BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telko

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 00:04 WIB 10
BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telko

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi. Kondisi itu membuat efisiensi biaya, terutama pada aspek energi, menjadi langkah penting untuk menjaga profitabilitas industri.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut analisis PricewaterhouseCoopers (PwC) menunjukkan kenaikan pendapatan industri telekomunikasi hanya 1,2 persen pada periode 2021 hingga proyeksi 2032. Menurut dia, operator kini perlu menggenjot penjualan sekaligus menekan biaya energi melalui pemanfaatan energi terbarukan.

Energi Terbarukan Telko

Dr Mardi menyampaikan hal itu dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, pada Rabu, 20 Mei 2026. Ia menilai legacy services seperti telepon dan SMS sudah semakin ditinggalkan sehingga operator harus menawarkan paket yang lebih menarik.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat perusahaan telekomunikasi tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan lama. Operator perlu mencari sumber pendapatan baru sambil menjaga efisiensi operasional agar margin tetap terjaga.

Di sisi lain, biaya energi menjadi komponen yang sangat besar dalam struktur pengeluaran operator. Dr Mardi menyebut porsi energi mencapai sekitar 20 persen dari total biaya operasional, sehingga ruang penghematan dari sektor ini sangat signifikan.

Biaya Operasional Menekan

Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Angka itu menunjukkan bahwa pengelolaan energi memiliki dampak langsung terhadap kesehatan keuangan perusahaan telekomunikasi.

Dr Mardi menilai pengurangan biaya energi dapat menjadi salah satu strategi paling efektif untuk mendukung pertumbuhan revenue. Karena itu, efisiensi tidak hanya penting dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi bisnis.

Ia menjelaskan bahwa penghematan biaya energi akan semakin relevan ketika pertumbuhan pendapatan industri berlangsung lambat. Dalam situasi seperti ini, setiap penurunan beban operasional dapat memberi ruang bagi operator untuk mempertahankan daya saing.

Empat Pendorong Efisiensi

Analisis McKinsey yang dikutip BRIN menyebut ada empat pendorong utama untuk mengurangi biaya energi. Empat faktor itu adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Meski demikian, Dr Mardi menilai potensi penghematan terbesar datang dari pembelian atau produksi energi hijau untuk jaringan telekomunikasi. Skema tersebut dinilai lebih relevan karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik lokasi jaringan.

Ia menyebut operator dapat memanfaatkan panel surya, turbin angin, mikro hidro, hingga energi kinetik, tergantung profil site yang dimiliki. Pendekatan ini dinilai mampu menekan biaya jangka panjang sekaligus mendukung target keberlanjutan.

Hambatan Adopsi Energi

Dr Mardi mempertanyakan lambatnya implementasi sistem energi terbarukan di jaringan telekomunikasi Indonesia. Menurut dia, riset mengenai hal ini sudah dimulai sejak 2010 dan sempat masuk ke tahap uji coba oleh Telkom Indonesia.

Ia mengingat adanya pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera pada masa tersebut. Namun, hingga kini penerapannya belum berjalan secara menyeluruh di industri.

Karena itu, ia menilai masih ada hambatan yang perlu diidentifikasi oleh operator. Jika barrier tersebut dapat diatasi, energi terbarukan berpeluang menjadi solusi strategis untuk menekan biaya dan memperkuat ketahanan bisnis telekomunikasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!