BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi BRH 01 Juni 2026 16:36 WIB 2
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan terintegrasi.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyampaikan peluang kerja sama itu saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu. Kolaborasi yang dibahas mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga sinergi dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri.

Kolaborasi Satelit LEO BRIN

Chusnul mengatakan BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset juga akan diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi.

Menurut dia, Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi, penguatan infrastruktur, dan integrasi data satelit nasional. Peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES juga membuka ruang kerja sama baru.

Dalam pandangan BRIN, kolaborasi dengan industri akan mempercepat pemanfaatan hasil riset agar lebih dekat ke kebutuhan pengguna. Skema tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemandirian teknologi satelit Indonesia secara bertahap.

Kerja sama juga diharapkan mampu memperluas jejaring riset dan pengembangan yang selama ini berjalan secara terpisah. Dengan model kolaborasi yang lebih erat, ekosistem satelit nasional diharapkan tumbuh lebih kompetitif.

Tantangan Operasional Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi bumi. Periode orbitnya sekitar 90 hingga 120 menit, sehingga sistem operasional harus bersifat dinamis dan responsif.

Ia menekankan manajemen misi menjadi elemen penting dalam pengelolaan satelit modern. Proses ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaatnya optimal.

Pengendalian orbit juga menjadi aspek krusial untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalur yang benar. Koreksi orbit berkala diperlukan, termasuk antisipasi terhadap potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Selain itu, komunikasi antara satelit dan stasiun bumi berlangsung dalam waktu terbatas sehingga membutuhkan perencanaan presisi. Penjadwalan uplink dan downlink, serta dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai, menjadi bagian penting dalam operasi harian.

Peran Perangkat Lunak Satelit

Satriya menambahkan pemantauan kesehatan satelit harus dilakukan secara waktu nyata atau real time. Pemantauan itu meliputi daya listrik, suhu komponen, dan performa instrumen utama agar gangguan dapat segera ditangani.

Menurut dia, sistem pemantauan yang kuat membantu operator mendeteksi anomali lebih dini. Hal tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan layanan satelit dan mengurangi risiko kegagalan operasi.

Ia juga menegaskan pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah yang digunakan operator.

Komponen perangkat lunak yang andal dinilai penting untuk mendukung kemandirian teknologi nasional. Dengan kemampuan tersebut, ketergantungan terhadap solusi luar negeri dapat dikurangi secara bertahap.

Arah Ekosistem Satelit Nasional

Kolaborasi BRIN dan Telkomsat dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat industri satelit nasional dari hulu ke hilir. Kerja sama itu tidak hanya menyentuh riset, tetapi juga implementasi teknologi di lapangan.

Pengembangan SDM menjadi salah satu fokus karena kebutuhan talenta satelit terus meningkat seiring berkembangnya teknologi antariksa. Alih teknologi juga dipandang penting agar penguasaan sistem tidak berhenti pada tahap penggunaan.

BRIN menilai sinergi dengan pelaku industri dapat mempercepat integrasi data satelit untuk berbagai kebutuhan nasional. Pemanfaatan data yang lebih luas diharapkan mendukung sektor komunikasi, pemantauan bumi, dan layanan berbasis informasi.

Dengan penguatan kolaborasi, pemerintah, peneliti, dan industri memiliki peluang membangun ekosistem satelit yang lebih mandiri. Langkah tersebut sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi antariksa Indonesia di masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!