BRIN Soroti Operator Telko dan Energi Terbarukan

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 15:33 WIB 3
BRIN Soroti Operator Telko dan Energi Terbarukan

Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai industri telekomunikasi Indonesia tengah menghadapi saturasi pendapatan, sehingga operator perlu mencari sumber efisiensi baru. Salah satu solusi yang dinilai paling potensial adalah pemanfaatan energi terbarukan untuk menekan biaya operasional jaringan.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyampaikan hal itu dalam webinar PODCAST#1 bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu 20 Mei 2026. Ia merujuk riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen pada periode 2021 hingga proyeksi 2032.

Energi Terbarukan Telko

Dr Mardi menilai operator kini perlu lebih agresif meningkatkan penjualan melalui paket layanan yang lebih menarik. Ia menjelaskan bahwa layanan lama seperti telepon dan SMS sudah semakin jarang digunakan pelanggan. Kondisi itu membuat sumber pendapatan baru menjadi semakin penting bagi industri. Karena itu, efisiensi biaya juga harus berjalan beriringan dengan strategi pertumbuhan.

Menurutnya, biaya energi menjadi salah satu komponen yang paling berpengaruh terhadap struktur operasional operator. Porsi biaya energi disebut mencapai 20 persen dari total operational cost. Dari jumlah itu, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Angka tersebut menunjukkan ruang penghematan yang sangat besar bila dikelola dengan tepat.

Ia juga mengutip analisis McKinsey yang menyebut ada empat pendorong utama efisiensi energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri. Dari seluruh faktor itu, Dr Mardi menilai pembelian atau pembangkitan energi hijau berpotensi memberi penghematan paling tinggi. Langkah ini dinilai relevan untuk kebutuhan jaringan telekomunikasi di Indonesia.

Efisiensi Biaya Operasional

Energi terbarukan dapat diterapkan melalui berbagai teknologi, sesuai karakteristik lokasi jaringan. Opsi yang disebut antara lain solar PV, turbin angin, micro hydro, dan kinetic. Setiap site dapat disesuaikan dengan kondisi geografis serta kebutuhan dayanya. Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel dibandingkan mengandalkan sumber energi konvensional semata.

Dr Mardi mempertanyakan alasan lambatnya implementasi sistem energi terbarukan di jaringan operator Indonesia. Ia menilai isu ini bukan hal baru karena riset terkait sudah dimulai sejak 2010. Pada saat itu, Telkom Indonesia disebut pernah menjalankan proyek percontohan di Kalimantan dan Sumatera. Namun, implementasinya belum meluas secara nasional hingga kini.

Menurutnya, keterlambatan adopsi menunjukkan masih adanya hambatan di level operator. Hambatan itu bisa berasal dari aspek investasi, kesiapan teknologi, maupun skema bisnis. Padahal, kebutuhan efisiensi semakin mendesak di tengah pertumbuhan pendapatan yang melambat. Situasi ini membuat transformasi energi menjadi semakin relevan.

Riset PwC dan Tantangan

Riset PwC yang disampaikan BRIN memperlihatkan proyeksi pertumbuhan pendapatan industri yang sangat terbatas. Dalam analisis historical revenue 2021 hingga forecast 2032, kenaikannya hanya sekitar 1,2 persen. Kondisi ini menggambarkan pasar yang mulai jenuh dan kompetitif. Operator pun dituntut mencari sumber pendapatan tambahan di luar model lama.

Di sisi lain, efisiensi energi dapat membantu memperbaiki margin keuntungan perusahaan. Pengurangan beban operasional akan memberi ruang bagi operator untuk berinvestasi pada layanan digital baru. Langkah tersebut juga sejalan dengan agenda transisi energi nasional. Karena itu, energi terbarukan dinilai bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi bisnis.

Dr Mardi menekankan bahwa potensi penghematan akan semakin besar jika operator berani mengubah pendekatan pengelolaan energi. Ia mendorong agar perusahaan tidak hanya fokus pada penjualan, tetapi juga pada optimalisasi biaya. Dengan kombinasi keduanya, tekanan dari saturasi pendapatan dapat diimbangi lebih baik. Industri telekomunikasi pun berpeluang menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

Masa Depan Jaringan Hijau

Penerapan energi terbarukan di jaringan telekomunikasi dinilai dapat memperkuat ketahanan operasional operator. Pasokan energi yang lebih beragam akan membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, emisi karbon dari operasional jaringan juga dapat ditekan. Hal ini menjadi nilai tambah di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan.

BRIN melihat peluang tersebut perlu ditindaklanjuti melalui kolaborasi riset, industri, dan kebijakan. Tanpa dukungan yang memadai, implementasi energi hijau akan terus berjalan lambat. Padahal, kebutuhan efisiensi biaya dan keandalan jaringan semakin mendesak. Karena itu, pengembangan model bisnis energi terbarukan perlu dipercepat.

Dengan potensi penghematan yang besar, operator telekomunikasi dinilai memiliki alasan kuat untuk beralih ke sistem yang lebih hijau. Teknologi seperti solar PV dan turbin angin bisa menjadi solusi pada site tertentu. Jika diterapkan secara bertahap, transformasi ini dapat mendukung daya saing industri. Pada akhirnya, energi terbarukan menjadi salah satu jawaban atas tantangan saturasi revenue telko.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!