BRIN Jajaki Kolaborasi Satelit LEO dengan Telkomsat

Teknologi BRH 21 Mei 2026 21:04 WIB 7
BRIN Jajaki Kolaborasi Satelit LEO dengan Telkomsat

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit, PRTS, menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit, LEO. Pertemuan ini berlangsung di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, dan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyampaikan bahwa kerja sama dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak dalam dan luar negeri. Telkomsat juga dinilai berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi, penguatan infrastruktur, dan integrasi data satelit nasional.

Kolaborasi satelit nasional

Chusnul menegaskan bahwa BRIN tengah membuka ruang kerja sama yang lebih luas untuk mendukung pengembangan teknologi satelit nasional. Menurut dia, sinergi dengan industri menjadi kunci agar hasil riset dapat memberi manfaat yang lebih nyata.

Ia mengatakan, kerja sama dengan Telkomsat dapat membantu memperkuat rantai nilai teknologi dari hulu ke hilir. Kolaborasi tersebut juga diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan hasil riset di sektor telekomunikasi dan pengamatan bumi.

Selain itu, BRIN melihat pentingnya keterlibatan berbagai pemangku kepentingan agar ekosistem satelit nasional tumbuh lebih adaptif. Dengan begitu, pengembangan teknologi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga masuk ke tahap penerapan.

Riset satelit baru

BRIN saat ini mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation, NEO-1, untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset juga akan diarahkan pada satelit berbasis Synthetic Aperture Radar, SAR, serta satelit komunikasi.

Pengembangan satelit tersebut diharapkan memperluas kemampuan Indonesia dalam mengamati permukaan bumi dan mendukung kebutuhan data strategis. Teknologi yang dibangun juga ditujukan untuk memperkuat kemandirian nasional di bidang antariksa.

Chusnul menyebut, arah riset BRIN tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga pada penguatan kapasitas nasional. Karena itu, kolaborasi dengan industri seperti Telkomsat dipandang relevan untuk mendukung proses hilirisasi.

Tantangan orbit rendah

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi bumi. Dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit, sistem operasional harus dirancang dinamis dan responsif.

Menurut Satriya, manajemen misi mencakup perencanaan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi. Seluruh proses itu perlu terintegrasi agar manfaat satelit dapat dimaksimalkan.

Ia juga menekankan pentingnya pengendalian orbit untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala serta antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Sistem kendali modern

Satriya menuturkan, komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Karena itu, diperlukan perencanaan presisi dalam penjadwalan uplink dan downlink, serta dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai.

Selain itu, operator satelit harus memantau kesehatan satelit secara real time untuk memastikan seluruh subsistem berjalan normal. Pemantauan dilakukan pada daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama agar gangguan dapat segera ditangani.

Ia menambahkan, pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak tersebut mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah untuk mendukung kemandirian teknologi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!