Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menyoroti adanya saturasi pendapatan pada operator telekomunikasi di Indonesia. Kondisi itu dinilai membuat industri seluler perlu mencari sumber efisiensi baru, terutama melalui pemanfaatan energi terbarukan.
Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, mengatakan riset PricewaterhouseCoopers menunjukkan revenue industri telekomunikasi hanya tumbuh 1,2 persen hingga proyeksi 2032. Pernyataan itu ia sampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu (20/5/2026).
Energi Terbarukan Telekomunikasi
Dr Mardi menyebut operator kini harus lebih agresif menggenjot penjualan dengan menawarkan paket yang lebih menarik. Ia menilai pendapatan dari layanan legacy seperti telepon dan SMS sudah semakin kecil kontribusinya terhadap revenue.
Menurut dia, dorongan pertumbuhan penjualan perlu diikuti pengelolaan biaya yang lebih efisien. Salah satu pos yang menjadi perhatian adalah biaya energi yang berpengaruh besar terhadap struktur biaya operasional operator.
Ia menjelaskan bahwa cost of energy mencakup sekitar 20 persen dari total operational cost di industri telekomunikasi. Dari porsi itu, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik.
Karena itu, efisiensi energi disebut menjadi langkah penting untuk menjaga profitabilitas di tengah pertumbuhan pendapatan yang melambat. Tanpa penyesuaian strategi, operator berisiko menghadapi tekanan biaya yang semakin besar.
Peluang Efisiensi Biaya
Analisis McKinsey yang dikutip Dr Mardi menyebut ada empat pendorong utama yang dapat menekan biaya energi. Faktor tersebut meliputi keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.
Dari keempat faktor itu, ia menilai potensi penghematan terbesar berasal dari pembelian atau pembangkitan energi hijau untuk jaringan telekomunikasi. Langkah ini dinilai lebih relevan karena dapat menekan biaya sekaligus mendukung transisi energi bersih.
Penggunaan energi terbarukan dapat disesuaikan dengan kondisi lokasi jaringan, termasuk melalui solar PV, turbin angin, micro hydro, dan teknologi kinetic. Pendekatan tersebut dinilai fleksibel karena dapat diterapkan sesuai profil site masing-masing operator.
Dr Mardi menilai pemanfaatan energi hijau bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga strategi jangka panjang. Di tengah tekanan biaya dan tuntutan keberlanjutan, operator dinilai perlu mulai mengubah model pengelolaan energinya.
Hambatan Implementasi Operator
Meski potensinya besar, Dr Mardi mempertanyakan mengapa operator telekomunikasi di Indonesia belum menerapkan sistem energi terbarukan secara luas. Ia menilai pertanyaan itu penting karena teknologi tersebut bukan lagi hal baru di sektor telekomunikasi.
Ia mengingat bahwa riset mengenai penggunaan energi terbarukan di jaringan sudah dimulai sejak 2010. Saat itu, Telkom Indonesia disebut pernah menjalankan proyek percontohan instalasi renewable energy di Kalimantan dan Sumatera.
Menurut dia, perjalanan yang panjang tanpa implementasi menyeluruh menunjukkan masih adanya hambatan di sisi operator. Hambatan itu bisa berupa kesiapan investasi, skala penerapan, maupun model bisnis yang belum sepenuhnya mendukung.
Dr Mardi menegaskan bahwa jika tantangan tersebut dapat diatasi, peluang efisiensi biaya akan semakin besar. Di saat yang sama, industri telekomunikasi juga dapat memperkuat ketahanan operasional melalui sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Arah Industri Telekomunikasi
Tekanan terhadap revenue membuat operator telekomunikasi harus mencari sumber pertumbuhan baru di luar layanan konvensional. Pada saat yang sama, pengendalian biaya energi menjadi faktor penting untuk menjaga margin usaha.
BRIN menilai transformasi menuju energi terbarukan dapat menjadi jawaban atas dua persoalan sekaligus, yakni efisiensi dan keberlanjutan. Dengan pendekatan itu, operator berpeluang menekan biaya operasional sambil memenuhi tuntutan pengurangan emisi.
Dalam konteks industri yang semakin kompetitif, keputusan investasi energi dinilai tidak bisa lagi ditunda terlalu lama. Strategi yang tepat akan menentukan kemampuan operator mempertahankan kinerja di tengah pasar yang mulai jenuh.
Dr Mardi menekankan bahwa peluang solusi sudah tersedia, baik dari sisi teknologi maupun hasil riset. Tantangan berikutnya adalah keberanian industri untuk mengimplementasikan langkah tersebut secara lebih luas dan konsisten.
