BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi BRH 24 Mei 2026 07:25 WIB 6
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan itu berlangsung saat kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu, dengan fokus pada penguatan ekosistem satelit nasional. Inisiatif ini diarahkan untuk mendorong kemandirian teknologi, hilirisasi riset, dan pemanfaatan data satelit yang lebih luas.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyebut kerja sama dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga jejaring dengan mitra dalam dan luar negeri. BRIN juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi, sembari menyiapkan riset satelit SAR dan satelit komunikasi. Telkomsat dinilai berpotensi menjadi mitra penting dalam hilirisasi teknologi, penguatan infrastruktur, dan integrasi data satelit nasional.

Kolaborasi Satelit LEO

Chusnul Tri Judianto menilai kerja sama dengan Telkomsat dapat mempercepat penguatan operasional satelit LEO di Indonesia. Menurut dia, kolaborasi ini tidak hanya menyasar aspek teknis, tetapi juga pengembangan ekosistem yang lebih unggul dan andal. Upaya tersebut sejalan dengan kebutuhan industri antariksa nasional yang semakin menuntut integrasi antar lembaga.

BRIN melihat peluang besar dalam pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung operasi satelit yang makin kompleks. Alih teknologi juga menjadi bagian penting agar kemampuan nasional tidak hanya bergantung pada pihak luar. Dengan demikian, riset yang dilakukan dapat segera memberi dampak nyata bagi layanan dan aplikasi satelit.

Selain itu, BRIN membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Skema ini diharapkan memperluas akses terhadap pengetahuan, perangkat, dan pengalaman operasional. Kolaborasi yang lebih luas juga dinilai penting untuk mempercepat hilirisasi hasil riset satelit.

Fokus Riset Satelit BRIN

BRIN saat ini mengembangkan satelit optik NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Satelit ini diproyeksikan mendukung kebutuhan pemantauan wilayah, pemetaan, dan analisis data berbasis penginderaan jauh. Keberadaan satelit optik tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi penguatan kapasitas teknologi nasional.

Ke depan, arah riset juga akan diperluas ke satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR. Teknologi ini memungkinkan pengamatan permukaan bumi dengan kemampuan yang lebih fleksibel terhadap kondisi cuaca dan pencahayaan. Selain itu, BRIN juga menyiapkan pengembangan satelit komunikasi untuk memperluas manfaat layanan antariksa.

Chusnul menjelaskan, Telkomsat berpotensi besar menjadi mitra strategis dalam tahap hilirisasi. Peran itu mencakup penguatan infrastruktur, pemanfaatan hasil riset, serta integrasi data satelit nasional. Dengan kolaborasi yang tepat, teknologi satelit diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi masuk ke implementasi yang lebih luas.

Tantangan Operasi Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, memaparkan bahwa satelit LEO memiliki tantangan operasional yang khas. Satelit ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi, dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut menuntut sistem operasional yang dinamis, responsif, dan terintegrasi.

Manajemen misi menjadi salah satu komponen utama dalam pengoperasian satelit LEO. Proses ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaatnya optimal. Menurut Satriya, seluruh tahapan itu harus dirancang presisi agar misi berjalan efektif.

Pengendalian orbit juga menjadi aspek penting untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Koreksi orbit dilakukan secara berkala, sekaligus disertai antisipasi terhadap potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Tanpa pengelolaan yang baik, stabilitas misi dapat terganggu dan umur operasional satelit bisa terpengaruh.

Perangkat Lunak Satelit

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu yang terbatas. Karena itu, diperlukan perencanaan presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink yang tepat. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi syarat penting agar data dapat diterima tanpa hambatan berarti.

Operator satelit juga wajib memantau kesehatan satelit secara waktu nyata atau real time. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Langkah ini penting agar gangguan dapat dideteksi lebih awal dan ditangani sebelum berdampak luas.

Satriya menegaskan bahwa pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak tersebut mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah untuk operasi harian. Penguatan kemampuan ini dinilai krusial untuk mendukung kemandirian teknologi dan mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!