BRIN Soroti Energi Terbarukan untuk Efisiensi Operator Telco

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 23:01 WIB 6
BRIN Soroti Energi Terbarukan untuk Efisiensi Operator Telco

Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai industri telekomunikasi di Indonesia menghadapi saturasi pendapatan yang membuat ruang pertumbuhan operator semakin sempit. Di tengah tekanan tersebut, energi terbarukan disebut sebagai salah satu solusi untuk menekan biaya operasional jaringan. Pandangan itu disampaikan peneliti ahli muda BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, dalam sebuah webinar pada Rabu, 20 Mei 2026. Ia mengaitkan perlunya efisiensi energi dengan upaya operator menjaga kinerja bisnis di tengah perubahan pola penggunaan layanan.

Dr Mardi menjelaskan, riset PricewaterhouseCoopers menunjukkan revenue industri telekomunikasi dari 2021 hingga proyeksi 2032 hanya tumbuh sekitar 1,2 persen. Menurut dia, kondisi itu membuat operator harus aktif mendorong penjualan melalui paket layanan yang lebih menarik. Ia juga menegaskan bahwa layanan legacy seperti telepon dan SMS kini sudah sangat minim digunakan. Karena itu, efisiensi biaya energi menjadi langkah penting agar pendapatan yang terbatas tidak semakin tergerus.

Energi Terbarukan untuk Telco

Dalam webinar bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Dr Mardi menyebut biaya energi menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya operasional operator telekomunikasi. Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Kondisi ini, kata dia, membuka ruang efisiensi yang sangat besar jika operator mampu mengubah pola pengelolaan energinya. Salah satu opsi yang paling potensial adalah beralih ke sumber energi hijau untuk kebutuhan jaringan.

Ia merujuk pada analisis McKinsey yang menyebut ada empat pendorong utama efisiensi biaya energi, yakni keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri. Dari seluruh faktor itu, Dr Mardi menilai penghematan terbesar dapat dicapai melalui pembelian atau pembangkitan energi hijau. Teknologi yang dapat digunakan antara lain solar PV, turbin angin, hingga micro hydro kinetic, tergantung karakteristik lokasi site. Pendekatan ini dinilai lebih relevan untuk mendukung operasional jaringan di wilayah yang memiliki potensi sumber daya terbarukan.

Menurut dia, implementasi energi terbarukan tidak hanya berkaitan dengan penghematan biaya, tetapi juga dengan keberlanjutan industri telekomunikasi. Operator yang mampu menurunkan konsumsi energi fosil berpeluang memperkuat efisiensi dalam jangka panjang. Selain itu, langkah tersebut dapat membantu perusahaan menjawab tuntutan pengurangan emisi yang semakin relevan di sektor bisnis. Dengan begitu, energi terbarukan menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar program lingkungan.

Biaya Energi Jadi Tekanan

Dr Mardi menilai tantangan terbesar operator saat ini bukan hanya soal mencari pelanggan baru, melainkan juga menjaga struktur biaya agar tetap kompetitif. Ketika pertumbuhan revenue melambat, setiap pengeluaran operasional akan memberi dampak lebih besar terhadap margin keuntungan. Di sisi lain, kebutuhan listrik untuk mengoperasikan jaringan tetap tinggi dan tidak bisa dihindari. Hal itu membuat efisiensi energi menjadi isu strategis yang tidak dapat ditunda.

Ia menegaskan bahwa optimalisasi biaya energi bisa memberikan efek langsung terhadap kemampuan operator memaksimalkan pendapatan yang ada. Jika pengeluaran energi menurun, maka ruang untuk investasi pada pengembangan layanan juga akan lebih besar. Dalam konteks ini, penggunaan energi terbarukan dinilai lebih unggul dibandingkan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain lebih efisien, sumber energi hijau juga memberi kepastian yang lebih baik bagi operasional jaringan di daerah tertentu.

Meski begitu, implementasi di lapangan dinilai belum berjalan cepat. Dr Mardi menyoroti bahwa banyak operator masih bertahan pada pola lama meskipun peluang efisiensi sudah lama diketahui. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya hambatan yang belum teratasi secara menyeluruh. Hambatan itu bisa berupa investasi awal, kesiapan teknis, maupun model bisnis yang belum sepenuhnya mendukung transisi energi.

Jejak Pilot Project Lama

Dr Mardi mengingat bahwa riset mengenai energi terbarukan untuk jaringan telekomunikasi sebenarnya telah dimulai sejak 2010. Pada masa itu, Telkom Indonesia pernah menjalankan proyek percontohan instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa gagasan pemanfaatan energi hijau bukanlah hal baru di industri ini. Namun, implementasinya hingga kini belum berkembang menjadi adopsi yang menyeluruh.

Ia mempertanyakan alasan mengapa setelah hampir 15 tahun, energi terbarukan belum diterapkan secara luas di jaringan operator Indonesia. Menurut dia, pertanyaan itu penting untuk dijawab agar industri tidak terus bergantung pada pola konsumsi energi yang sama. Jika hambatan dapat diidentifikasi, maka strategi implementasi bisa disusun lebih realistis. Dengan demikian, operator dapat memulai transisi secara bertahap sesuai kebutuhan site dan kapasitas investasi.

BRIN menilai pembahasan ini perlu terus didorong karena berkaitan langsung dengan masa depan industri telekomunikasi nasional. Di tengah revenue yang stagnan, efisiensi energi bisa menjadi pembeda antara operator yang adaptif dan yang tertinggal. Energi terbarukan juga menawarkan peluang untuk mengurangi emisi sekaligus menjaga keandalan jaringan. Karena itu, transisi menuju energi hijau dipandang sebagai langkah strategis yang semakin mendesak.

Efisiensi dan Daya Saing

Penguatan efisiensi energi diyakini akan membantu operator memperbaiki daya saing di tengah pasar yang semakin matang. Ketika layanan suara dan SMS terus menurun, sumber pendapatan baru harus ditopang oleh struktur biaya yang lebih ramping. Energi terbarukan menjadi salah satu instrumen yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam jangka panjang, langkah ini dapat memperluas ruang inovasi di sektor telekomunikasi.

Selain menekan biaya, adopsi energi hijau juga selaras dengan tuntutan keberlanjutan yang semakin kuat di dunia usaha. Operator yang mampu memadukan efisiensi operasional dan tanggung jawab lingkungan berpotensi memperoleh nilai tambah di mata investor maupun pelanggan. Di sisi lain, transisi ini juga dapat memperkuat ketahanan pasokan energi pada site-site tertentu. Hal tersebut penting terutama di lokasi yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.

Dr Mardi menekankan bahwa peluang efisiensi seharusnya tidak hanya dilihat sebagai penghematan sesaat. Bagi industri telekomunikasi, perubahan menuju energi terbarukan merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga pertumbuhan. Dengan revenue yang hanya tumbuh tipis, setiap langkah efisiensi akan sangat menentukan. Karena itu, ia mendorong operator untuk mulai mengambil keputusan lebih berani dalam mengadopsi energi hijau.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!