BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi BRH 24 Mei 2026 00:37 WIB 5
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit (LEO). Pertemuan itu digelar di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, saat Telkomsat melakukan kunjungan kerja beberapa waktu lalu.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing. Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyebut kerja sama dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kemitraan dengan pihak dalam dan luar negeri.

Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melihat Telkomsat sebagai mitra potensial dalam penguatan industri satelit nasional. Peluang kerja sama itu dinilai relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk mempercepat pemanfaatan teknologi antariksa. Fokusnya bukan hanya pada pengembangan sistem, tetapi juga pada penguatan rantai nilai teknologi di dalam negeri.

Chusnul Tri Judianto menjelaskan bahwa BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1. Satelit tersebut dirancang untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset juga akan diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi.

Menurut Chusnul, Telkomsat berpotensi mendukung hilirisasi teknologi yang tengah dikembangkan BRIN. Peran itu juga mencakup penguatan infrastruktur dan integrasi data satelit nasional. Dengan kolaborasi yang tepat, hasil riset dapat lebih cepat dimanfaatkan oleh sektor publik maupun industri.

Ia juga menilai peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES membuka ruang kerja sama baru. Pergeseran teknologi itu memberi peluang untuk memperluas layanan berbasis data satelit. Dalam konteks ini, kemitraan strategis menjadi penting agar ekosistem nasional tidak tertinggal.

Tantangan Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, memaparkan tantangan utama dalam operasional satelit LEO. Menurut dia, satelit jenis ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi. Periode orbitnya hanya berkisar 90 hingga 120 menit.

Kondisi tersebut membuat sistem operasional harus berjalan dinamis dan responsif. Setiap aktivitas satelit perlu terintegrasi dengan baik agar misi dapat berjalan optimal. Tanpa koordinasi yang presisi, manfaat data satelit berisiko tidak maksimal.

Satriya menjelaskan bahwa manajemen misi mencakup perencanaan dan pengaturan aktivitas satelit. Proses itu dimulai dari penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi. Seluruh tahapan tersebut harus saling terhubung agar operasional tetap efisien.

Selain manajemen misi, pengendalian orbit juga menjadi aspek penting dalam menjaga posisi satelit. Koreksi orbit dilakukan secara berkala untuk memastikan satelit tetap berada pada jalurnya. Langkah ini juga diperlukan untuk mengantisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Manajemen Misi Satelit

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu yang terbatas. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang sangat presisi. Penjadwalan uplink dan downlink menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran pertukaran data.

Satriya menuturkan bahwa dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga sangat dibutuhkan. Tanpa infrastruktur yang kuat, komunikasi satelit dapat terganggu. Hal itu akan berdampak pada kecepatan dan kualitas distribusi informasi.

Operator satelit juga harus memantau kesehatan satelit secara waktu nyata atau real time. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Dengan pemantauan aktif, potensi gangguan bisa diketahui lebih awal.

Menurut Satriya, pengawasan yang cermat membantu menjaga reliabilitas sistem satelit. Ketika ada anomali, operator dapat segera mengambil tindakan korektif. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari pengelolaan satelit modern yang menuntut kecepatan dan ketelitian.

Kemandirian Teknologi Satelit

Satriya menegaskan bahwa pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak dibutuhkan untuk perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Seluruh fungsi itu mendukung operasional satelit agar berjalan stabil dan terukur.

Ia menilai penguasaan perangkat lunak juga menjadi kunci untuk mendorong kemandirian teknologi. Dengan kemampuan internal yang kuat, ketergantungan pada solusi luar negeri dapat dikurangi. Hal ini penting bagi Indonesia yang sedang membangun ekosistem satelit yang lebih mandiri.

Kolaborasi BRIN dan Telkomsat dinilai dapat mempercepat transfer pengetahuan dan penguatan kemampuan industri nasional. Sinergi riset dan kebutuhan operasional di lapangan akan memberi nilai tambah bagi kedua pihak. Selain itu, kerja sama ini dapat membuka jalan bagi pengembangan layanan satelit yang lebih luas.

Di tengah meningkatnya kebutuhan data dan komunikasi berbasis ruang angkasa, penguatan ekosistem satelit nasional menjadi semakin mendesak. BRIN dan Telkomsat sama-sama memiliki peran penting dalam mendorong agenda tersebut. Jika kolaborasi berjalan efektif, Indonesia berpeluang mempercepat penguasaan teknologi satelit LEO secara lebih terarah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!