BRIN: Kebutuhan BTS di Tiap Daerah Tak Bisa Disamaratakan

Teknologi Moh. Royhan Nahado 29 Mei 2026 01:39 WIB 2
BRIN: Kebutuhan BTS di Tiap Daerah Tak Bisa Disamaratakan

Kebutuhan Base Transceiver Station atau BTS di Pulau Jawa ternyata tidak bisa disamakan dengan wilayah lain di Indonesia. Peneliti Ahli Muda BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan bahwa perbedaan kontur, cakupan layanan, dan karakter wilayah membuat konfigurasi BTS harus disesuaikan.

Penjelasan itu disampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi dengan tema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu (20/5/2026). Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa konsumsi energi BTS sangat besar dan terus meningkat seiring kebutuhan jaringan seluler di Tanah Air.

Penyesuaian BTS dan Energi

Dr Mardi menyebut tidak semua tipe BTS dipasang dengan pola yang sama di setiap daerah. Operator harus menyesuaikan kebutuhan coverage dengan kondisi medan, kepadatan penduduk, dan target pasar.

Ia menilai, jika penempatan BTS tidak memperhitungkan karakter wilayah, konsumsi energi akan menjadi sangat tinggi. Hal ini terjadi karena jaringan harus tetap bekerja optimal untuk melayani pengguna secara merata.

Dalam konteks operasional, kebutuhan energi jaringan telekomunikasi menjadi salah satu komponen terbesar bagi operator. Contoh yang ia sampaikan, konsumsi energi operasional Telkomsel pada 2023 hampir mencapai 90 persen dari total konsumsi tahunannya.

Tren Jaringan Seluler

Menurut Dr Mardi, kebutuhan energi diperkirakan masih akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan. Salah satu penyebabnya adalah implementasi jaringan seluler di Indonesia yang masih didominasi 4G.

Ia menjelaskan bahwa penerapan 5G di Indonesia masih sangat terbatas, sehingga beban jaringan 4G tetap tinggi. Kondisi ini membuat operator harus menjaga kualitas layanan sekaligus menekan efisiensi energi.

Karena itu, strategi pengembangan infrastruktur tidak cukup hanya berfokus pada perluasan layanan. Operator juga perlu mempertimbangkan efektivitas konsumsi listrik pada tiap site BTS.

Data Riset BRIN

Dalam penelitiannya, Dr Mardi mengolah data dari salah satu operator di Indonesia dengan total sekitar 8.500 BTS sites. Data tersebut tersebar di 20 kabupaten dan kota di tiga provinsi, yaitu Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Setiap point site sampel memiliki informasi tipe site, mulai dari Pico, Mikro, Indoor Base Station atau IBS, Makro, hingga Makro Hub. Dari keseluruhan sampel, hampir 78 persen di antaranya merupakan site makro.

Komposisi itu menunjukkan bahwa perhitungan energi tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap tipe site memiliki kebutuhan daya yang berbeda, tergantung fungsi dan lokasi pemasangannya.

Faktor Sosioekonomi Wilayah

Dr Mardi menekankan pentingnya menyesuaikan proporsi BTS dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Ia membandingkan kebutuhan jaringan di Kalimantan dan Papua yang berbeda jauh dengan Jakarta.

Menurut dia, pemodelan yang tidak memasukkan variabel sosioekonomi akan gagal menggambarkan kondisi nyata Indonesia. Karena itu, riset yang dilakukan perlu menggabungkan faktor demografi dan perkembangan daerah.

Dalam validasi penelitiannya, ia menggunakan tiga indikator utama, yakni population density, development index, dan digital society index. Pendekatan itu dipilih agar kebutuhan BTS dapat dipetakan lebih akurat sesuai karakter tiap wilayah.

Kesimpulannya, kebutuhan BTS di Indonesia tidak dapat disamaratakan antara Pulau Jawa dan daerah lain. Perbedaan kondisi geografis, kepadatan penduduk, dan tingkat perkembangan wilayah menjadi penentu utama dalam perencanaan jaringan telekomunikasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!