BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 25 Mei 2026 10:30 WIB 4
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing. Peluang kerja sama tersebut disampaikan Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor. Pertemuan itu menjadi sinyal bahwa riset satelit Indonesia mulai bergerak menuju kolaborasi yang lebih aplikatif.

Chusnul menyebutkan, ruang kerja sama dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri. BRIN saat ini juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset akan diarahkan pada satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi. Menurut dia, Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi dan integrasi data satelit nasional.

Kolaborasi Satelit dan Teknologi

BRIN menilai Telkomsat memiliki posisi penting dalam penguatan ekosistem satelit nasional. Kemitraan ini dinilai relevan untuk mendukung pengembangan infrastruktur, integrasi layanan, dan pemanfaatan data satelit secara lebih luas. Selain itu, kolaborasi juga membuka jalan bagi penguatan kapasitas industri dalam negeri. Dengan dukungan mitra yang tepat, pengembangan teknologi satelit diharapkan tidak berhenti di tahap riset.

Chusnul menegaskan bahwa alih teknologi menjadi salah satu fokus utama dalam pembahasan tersebut. Transfer pengetahuan diperlukan agar kemampuan teknis nasional terus meningkat dari waktu ke waktu. Kerja sama semacam ini juga dapat mempercepat proses hilirisasi hasil riset agar lebih dekat dengan kebutuhan industri. Dalam konteks tersebut, Telkomsat dipandang memiliki peluang besar untuk menjadi penghubung antara riset dan penerapan.

BRIN juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas negara untuk memperkuat kapabilitas satelit Indonesia. Menurut Chusnul, kolaborasi internasional dapat membuka akses pada teknologi, pengalaman, dan model operasional yang lebih matang. Namun, penguatan kemampuan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Tujuannya adalah membangun kemandirian teknologi yang berkelanjutan.

Tantangan Operasional Satelit

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki tantangan operasional yang khas. Satelit jenis ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi, dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut menuntut sistem kendali yang dinamis dan responsif. Setiap aktivitas harus direncanakan dengan presisi agar misi berjalan optimal.

Menurut Satriya, manajemen misi menjadi inti dari operasional satelit modern. Proses ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi kepada pihak terkait. Pengelolaan yang baik akan menentukan seberapa besar manfaat satelit dapat dirasakan pengguna. Karena itu, seluruh rantai operasional harus terhubung secara terintegrasi.

Selain itu, pengendalian orbit juga memegang peranan penting dalam menjaga posisi satelit tetap berada pada jalurnya. Koreksi orbit perlu dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi penyimpangan dan potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Tantangan lain muncul pada komunikasi antara satelit dan stasiun bumi yang berlangsung dalam waktu terbatas. Situasi tersebut membuat penjadwalan uplink dan downlink harus dilakukan dengan sangat teliti.

Penguatan Sistem Kendali

Satriya menambahkan bahwa pemantauan kesehatan satelit harus dilakukan secara real time. Operator perlu memeriksa seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Pemantauan ini penting agar gangguan dapat terdeteksi lebih awal. Dengan begitu, tindakan korektif dapat dilakukan sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Dalam operasional satelit LEO, dukungan jaringan stasiun bumi juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Infrastruktur yang memadai dibutuhkan agar pertukaran data dapat berlangsung lancar dan tepat waktu. Tanpa sistem pendukung yang kuat, efektivitas pengendalian satelit akan menurun. Karena itu, pengembangan ekosistem harus dilakukan secara menyeluruh.

Satriya juga menekankan pentingnya perangkat lunak sebagai fondasi sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak tersebut mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Penguasaan teknologi ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri. Dalam jangka panjang, kemandirian perangkat lunak akan memperkuat posisi Indonesia di bidang teknologi satelit.

Arah Baru Satelit Nasional

Kolaborasi BRIN dan Telkomsat dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi satelit nasional. Sinergi antara riset dan industri diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan teknologi secara nyata. Fokus pada pengembangan SDM, alih teknologi, dan infrastruktur menjadi modal penting dalam perjalanan tersebut. Dengan pendekatan itu, ekosistem satelit nasional berpeluang tumbuh lebih sehat dan kompetitif.

Riset satelit yang tengah dikembangkan BRIN juga menunjukkan arah yang semakin beragam. NEO-1 disiapkan untuk mendukung pengamatan bumi melalui citra resolusi tinggi, sementara SAR dan satelit komunikasi menjadi fokus berikutnya. Diversifikasi riset ini memberi ruang bagi Indonesia untuk menguasai lebih banyak spektrum teknologi antariksa. Langkah tersebut sekaligus memperluas potensi pemanfaatan di sektor publik maupun industri.

Di tengah perkembangan itu, peralihan teknologi dari Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES turut membuka peluang baru. Transisi tersebut dinilai dapat memperkuat layanan komunikasi dan pertukaran data berbasis satelit. Jika kemitraan berjalan konsisten, Indonesia berpeluang memiliki sistem satelit yang lebih tangguh dan mandiri. Arah ini menjadi penting untuk menjaga daya saing teknologi nasional di masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!