Artis komedian sekaligus pedangdut Boiyen mengaku tidak berkurban pada Idul Adha tahun ini. Meski begitu, ia tetap merayakan hari besar tersebut bersama keluarga di rumah dengan suasana hangat dan sederhana.
Boiyen menyampaikan hal itu saat ditemui di Studio Arisan Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Jumat, 29 Mei 2026. Ia menuturkan bahwa kebersamaan keluarga tetap menjadi bagian terpenting dari perayaan Idul Adha yang ia jalani setiap tahun.
Boiyen dan Idul Adha
Boiyen mengawali penjelasannya dengan nada bercanda ketika ditanya soal kurban. Ia menyebut dirinya belum berkurban pada tahun ini, karena ada pertimbangan pribadi yang membuatnya memilih menunda. Ucapannya disampaikan sambil tersenyum, sehingga suasana wawancara terasa santai. Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa Idul Adha tetap ia jalani dengan penuh makna.
Perempuan berusia 37 tahun itu mengatakan bahwa momen Idul Adha baginya bukan semata soal kurban. Menurutnya, berkumpul bersama keluarga justru menjadi tradisi yang paling dinanti setiap tahun. Ia menilai kebersamaan di rumah memberi kehangatan yang tidak kalah penting. Karena itu, ia memilih tetap berada di tengah keluarga pada hari raya tersebut.
Boiyen menuturkan bahwa ia merayakan Idul Adha dengan cara yang sederhana. Ia dan keluarga biasanya makan bersama, berbincang, dan menikmati waktu santai di rumah. Tradisi itu sudah berlangsung dari tahun ke tahun dan selalu menjadi momen yang ditunggu. Baginya, suasana akrab seperti itu membuat Idul Adha terasa lebih dekat dan bermakna.
Selain berkumpul, keluarga Boiyen juga kerap menikmati hidangan olahan daging dari hasil kurban orang sekitar. Ia menyebut bahwa lingkungan dan kerabat sering berbagi daging kurban kepada keluarga. Dari kebiasaan itu, mereka biasanya mengolah sebagian daging menjadi sate. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari tradisi yang membuat suasana hari raya semakin meriah.
Tradisi Keluarga Saat Lebaran Haji
Dalam penuturannya, Boiyen menggambarkan tradisi keluarganya saat Idul Adha sebagai kebiasaan yang tidak rumit. Mereka tidak menggelar perayaan besar, melainkan fokus pada momen berkumpul di rumah. Suasana itu dianggap cukup untuk menghadirkan rasa syukur dan kebahagiaan. Bagi Boiyen, kesederhanaan justru membuat perayaan terasa lebih nyaman.
Makan bersama menjadi agenda utama dalam perayaan keluarga tersebut. Hidangan yang disajikan biasanya berasal dari bahan makanan yang tersedia setelah pembagian daging kurban. Kebiasaan itu kemudian dilanjutkan dengan obrolan santai di antara anggota keluarga. Tradisi ini, menurut Boiyen, selalu berhasil menciptakan suasana akrab di rumah.
Ia juga menyebut bahwa momen berkumpul menjadi kesempatan untuk bertemu saudara yang jarang berjumpa. Saat Idul Adha, rumah keluarganya biasanya lebih ramai dari hari biasa. Kehadiran banyak anggota keluarga membuat suasana terasa hidup dan penuh canda. Kondisi itu menjadi alasan mengapa ia selalu menantikan hari raya tersebut.
Boiyen menegaskan bahwa tradisi keluarga tidak harus mewah untuk bisa bermakna. Selama bisa bersama orang-orang terdekat, ia merasa perayaan sudah berjalan dengan baik. Ia menilai kebiasaan seperti ini lebih penting daripada seremoni yang berlebihan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa momen kebersamaan tetap menjadi prioritas utamanya.
Menjaga Konsumsi Daging
Di balik kebiasaan menikmati sajian kurban, Boiyen mengaku tetap membatasi konsumsi daging. Ia menyadari bahwa makan daging secara berlebihan tidak baik untuk kesehatan. Menurutnya, terlalu banyak mengonsumsi daging dapat memicu masalah seperti kolesterol. Karena itu, ia berusaha lebih berhati-hati dalam mengatur porsi makan.
Boiyen mengatakan bahwa dirinya lebih memilih membagikan hasil olahan daging kepada keluarga dan teman. Dengan cara itu, semua orang bisa ikut menikmati hidangan khas Idul Adha. Ia merasa kebahagiaan akan lebih besar jika makanan dibagikan bersama. Sikap tersebut juga menjadi cara sederhana untuk menjaga keseimbangan dalam konsumsi.
Ia menilai, menikmati sate bersama keluarga tetap bisa dilakukan tanpa harus berlebihan. Kunci utamanya adalah mengatur porsi dan tidak mengonsumsi terlalu banyak dalam satu waktu. Boiyen menyebut dirinya cukup sadar soal pentingnya menjaga kesehatan. Oleh karena itu, ia memilih menikmati hari raya dengan lebih terkendali.
Kebiasaan menjaga konsumsi daging ini sejalan dengan upayanya mempertahankan pola hidup yang lebih sehat. Meski suka menikmati hidangan khas Idul Adha, ia tidak ingin tubuhnya terbebani. Ia menganggap kesadaran semacam itu perlu dimiliki siapa pun saat merayakan hari besar. Dengan begitu, kebahagiaan tetap bisa dirasakan tanpa mengabaikan kondisi tubuh.
Bagian Boiyen Di Dapur
Soal urusan memasak, Boiyen mengaku tidak terlalu mahir meracik bumbu sate. Ia menyebut perannya lebih banyak pada bagian menyiapkan tusukan daging. Baginya, tugas sederhana itu sudah cukup membantu jalannya kegiatan makan bersama. Ia bahkan mengaku tidak terlalu memahami proses membuat bumbu sate.
Pengakuan itu disampaikan dengan gaya bercanda, sehingga menambah kesan ringan dalam obrolan. Boiyen menyadari bahwa setiap anggota keluarga punya peran masing-masing saat berkumpul. Ada yang memasak, ada yang menyiapkan bahan, dan ada pula yang membantu di bagian lain. Pembagian tugas itu membuat suasana keluarga terasa lebih kompak.
Ia menegaskan bahwa dirinya lebih nyaman berada di bagian yang sederhana. Menusuk daging ke tusukan sate dianggapnya lebih mudah dibanding meracik bumbu. Meski tidak menjadi juru masak utama, ia tetap terlibat dalam tradisi keluarga. Keterlibatan tersebut membuatnya merasa menjadi bagian dari perayaan.
Boiyen pun menutup ceritanya dengan suasana santai dan penuh tawa. Ia kembali menekankan bahwa Idul Adha tetap ia rayakan dengan suka cita meski tahun ini tidak berkurban. Bagi dirinya, kebersamaan keluarga dan tradisi makan bersama sudah cukup untuk menghadirkan rasa syukur. Dari rumah, ia tetap menikmati hari raya dengan cara yang hangat dan sederhana.
