Chiki Fawzi Pulang, Ayah Sambut Haru Usai Misi Gaza

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 12:07 WIB 2
Chiki Fawzi Pulang, Ayah Sambut Haru Usai Misi Gaza

Chiki Fawzi akhirnya kembali ke Tanah Air setelah menjalani perjalanan kemanusiaan yang penuh risiko dalam upaya menembus blokade Gaza. Kepulangannya pada Selasa, 26 Mei 2026, di Jakarta Selatan, disambut haru oleh sang ayah, musisi senior Ikang Fawzi, yang langsung memeluknya erat.

Di balik pertemuan emosional itu, tersimpan kisah panjang tentang ketegangan, pemantauan dari pusat komando di Istanbul, hingga penangkapan sejumlah relawan yang berlayar menuju Gaza. Chiki menuturkan pengalamannya setelah berbulan-bulan berpindah dari Barcelona ke Turki, sambil menyaksikan langsung dampak keras dari operasi militer di perairan internasional.

Momen haru kepulangan Chiki Fawzi

Ikang Fawzi disebut menjemput langsung putrinya saat tiba di Jakarta. Pelukan erat dan ucapan sederhana, “Welcome home, Ade”, menjadi momen yang paling membekas bagi Chiki.

Chiki mengaku perasaannya saat itu campur aduk karena perjalanan yang ia lalui tidak mudah. Ia merasakan kelegaan sekaligus beban emosional setelah melalui situasi yang menegangkan selama berminggu-minggu.

Kehadiran sang ayah memberi penguatan besar setelah pengalaman panjang di luar negeri. Menurut Chiki, sambutan keluarga menjadi penawar dari tekanan yang ia hadapi selama menjalankan misi kemanusiaan.

Pertemuan itu juga menandai akhir dari masa penuh kecemasan bagi keluarga. Selama misi berlangsung, mereka terus memantau kabar perkembangan situasi di lapangan.

Perjalanan menuju Gaza

Chiki Fawzi terlibat dalam rangkaian perjalanan kemanusiaan yang dimulai dari Barcelona dan berlanjut ke Turki. Ia berpindah dari satu etape ke etape lain untuk mendukung misi bantuan ke Gaza.

Saat sembilan relawan WNI berada di atas kapal, Chiki bertugas memantau situasi dari pusat komando di Istanbul. Posisi itu membuatnya tetap terhubung dengan perkembangan di laut, meski tidak ikut berlayar langsung.

Menurut penuturannya, total ada 11 orang dalam tim Indonesia, termasuk dirinya dan koordinator Uni Maimun. Sembilan relawan yang berada di kapal kemudian dihadang oleh militer Israel di perairan internasional.

Situasi tersebut memicu ketegangan besar karena kapal bantuan dihentikan secara paksa. Peristiwa itu menjadi salah satu titik paling kritis dalam misi yang ia ikuti.

Kesaksian penahanan relawan

Chiki menyaksikan langsung proses intersepsi terhadap kapal-kapal bantuan tersebut dari pusat pemantauan. Ia mengikuti perkembangan penahanan rekan-rekannya dari jarak jauh dengan rasa cemas yang tinggi.

Setelah para relawan dibebaskan, ia menerima berbagai kesaksian yang menggambarkan perlakuan keras selama masa penahanan. Cerita itu memperlihatkan bagaimana intimidasi fisik dialami oleh para aktivis dan jurnalis yang terlibat.

Ia menyebut para relawan dipukuli, disetrum, dan diborgol menggunakan kabel ties yang sangat kencang. Kondisi itu bahkan menyebabkan luka pada tangan sejumlah korban.

Salah satu jurnalis yang dibawanya ke rumah sakit dilaporkan mengalami kondisi serius. Chiki mengatakan jurnalis tersebut sampai kencing darah karena bagian ginjalnya dipukuli berulang kali.

Pesan keberanian Chiki

Di tengah situasi berbahaya itu, Chiki menegaskan bahwa rasa takut terhadap ancaman manusia tidak boleh mengalahkan suara kemanusiaan. Menurut dia, dukungan bagi rakyat Palestina harus terus disuarakan meski risikonya besar.

Ia mengaku lebih takut pada kondisi alam di laut Mediterania daripada pada ancaman militer. Saat kapal miring, para relawan harus mengikat diri dengan karabiner agar tidak terjatuh ke laut.

Meski demikian, Chiki menilai keteguhan sikap jauh lebih penting daripada rasa gentar. Ia menegaskan perlunya membebaskan pikiran dari ketakutan terhadap Israel agar solidaritas kemanusiaan tetap berjalan.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pengalaman di lapangan justru memperkuat keyakinannya. Bagi Chiki, keberanian adalah syarat utama untuk terus menyuarakan keadilan bagi Palestina.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!