting untuk menekan risiko. Konsumen pun diimbau untuk hanya menerima paket yang benar-benar dipesan agar tidak ikut terdampak. Dengan kewaspadaan bersama, potensi kerugian akibat penyalahgunaan COD diharapkan dapat ditekan.
