BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telco

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 05:15 WIB 2
BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telco

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menyoroti terjadinya saturasi pendapatan pada operator telekomunikasi di Indonesia. Kondisi ini dinilai membuat industri perlu mencari sumber efisiensi baru agar pertumbuhan tetap terjaga di tengah menurunnya kontribusi layanan lama seperti telepon dan SMS.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan bahwa hasil riset PricewaterhouseCoopers menunjukkan pendapatan industri telekomunikasi hanya tumbuh sekitar 1,2 persen dari 2021 hingga proyeksi 2032. Ia menyampaikan pandangan itu dalam webinar PODCAST#1 bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026.

Energi Terbarukan untuk Telco

Dr Mardi menilai operator kini harus lebih agresif menggenjot penjualan dengan menghadirkan paket yang lebih menarik. Menurutnya, ruang pertumbuhan dari layanan legacy semakin terbatas karena penggunaan telepon dan SMS terus menurun. Dalam situasi seperti itu, perusahaan dituntut mencari sumber pendapatan baru yang lebih adaptif terhadap perilaku pelanggan. Di sisi lain, efisiensi operasional menjadi kunci untuk menjaga margin.

Ia menegaskan bahwa biaya energi memiliki porsi besar dalam struktur operasional operator telekomunikasi. Dari total biaya operasional, energi disebut mencapai sekitar 20 persen. Sekitar 90 persen dari porsi itu digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Kondisi tersebut membuat penghematan energi menjadi isu strategis, bukan sekadar pilihan teknis.

Menurut Dr Mardi, salah satu peluang terbesar ada pada penggunaan energi terbarukan untuk jaringan telekomunikasi. Sumber energi itu dapat berupa panel surya, turbin angin, mikrohidro, atau teknologi lain yang disesuaikan dengan karakter lokasi. Pendekatan ini dinilai mampu menekan biaya sekaligus mendukung keberlanjutan industri. Karena itu, ia menilai pemanfaatan energi hijau layak menjadi prioritas utama.

Pendorong Efisiensi Biaya Energi

Analisis McKinsey yang dikutip Dr Mardi menyebut ada empat pendorong utama yang berpotensi menurunkan biaya energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri. Seluruh faktor itu saling berkaitan dalam menentukan efektivitas strategi energi perusahaan. Namun, tidak semua pendorong memberi dampak yang sama besar.

Dari empat komponen tersebut, Dr Mardi menilai potensi penghematan terbesar datang dari pembelian atau produksi energi hijau. Strategi ini dinilai lebih relevan bagi operator yang memiliki banyak site jaringan dengan kebutuhan listrik besar dan berulang. Dengan desain yang tepat, operator dapat menekan ketergantungan pada sumber energi konvensional. Selain itu, emisi yang dihasilkan juga dapat berkurang signifikan.

Ia menambahkan bahwa penerapan energi terbarukan dapat disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing site. Lokasi terpencil, daerah dengan paparan matahari tinggi, atau wilayah yang memiliki potensi air dapat dipilih sebagai prioritas implementasi. Pendekatan berbasis karakter site dinilai lebih efisien dibanding penggunaan pola seragam. Dengan demikian, investasi energi bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Hambatan Implementasi Di Indonesia

Meski peluangnya besar, Dr Mardi mempertanyakan alasan penerapan sistem energi terbarukan di jaringan telekomunikasi Indonesia masih berjalan lambat. Ia mengingat bahwa riset terkait topik ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2010. Pada periode itu, Telkom Indonesia sempat menjalankan pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Namun, hasil pilot project tersebut belum berkembang menjadi implementasi menyeluruh.

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan masih adanya hambatan yang perlu diurai oleh industri. Hambatan tersebut bisa datang dari sisi investasi, kesiapan teknologi, model bisnis, maupun eksekusi di lapangan. Jika tidak segera diatasi, peluang efisiensi biaya akan terus tertunda. Pada akhirnya, operator berisiko menanggung beban operasional yang semakin berat.

Dr Mardi menilai perlunya dorongan lebih kuat agar operator berani beralih ke sistem energi yang lebih bersih dan efisien. Ia menyebut transformasi ini penting bukan hanya untuk menekan biaya, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan energi jaringan. Dengan tekanan pendapatan yang makin terbatas, langkah efisiensi menjadi kebutuhan mendesak. Karena itu, energi terbarukan dipandang sebagai solusi yang realistis bagi masa depan industri telekomunikasi.

Arah Baru Industri Telekomunikasi

Situasi jenuh pada pendapatan operator telco menunjukkan bahwa industri tidak bisa lagi bergantung pada pola bisnis lama. Layanan data memang masih menjadi motor utama, tetapi kompetisi yang ketat membuat ruang kenaikan pendapatan semakin sempit. Dalam kondisi tersebut, efisiensi biaya menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis. Energi adalah salah satu pos yang paling potensial untuk dibenahi.

Penerapan energi terbarukan dapat membuka arah baru bagi operator dalam mengelola jaringan. Selain membantu menurunkan biaya, langkah ini juga sejalan dengan agenda pengurangan emisi dan transisi energi nasional. Jika dijalankan secara bertahap, strategi ini berpotensi memberi dampak jangka panjang bagi kesehatan keuangan perusahaan. Model bisnis operator pun bisa menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan pasar.

BRIN melalui paparan Dr Mardi menegaskan bahwa peluang efisiensi harus segera direspons dengan kebijakan yang lebih progresif. Industri telekomunikasi dinilai membutuhkan keberanian untuk meninggalkan ketergantungan pada sumber energi konvensional. Dengan kombinasi inovasi layanan dan efisiensi operasional, operator memiliki peluang menjaga pertumbuhan di tengah pendapatan yang melambat. Jalan menuju industri yang lebih efisien, menurutnya, sudah tersedia dan tinggal dijalankan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!