BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi BRH 23 Mei 2026 22:47 WIB 14
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit (LEO). Pembahasan kerja sama itu mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga penguatan ekosistem satelit nasional yang lebih unggul dan andal.

Peluang sinergi tersebut disampaikan Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor. BRIN menilai kerja sama ini dapat menjadi langkah penting dalam hilirisasi teknologi dan integrasi data satelit nasional.

Kolaborasi satelit BRIN dan Telkomsat

Chusnul Tri Judianto menyebut kolaborasi dengan Telkomsat dapat meliputi banyak aspek, mulai dari pengembangan SDM hingga kerja sama dengan mitra di dalam dan luar negeri. Menurut dia, penguatan kapasitas manusia menjadi kunci agar ekosistem satelit nasional tumbuh lebih mandiri.

Ia menilai Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi satelit. Peran itu juga mencakup penguatan infrastruktur dan integrasi data agar pemanfaatan satelit semakin luas.

Dalam pertemuan tersebut, BRIN juga menyoroti pentingnya sinergi untuk mendorong pemanfaatan teknologi satelit secara lebih efektif. Kerja sama dinilai dapat mempercepat transfer pengetahuan antara lembaga riset dan industri.

BRIN berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada pembahasan awal, tetapi berkembang menjadi proyek bersama yang konkret. Dengan demikian, kemampuan Indonesia dalam penguasaan teknologi satelit dapat meningkat secara bertahap.

Pengembangan teknologi satelit nasional

BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Riset tersebut diposisikan sebagai bagian penting dalam penguatan kemampuan observasi bumi nasional.

Ke depan, arah riset juga akan diperluas ke pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR. Selain itu, BRIN menyiapkan pengembangan satelit komunikasi untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan data.

Satriya Utama menegaskan bahwa pengembangan teknologi satelit membutuhkan dukungan ekosistem yang saling terhubung. Karena itu, keterlibatan industri seperti Telkomsat dinilai relevan untuk mempercepat penerapan hasil riset.

Peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES juga disebut membuka peluang kerja sama baru. Perubahan tersebut menunjukkan kebutuhan akan sistem satelit yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi maritim dan komunikasi.

Tantangan operasional satelit LEO

Satriya Utama menjelaskan, satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi ini membuat sistem operasional harus dirancang dinamis, responsif, dan terintegrasi.

Menurut dia, manajemen misi menjadi elemen penting dalam pengoperasian satelit LEO. Tahap ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaat satelit berjalan optimal.

Pengendalian orbit juga menjadi aspek krusial untuk menjaga posisi satelit tetap berada pada jalurnya. Proses itu dilakukan melalui koreksi orbit berkala sekaligus antisipasi terhadap potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan perencanaan presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink serta dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai.

Perangkat lunak jadi fondasi satelit

Selain aspek orbit dan komunikasi, operator satelit juga harus memantau kesehatan satelit secara real time. Pemantauan dilakukan terhadap daya listrik, suhu komponen, dan performa instrumen utama agar gangguan dapat segera diantisipasi.

Satriya menuturkan bahwa sistem pemantauan ini menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan misi satelit. Tanpa pengawasan yang baik, operasional satelit dapat menghadapi risiko yang lebih besar.

Ia menambahkan, pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak itu mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah.

Menurut dia, penguatan perangkat lunak penting untuk mendukung kemandirian teknologi Indonesia. Langkah tersebut juga dapat mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri dalam operasional satelit nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!