BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Pembahasan ini berlangsung saat kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan berdaya saing. Selain itu, kolaborasi juga dipandang penting untuk mendukung hilirisasi teknologi satelit di Indonesia.
Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, mengatakan ruang kerja sama dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kemitraan dengan berbagai pihak dalam dan luar negeri. BRIN juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi. Ke depan, riset akan diperluas ke satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR serta satelit komunikasi. Menurut BRIN, Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam penguatan infrastruktur dan integrasi data satelit nasional.
Satelit LEO dan Kemitraan BRIN
Chusnul Tri Judianto menegaskan bahwa kerja sama dengan Telkomsat dapat mempercepat penguatan ekosistem satelit nasional. Menurut dia, kolaborasi tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga pengembangan kompetensi sumber daya manusia. BRIN menilai, keterlibatan industri akan membantu proses hilirisasi agar hasil riset lebih cepat dimanfaatkan. Dengan begitu, manfaat teknologi satelit dapat dirasakan lebih luas oleh berbagai sektor.
BRIN juga melihat Telkomsat sebagai mitra yang relevan untuk mendukung penguatan infrastruktur satelit. Integrasi data satelit nasional disebut menjadi kebutuhan penting agar layanan dapat berjalan lebih efisien. Kolaborasi ini dinilai mampu membuka ruang kerja sama yang lebih besar di masa mendatang. Hal tersebut sejalan dengan upaya Indonesia membangun kemandirian di bidang teknologi antariksa.
Dalam pertemuan itu, BRIN dan Telkomsat membahas potensi sinergi yang dapat dijalankan secara bertahap. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan teknologi, pemanfaatan data, serta penguatan jejaring dengan mitra luar negeri. BRIN berharap kolaborasi ini mampu memberi nilai tambah bagi ekosistem riset nasional. Di sisi lain, industri juga memperoleh akses terhadap hasil riset yang lebih aplikatif.
Fokus Pengembangan Teknologi Satelit
BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1. Satelit ini ditujukan untuk menghasilkan data citra dengan resolusi tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari agenda besar BRIN dalam memperkuat kemampuan observasi bumi. Selain itu, proyek ini juga menunjukkan arah riset yang semakin aplikatif.
Ke depan, BRIN akan mengarahkan riset pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR. Teknologi ini memiliki keunggulan karena dapat menghasilkan citra dalam berbagai kondisi cuaca dan pencahayaan. BRIN juga menyiapkan pengembangan satelit komunikasi sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional. Langkah ini diharapkan memperluas portofolio teknologi satelit Indonesia.
Selain satelit pengamatan, BRIN menyoroti pentingnya pengembangan teknologi pendukung yang lebih terintegrasi. Salah satunya adalah transisi dari Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES. Pergeseran teknologi ini dinilai membuka peluang kolaborasi baru dengan industri. Bagi BRIN, pengembangan berbagai platform satelit perlu berjalan beriringan agar saling menopang.
Tantangan Operasional Satelit LEO
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki karakter operasional yang sangat dinamis. Satelit ini bergerak cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut menuntut sistem kendali yang responsif dan terintegrasi. Setiap aktivitas harus direncanakan secara presisi agar misi berjalan optimal.
Menurut Satriya, manajemen misi menjadi salah satu aspek penting dalam operasional satelit LEO. Tahapan ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi kepada pengguna. Pengaturan yang tepat akan memastikan manfaat satelit dapat dimaksimalkan. Karena itu, sistem operasional harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi secara cepat.
Selain manajemen misi, pengendalian orbit juga menjadi faktor krusial untuk menjaga posisi satelit tetap sesuai jalur. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala serta antisipasi terhadap potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Satriya menilai, pengelolaan orbit yang baik akan meningkatkan keamanan operasional. Dengan demikian, umur layanan satelit dapat dijaga lebih panjang.
Peran Perangkat Lunak Satelit
Satriya Utama menekankan bahwa komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri. Hubungan keduanya berlangsung dalam waktu terbatas karena satelit LEO terus bergerak di lintasan orbit. Oleh sebab itu, diperlukan perencanaan yang sangat presisi dalam penjadwalan uplink dan downlink. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi kebutuhan utama.
Pemantauan kesehatan satelit secara real time turut menjadi bagian penting dalam operasional modern. Pengawasan dilakukan terhadap daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Dengan pemantauan ini, gangguan teknis dapat dideteksi sejak dini. Langkah tersebut penting untuk menjaga keandalan sistem selama satelit menjalankan misi.
Satriya juga menyoroti bahwa perangkat lunak merupakan fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah yang digunakan operator. Penguatan sisi perangkat lunak dinilai penting untuk mendukung kemandirian teknologi nasional. Selain itu, ketergantungan terhadap solusi luar negeri dapat dikurangi secara bertahap.
