IHSG Rebound ke 6.162,04 Usai Terkoreksi 8 Hari

Forex & Saham Gilang Nabaris 01 Juni 2026 11:02 WIB 2
IHSG Rebound ke 6.162,04 Usai Terkoreksi 8 Hari

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali menguat pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei, setelah melemah selama delapan hari beruntun. Berdasarkan data RTI Business, IHSG naik 1,10 persen ke level 6.162,04, meski sempat turun hingga 5.966,86 pada awal perdagangan.

Penguatan tersebut terjadi di tengah aktivitas transaksi yang cukup besar, dengan volume mencapai 40,26 miliar saham dan nilai transaksi Rp 21,55 triliun. Namun, tekanan belum sepenuhnya hilang karena sejumlah saham konglomerasi di sektor energi masih bergerak melemah pada sesi akhir perdagangan.

IHSG Bangkit Di Penutupan

IHSG menutup perdagangan di zona hijau setelah sempat berada di level terendah dalam lima tahun terakhir pada sesi awal. Kenaikan 1,10 persen ini menjadi sinyal pemulihan setelah tekanan jual yang membayangi pasar dalam beberapa hari terakhir. Meski begitu, pergerakan indeks masih menunjukkan volatilitas yang tinggi.

Sepanjang perdagangan hari ini, frekuensi transaksi tercatat mencapai 1.970.653 kali. Aktivitas tersebut mencerminkan minat pelaku pasar yang tetap besar di tengah sentimen yang campur aduk. Penguatan indeks juga ditopang oleh mayoritas saham yang bergerak naik sepanjang sesi.

Secara akumulatif sepanjang 2026, IHSG masih melemah 28,74 persen. Kondisi ini menunjukkan pemulihan harian belum cukup untuk membalik tren pelemahan yang sudah terbentuk sejak awal tahun. Pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat untuk mendorong indeks bergerak lebih stabil.

Mayoritas Saham Bergerak Naik

Data perdagangan menunjukkan 449 saham menguat, 251 saham melemah, dan 118 saham stagnan. Komposisi tersebut menegaskan sentimen positif lebih dominan pada penutupan bursa. Kendati demikian, penguatan belum merata di semua sektor.

Volume transaksi yang mencapai 40,26 miliar saham memperlihatkan likuiditas pasar masih terjaga. Nilai transaksi sebesar Rp 21,55 triliun juga menandakan aktivitas investor tetap tinggi. Dalam kondisi seperti ini, rotasi sektor menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah indeks.

Selain saham-saham berkapitalisasi besar, sejumlah saham lapis dua dan tiga ikut menopang kenaikan indeks. Pergerakan tersebut memberi ruang bagi IHSG untuk rebound setelah tekanan jual yang panjang. Meski demikian, pasar masih sensitif terhadap sentimen negatif dari saham-saham tertentu.

Saham Energi Masih Tertekan

Tekanan terbesar pada perdagangan hari ini datang dari saham-saham konglomerasi di sektor energi. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA turun 10,66 persen ke harga Rp 545 per saham. Pelemahan ini menjadi salah satu pemberat utama di bursa.

Selain DSSA, PT Bayan Resources Tbk atau BYAN juga terkoreksi 4,53 persen ke posisi Rp 10.000 per saham. Saham milik konglomerat Low Tuck Kwong tersebut masih berada di bawah tekanan jual. Pergerakan ini menunjukkan sektor energi belum sepenuhnya pulih dari aksi ambil untung.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN turut melemah 3,74 persen ke harga Rp 515 per saham. Saham milik Prajogo Pangestu itu ikut menambah tekanan pada emiten-emiten energi konglomerasi. Kondisi tersebut membuat penguatan IHSG belum didukung seluruh saham unggulan.

Prospek IHSG Masih Rapuh

Meski berhasil menguat, prospek IHSG dalam jangka pendek masih dinilai rapuh karena volatilitas pasar belum mereda. Pelemahan tajam dalam beberapa hari sebelumnya menjadi pengingat bahwa sentimen eksternal maupun internal masih dapat menekan indeks. Investor pun cenderung selektif dalam memilih saham.

Pergerakan IHSG ke atas level 6.100 memberi harapan adanya pemulihan teknikal. Namun, selama tekanan pada saham-saham besar masih berlangsung, penguatan indeks berpotensi terbatas. Pelaku pasar perlu mencermati sektor yang menjadi penentu arah perdagangan berikutnya.

Dalam situasi seperti ini, konsistensi arus beli menjadi faktor kunci untuk menjaga momentum rebound. Bila dukungan beli berlanjut, IHSG berpeluang memperbaiki posisi dari titik terendahnya. Sebaliknya, tanpa katalis baru, pasar masih rentan kembali berbalik arah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!