CCTV Ungkap Versi Baru Kasus Erin dan Mantan ART

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 19:22 WIB 2
CCTV Ungkap Versi Baru Kasus Erin dan Mantan ART

Kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan Rien Wartia Trigina atau Erin dan mantan asisten rumah tangganya, Herawati, memasuki babak baru setelah tim kuasa hukum membeberkan temuan rekaman CCTV. Bukti visual dari sejumlah kamera di kediaman Erin disebut memperlihatkan situasi yang berbeda dari narasi yang selama ini disampaikan pihak pelapor.

Kuasa hukum Erin menyebut rekaman itu menunjukkan adanya tarikan paksa terhadap kliennya saat perselisihan terjadi di rumah tersebut. Temuan tersebut kini dijadikan dasar pembelaan dan akan ditindaklanjuti secara hukum untuk membuktikan fakta sebenarnya.

CCTV Kasus Erin

Kuasa hukum Erin, Farhanaz Maharani, menyampaikan bahwa hasil penelusuran rekaman CCTV justru memperlihatkan keadaan yang berbalik. Ia menegaskan, tangan kliennya terlihat ditarik secara paksa oleh Herawati untuk keluar dan menemui polisi. Namun, menurutnya, Erin saat itu menolak tindakan tersebut.

Farhanaz mengatakan temuan itu diperoleh setelah timnya mendalami rekaman kamera pengawas yang terpasang di berbagai sudut rumah. Menurut dia, bukti visual tersebut menjadi poin penting dalam membaca ulang rangkaian peristiwa. Pihaknya menilai narasi yang berkembang selama ini perlu diuji dengan fakta yang terekam.

Tim kuasa hukum juga menilai tindakan penarikan paksa tersebut dapat dikategorikan sebagai kekerasan fisik. Mereka menyebut peristiwa itu terjadi di rumah Erin dan dialami langsung oleh klien mereka. Karena itu, bukti CCTV dinilai memiliki peran sentral dalam pembelaan.

Versi Hukum Erin

Adlina Amalia, anggota tim kuasa hukum lainnya, menjelaskan bahwa pihaknya menemukan kontradiksi antara kejadian di lokasi dan pengakuan Herawati di media maupun dalam rapat dengar pendapat. Ia menyebut mantan ART itu sempat berteriak meminta tolong. Namun, pada saat yang sama, Herawati disebut tetap melakukan kontak fisik secara kasar.

Menurut Adlina, pihaknya akan memproses temuan tersebut lebih lanjut sebagai bagian dari langkah hukum. Ia menilai rekaman itu memperlihatkan adanya tindakan menarik tangan Erin secara paksa. Dalam pandangan tim hukum, kondisi itu tidak sejalan dengan tuduhan yang diarahkan kepada klien mereka.

Pernyataan serupa juga disampaikan kuasa hukum lain, Stivany Agusia, yang meminta publik menilai perkara ini secara objektif. Ia mempertanyakan kondisi Herawati setelah insiden, apakah benar mengalami luka berat seperti yang disebutkan sebelumnya. Stivany menilai penilaian yang tergesa-gesa justru dapat berbalik menjadi masalah hukum bagi pelapor.

Pemeriksaan Bukti Rekaman

Tim hukum Erin menegaskan bahwa bukti dari induk recorder CCTV akan menjadi fokus utama dalam pembelaan diri. Mereka menyebut ada 12 titik kamera pengawas yang merekam aktivitas di rumah tersebut. Seluruh rekaman itu akan dianalisis untuk mengurai kronologi kejadian secara utuh.

Menurut mereka, rangkaian rekaman dapat membantu menjawab pertanyaan soal siapa yang memulai kontak fisik dalam insiden tersebut. Karena itu, bukti visual dianggap lebih kuat dibanding asumsi atau potongan cerita yang beredar. Tim kuasa hukum juga ingin memastikan tidak ada informasi yang keluar tanpa dasar fakta.

Selain menyoroti bukti video, pihak Erin juga mengkaji kemungkinan langkah hukum lanjutan. Mereka menilai temuan awal sudah cukup untuk menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara tuduhan dan rekaman yang ada. Proses pembuktian disebut masih akan berjalan dan belum berhenti pada satu temuan saja.

Langkah Lanjutan Erin

Pihak Erin menyatakan akan menempuh proses hukum secara serius untuk melindungi kliennya. Rekaman CCTV diyakini menjadi alat bukti kunci dalam membuktikan apa yang benar-benar terjadi di rumah tersebut. Tim hukum juga berharap penyidik menilai kasus ini secara menyeluruh.

Mereka menegaskan bahwa setiap tuduhan harus didukung bukti yang seimbang dan dapat diverifikasi. Jika rekaman CCTV sesuai dengan analisis awal, posisi Erin disebut memiliki dasar kuat untuk membantah tuduhan penganiayaan. Karena itu, seluruh data visual akan menjadi bagian penting dalam penyidikan berikutnya.

Kasus ini pun menjadi sorotan karena memperlihatkan adanya klaim yang saling bertolak belakang antara pihak Erin dan Herawati. Publik diminta menunggu hasil pemeriksaan resmi agar tidak terjebak pada spekulasi. Kejelasan perkara ini sangat bergantung pada pembacaan bukti dan proses hukum yang berjalan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!