BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telko dan Energi Terbarukan

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 10:52 WIB 5
BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telko dan Energi Terbarukan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti terjadinya saturasi pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia. Di tengah pertumbuhan revenue yang dinilai sangat terbatas, efisiensi biaya energi disebut menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kinerja industri.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr. Moch. Mardi Marta Dinata, menyampaikan hal itu dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, Rabu (20/5/2026). Ia menilai penerapan energi terbarukan pada jaringan telekomunikasi berpeluang membantu operator menekan biaya sekaligus menjaga daya saing.

Revenue Telko Mulai Jenuh

Dr. Mardi mengutip hasil riset PricewaterhouseCoopers (PwC) yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi sangat terbatas. Berdasarkan analisis historical revenue pada 2021 hingga proyeksi 2032, kenaikan pendapatan hanya sekitar 1,2 persen.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat operator harus lebih agresif mencari sumber pendapatan baru. Paket layanan yang menarik dinilai menjadi salah satu cara untuk mendorong penjualan di tengah menurunnya peran layanan legacy.

Layanan telepon dan SMS kini disebut semakin sedikit digunakan oleh pelanggan. Karena itu, operator perlu menyesuaikan strategi bisnis agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar digital.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan organik dari layanan lama tidak lagi cukup untuk menopang revenue. Industri telekomunikasi pun dituntut bergerak lebih efisien dan inovatif.

Biaya Energi Tekan Operasional

Selain mendorong penjualan, optimasi biaya energi menjadi faktor lain yang dinilai penting. Dr. Mardi menyebut energy cost menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya operasional operator telekomunikasi.

Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Besarnya komponen itu membuat efisiensi energi memiliki dampak langsung terhadap margin keuntungan perusahaan.

Dalam pandangannya, penghematan biaya energi dapat menjadi salah satu cara paling realistis untuk memperkuat revenue bersih. Operator yang mampu menekan biaya operasional akan memiliki ruang lebih besar untuk berinvestasi pada layanan baru.

Tekanan biaya juga menjadi tantangan tersendiri bagi jaringan yang tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi geografis membuat kebutuhan pasokan energi tidak selalu mudah dan murah untuk dipenuhi.

Energi Hijau Jadi Opsi

Analisis McKinsey yang dikutip Dr. Mardi menyebut ada empat pendorong utama efisiensi energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Dari seluruh faktor tersebut, ia menilai potensi penghematan terbesar berasal dari penggunaan atau pengadaan energi hijau. Operator dapat memanfaatkan renewable energy untuk mendukung operasional jaringan secara lebih efisien.

Skema itu dapat dilakukan melalui solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, dan sumber energi lain yang sesuai dengan kondisi lokasi site. Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan profil kebutuhan jaringan.

Selain menekan biaya, energi terbarukan juga berpotensi membantu operator mengurangi emisi karbon. Hal ini menjadi nilai tambah di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan industri.

Implementasi Masih Tertahan

Meski peluangnya besar, Dr. Mardi mempertanyakan mengapa energi terbarukan belum diimplementasikan secara luas oleh operator telekomunikasi di Indonesia. Ia mengingat riset terkait isu ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2010.

Pada masa itu, Telkom Indonesia sempat menjalankan pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Namun, hingga kini implementasi menyeluruh di tingkat industri belum terlihat berjalan optimal.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya hambatan yang masih perlu diurai oleh pelaku industri. Hambatan itu bisa berupa aspek teknis, investasi, maupun kesiapan model bisnis.

Jika hambatan tersebut dapat diselesaikan, penerapan renewable energy berpeluang menjadi solusi jangka panjang. Operator telekomunikasi bukan hanya bisa menekan biaya, tetapi juga memperkuat ketahanan energi jaringan mereka.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!