Gelombang kritik terhadap Met Gala 2026 kembali menguat setelah dukungan Jeff Bezos dan istrinya, Lauren Sánchez Bezos, sebagai pendana utama terungkap. Sejumlah aktivis memasang poster protes di sekitar Metropolitan Museum of Art, New York, menjelang perhelatan fashion akbar yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026.
Poster-poster itu memuat seruan seperti Boycott the Bezos Met Gala dan sindiran bahwa acara tersebut didukung oleh pihak yang terkait dengan kebijakan penindakan imigrasi. Sorotan publik pun bergeser dari kemewahan karpet merah ke perdebatan soal etika, pengaruh kekayaan, dan citra industri mode.
Kritik di depan museum
Aktivis gerilya dilaporkan menempelkan poster di sejumlah titik dekat The Metropolitan Museum of Art. Aksi itu dilakukan untuk menarik perhatian publik menjelang malam terbesar di dunia mode.
Pesan yang dibawa cukup tegas, yaitu penolakan terhadap keterlibatan Bezos dalam acara tersebut. Mereka menilai keterlibatan miliarder teknologi itu tidak sejalan dengan nilai yang dijunjung dalam ruang budaya dan seni.
Lokasi aksi dipilih di sekitar museum agar pesan protes mudah terlihat oleh pengunjung dan media. Dengan cara itu, tekanan terhadap penyelenggara diharapkan meningkat sebelum acara dimulai.
Dukungan yang menuai polemik
Pada November lalu, pihak museum mengumumkan bahwa Met Gala tahun ini dimungkinkan berkat dukungan Bezos dan Sánchez Bezos. Selain pasangan itu, terdapat pula nama donor lain seperti Condé Nast, penerbit Vogue, dan rumah mode Saint Laurent.
Laporan PageSix menyebut Bezos menyumbang sekitar US$ 10 juta atau hampir Rp 175 miliar untuk Costume Institute. Dana tersebut akan mendukung divisi pameran mode di The Met yang menjadi pusat penyelenggaraan Met Gala.
Meski sumbangan besar kerap dianggap penting bagi keberlangsungan acara, publik menyoroti dampak reputasional dari sumber pendanaan tersebut. Di tengah sorotan itu, Met Gala kembali dipandang bukan hanya sebagai perayaan mode, tetapi juga panggung pengaruh.
Isu pengaruh miliarder
Keterlibatan Bezos memicu tudingan bahwa ia berupaya membeli pengaruh di salah satu ajang mode paling prestisius di dunia. Kritik tersebut muncul karena Met Gala sering dianggap memiliki daya simbolik yang kuat dalam budaya populer.
Sejumlah pihak menilai dukungan finansial besar dari tokoh bisnis dapat memengaruhi persepsi publik terhadap acara. Dalam konteks itu, kontroversi tidak hanya menyasar sosok Bezos, tetapi juga ekosistem sponsor yang menopang acara.
Perdebatan ini memperlihatkan bagaimana dunia mode semakin bersinggungan dengan isu sosial dan politik. Akibatnya, glamor Met Gala kini ikut dibayangi pertanyaan tentang batas antara filantropi, citra, dan kekuasaan.
Simbol protes di karpet merah
Salah satu poster bahkan menampilkan ilustrasi tabung gas air mata di atas karpet merah. Gambar itu merujuk pada tudingan bahwa Amazon pernah memberhentikan pekerja gudang asing yang terdampak kebijakan deportasi pada era Donald Trump.
Simbol tersebut memperkuat narasi bahwa protes tidak hanya ditujukan pada Met Gala, tetapi juga pada rekam jejak korporasi Bezos. Dengan begitu, kemewahan acara dipertemukan langsung dengan kritik atas kebijakan dan praktik perusahaan besar.
Menjelang pelaksanaan Met Gala 2026, situasi di sekitar The Met diperkirakan tetap menjadi perhatian publik dan media internasional. Di tengah persiapan karpet merah, panggung mode bergengsi itu kembali menghadapi ujian citra yang tidak kalah mencolok dari busana para tamu.
