BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telco, Energi Hijau Jadi Solusi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 08:36 WIB 4
BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telco, Energi Hijau Jadi Solusi

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai industri telekomunikasi di Indonesia tengah menghadapi saturasi pendapatan. Kondisi itu membuat operator perlu mencari sumber pertumbuhan baru, termasuk dari efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyampaikan hal itu dalam webinar PODCAST#1 bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026. Ia mengacu pada hasil riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan kenaikan revenue industri telekomunikasi hanya 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032.

Energi operator telco

Dr Mardi menilai operator telekomunikasi harus lebih agresif menggenjot penjualan melalui paket layanan yang menarik. Langkah itu penting karena layanan legacy seperti telepon dan SMS kini semakin jarang digunakan pelanggan.

Menurutnya, pertumbuhan pendapatan dari layanan utama sudah tidak lagi sekuat sebelumnya. Karena itu, operator perlu memperkuat strategi bisnis agar tetap kompetitif di tengah perubahan perilaku pengguna.

Di sisi lain, efisiensi energi menjadi faktor yang tidak kalah penting untuk menjaga margin usaha. Ia menyebut pengendalian biaya energi dapat membantu operator memaksimalkan revenue yang tersedia.

Efisiensi biaya energi

Dr Mardi menjelaskan biaya energi menyumbang sekitar 20 persen dari total operational cost operator telekomunikasi. Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik.

Kondisi itu membuat penghematan energi berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap struktur biaya perusahaan. Operator yang mampu menekan konsumsi energi dinilai memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi bisnis.

Analisis McKinsey yang ia kutip menyebut ada empat pendorong utama pengurangan biaya energi. Empat faktor tersebut adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Potensi energi hijau

Dari empat faktor itu, Dr Mardi menilai peluang penghematan terbesar datang dari pembelian atau produksi energi hijau untuk jaringan telekomunikasi. Pendekatan ini dinilai lebih relevan untuk kebutuhan jangka panjang operator.

Energi terbarukan dapat diterapkan melalui solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, atau sumber lain yang disesuaikan dengan profil lokasi site. Pemilihan teknologi juga perlu mempertimbangkan kondisi geografis dan kebutuhan beban jaringan.

Ia menekankan bahwa penggunaan renewable energy bukan hanya soal efisiensi biaya. Skema ini juga dapat mendukung target keberlanjutan dan menurunkan ketergantungan pada energi fosil.

Hambatan adopsi energi

Meski potensinya besar, implementasi sistem energi terbarukan di jaringan telekomunikasi Indonesia dinilai masih terbatas. Dr Mardi mempertanyakan mengapa operator belum mengadopsinya secara luas, padahal riset terkait sudah dimulai sejak 2010.

Ia mengingat Telkom Indonesia pernah menjalankan pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Namun, hingga kini adopsi menyeluruh di industri belum terlihat berjalan optimal.

Menurutnya, hal itu menunjukkan masih ada hambatan yang perlu diurai oleh operator. Jika kendala tersebut dapat diselesaikan, energi terbarukan berpeluang menjadi solusi strategis bagi efisiensi dan keberlanjutan industri telekomunikasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!