BRIN Soroti Operator Telco dan Peluang Energi Terbarukan

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 18:24 WIB 3
BRIN Soroti Operator Telco dan Peluang Energi Terbarukan

Badan Riset dan Inovasi Nasional menyoroti adanya saturasi pendapatan pada operator telekomunikasi di Indonesia. Kondisi ini membuat pelaku industri perlu mencari sumber efisiensi baru agar tetap menjaga pertumbuhan usaha. Salah satu solusi yang mengemuka adalah pemanfaatan energi terbarukan untuk jaringan telekomunikasi. Gagasan tersebut disampaikan dalam forum digital yang membahas kebutuhan energi jaringan seluler di Indonesia.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut analisis PricewaterhouseCoopers menunjukkan pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen pada periode 2021 hingga proyeksi 2032. Menurut dia, ruang ekspansi dari layanan legacy seperti telepon dan SMS juga semakin terbatas. Karena itu, operator perlu memperkuat penjualan paket layanan yang lebih relevan dengan kebutuhan pelanggan saat ini. Di sisi lain, penghematan biaya energi dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga margin keuntungan.

Energi Terbarukan untuk Telko

Dr Mardi menilai biaya energi menjadi komponen yang sangat signifikan dalam struktur biaya operasional operator telekomunikasi. Ia menjelaskan porsi biaya energi mencapai sekitar 20 persen dari total operational cost. Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk membeli bahan bakar dan listrik. Kondisi ini membuat efisiensi energi menjadi isu strategis bagi industri.

Dalam paparannya, Dr Mardi menekankan bahwa operator tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan penjualan. Perusahaan juga perlu menekan beban operasional agar revenue yang stagnan tidak semakin tergerus. Menurut dia, optimalisasi energy cost dapat membantu menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Langkah tersebut akan semakin penting ketika pertumbuhan pasar sudah tidak setinggi sebelumnya.

Ia menyebutkan bahwa pengurangan biaya energi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Namun, pendekatan yang paling menjanjikan adalah pembelian atau produksi energi hijau untuk kebutuhan jaringan. Skema ini dinilai mampu memberi penghematan jangka panjang sekaligus mendukung target keberlanjutan. Karena itu, energi terbarukan dipandang bukan sekadar opsi tambahan, melainkan kebutuhan industri.

Dr Mardi juga mengaitkan persoalan ini dengan perubahan pola konsumsi layanan telekomunikasi. Pengguna kini lebih banyak memanfaatkan data, sementara layanan suara dan SMS terus menurun. Perubahan tersebut menuntut operator menyesuaikan model bisnis dan struktur biayanya. Jika tidak, tekanan pada pendapatan dan margin akan semakin besar.

Tekanan Biaya Operasi

Analisis McKinsey yang dikutip Dr Mardi menunjukkan ada empat pendorong utama efisiensi energi dalam industri telekomunikasi. Keempatnya meliputi keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri. Seluruh faktor itu saling berkaitan dan memengaruhi keberlanjutan operasional jaringan. Dengan demikian, efisiensi energi tidak hanya soal penghematan, tetapi juga soal ketahanan bisnis.

Menurut dia, operator yang mampu menekan biaya energi akan memiliki ruang lebih besar untuk bersaing. Penghematan itu dapat dialihkan ke pengembangan jaringan, peningkatan layanan, atau inovasi produk. Di tengah persaingan industri yang ketat, fleksibilitas keuangan menjadi keunggulan tersendiri. Karena itu, efisiensi dinilai harus ditempatkan sebagai agenda utama manajemen.

Dr Mardi menilai faktor keandalan pasokan juga menjadi pertimbangan penting bagi operator di Indonesia. Jaringan telekomunikasi membutuhkan suplai listrik yang stabil agar layanan tetap tersedia bagi pelanggan. Ketika pasokan terganggu, kualitas layanan berpotensi ikut terdampak. Oleh sebab itu, strategi energi harus mempertimbangkan kontinuitas operasional, bukan hanya harga.

Selain itu, isu emisi juga semakin relevan dalam perencanaan bisnis modern. Penggunaan energi yang lebih bersih dapat membantu operator menekan jejak karbon dan memperkuat citra perusahaan. Dalam jangka panjang, kebijakan semacam ini bisa menjadi nilai tambah di mata investor dan pelanggan. Hal tersebut membuat energi terbarukan memiliki dimensi ekonomi sekaligus reputasi.

Peluang Implementasi Hijau

Dalam penjelasannya, Dr Mardi menyebut penggunaan renewable energy dapat disesuaikan dengan karakteristik lokasi jaringan. Bentuknya bisa berupa solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, atau sumber lain yang relevan dengan kondisi site. Pendekatan ini memungkinkan operator memilih teknologi paling efisien untuk tiap wilayah. Dengan demikian, solusi energi bisa lebih adaptif terhadap kebutuhan lapangan.

Ia menilai potensi penghematan terbesar justru ada pada penerapan energi hijau secara langsung di jaringan. Jika dikelola dengan baik, operator dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar dan listrik konvensional. Langkah itu juga bisa menekan risiko fluktuasi harga energi di masa depan. Karena itu, transisi energi dinilai memiliki manfaat finansial yang nyata.

Meski begitu, implementasi renewable energy di Indonesia dinilai belum berjalan luas di industri telekomunikasi. Dr Mardi mempertanyakan alasan mengapa penerapan yang sudah lama dibahas belum dilakukan secara menyeluruh. Menurut dia, tantangan tersebut perlu dijawab melalui evaluasi kebijakan dan kesiapan bisnis. Tanpa itu, peluang efisiensi akan terus tertunda.

Ia menegaskan bahwa persoalan energi harus dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang operator. Investasi pada infrastruktur hijau mungkin memerlukan biaya awal, tetapi manfaatnya dapat dirasakan dalam periode yang lebih panjang. Selain menghemat biaya, langkah ini juga mendukung agenda keberlanjutan nasional. Karena itu, keputusan menuju energi terbarukan perlu dipercepat.

Jejak Pilot Project Lama

Dr Mardi mengingat bahwa riset terkait energi terbarukan di sektor telekomunikasi telah dimulai sejak 2010. Pada masa itu, Telkom Indonesia menjalankan pilot project instalasi renewable energy di Kalimantan dan Sumatera. Program tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini sebenarnya sudah diuji lebih awal. Namun, hasilnya belum berujung pada implementasi luas di seluruh jaringan.

Menurut dia, fakta tersebut menandakan adanya hambatan yang belum terpecahkan. Hambatan itu bisa berasal dari sisi investasi, kesiapan teknis, hingga pertimbangan bisnis operator. Jika tantangan tersebut tidak diidentifikasi dengan jelas, adopsi akan terus berjalan lambat. Oleh sebab itu, evaluasi menyeluruh menjadi langkah yang mendesak.

Ia menilai perlu ada dorongan lebih kuat agar riset tidak berhenti pada tahap uji coba. Kolaborasi antara pemerintah, operator, dan lembaga riset dapat mempercepat penerapan teknologi hijau. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, model bisnis energi terbarukan bisa menjadi lebih menarik. Hal ini akan membuka jalan bagi pemanfaatan energi yang lebih efisien di sektor telekomunikasi.

Di sisi lain, kebutuhan operator untuk menjaga pendapatan tetap tinggi tidak dapat dilepaskan dari efisiensi biaya. Pertumbuhan sales dan penghematan energi harus berjalan beriringan agar kinerja perusahaan tetap terjaga. Jika keduanya dilakukan bersama, sektor telekomunikasi memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi. Dalam situasi pendapatan yang jenuh, efisiensi energi bisa menjadi pembeda penting.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!