Bisnis Laundry Indonesia Tumbuh Strategis, Adopsi Naik

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 27 Mei 2026 02:07 WIB 3
Bisnis Laundry Indonesia Tumbuh Strategis, Adopsi Naik

Sektor bisnis laundry atau penatu di Indonesia tengah berada pada momentum pertumbuhan yang strategis. Hal itu disampaikan CEO Apique Group, Apik Primadya, dalam Laundry Innovation Day 2025 yang digelar dengan tema Laundry Business Outlook 2026. Menurut dia, prospek industri ini kian terbuka seiring meningkatnya adopsi layanan penatu modern di kawasan Asia Tenggara.

Apik menyebut pasar penatu di Asia Tenggara tumbuh pesat dengan compound annual growth rate atau CAGR 9,1 persen pada periode 2025-2030. Ia juga menyoroti model laundromat self-service yang pada 2024 telah mencapai 18.000 outlet di Asia Pasifik, atau naik 60 persen dalam empat tahun terakhir. Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan adopsi laundromat tertinggi di kawasan, bersaing dengan Thailand dan Singapura.

Prospek Bisnis Laundry Menguat

Apik menilai industri laundry memiliki ruang pertumbuhan yang masih luas di Indonesia. Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan mendorong kebutuhan layanan yang lebih cepat, praktis, dan terukur. Kondisi ini menjadi salah satu pendorong utama lahirnya model bisnis laundry modern.

Ia menjelaskan, pertumbuhan pasar di Asia Tenggara menunjukkan bahwa sektor ini tidak lagi dipandang sebagai usaha pelengkap. Laundry kini berkembang menjadi bisnis yang bisa dikelola secara profesional dengan dukungan teknologi. Hal tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha kecil hingga skala jaringan.

Menurut dia, adopsi laundromat di Indonesia ikut mengubah cara pandang konsumen terhadap layanan penatu. Masyarakat mulai terbiasa dengan sistem self-service yang menawarkan efisiensi waktu. Tren itu memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar penting di kawasan.

Di sisi lain, pertumbuhan ini juga mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap sektor layanan rumah tangga. Dengan model operasional yang tepat, bisnis laundry dapat menawarkan margin yang kompetitif. Karena itu, momentum saat ini dinilai penting untuk ekspansi yang lebih terarah.

Green Ocean Strategy Diterapkan

Dalam paparannya, Apik juga menjelaskan fokus bisnis yang tengah ia jalankan melalui pendekatan green ocean strategy. Strategi ini memadukan inovasi bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pendekatan tersebut dirancang agar usaha tetap kompetitif sekaligus berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi menjadi salah satu unsur utama dalam strategi tersebut. Pelaku usaha didorong membangun kemitraan yang saling menguntungkan untuk memperkuat ekosistem. Dengan begitu, pertumbuhan bisnis tidak hanya bergantung pada satu lini operasional.

Selain kolaborasi, digitalisasi juga menjadi pilar penting dalam pengembangan usaha laundry. Penggunaan sistem digital dinilai mampu membantu pengelolaan pesanan, pembayaran, dan layanan pelanggan. Efisiensi ini membuat operasional lebih terukur dan minim kesalahan.

Apik menambahkan bahwa efisiensi energi tidak kalah penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Penggunaan peralatan yang hemat listrik dan pengelolaan sumber daya yang tepat dapat menekan biaya operasional. Dalam jangka panjang, langkah ini juga memperkuat citra usaha yang ramah lingkungan.

Inovasi Dorong Daya Saing

Laundry Innovation Day with Expo Laundry 2025 menjadi ajang yang menampilkan berbagai inovasi sektor penatu. Acara tersebut berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Tahun ini, penyelenggaraan dibuat lebih interaktif dibandingkan gelaran sebelumnya.

Konsep yang lebih interaktif dinilai memberi pengalaman berbeda bagi peserta dan pelaku industri. Forum semacam ini memungkinkan pelaku usaha bertukar gagasan secara langsung. Selain itu, ruang diskusi menjadi lebih terbuka untuk membahas kebutuhan pasar yang terus berubah.

Menurut Apik, perubahan format acara juga mencerminkan dinamika industri laundry yang semakin kompetitif. Pelaku usaha dituntut tidak hanya menjual layanan, tetapi juga menghadirkan nilai tambah. Inovasi menjadi faktor pembeda yang menentukan daya saing di pasar.

Dengan adanya forum seperti ini, pelaku industri memiliki kesempatan mempelajari model bisnis baru. Mereka juga dapat melihat peluang kerja sama dengan penyedia teknologi dan peralatan. Hal tersebut diharapkan mempercepat adopsi praktik bisnis yang lebih modern.

Tiket Terjual Sebelum Acara

Antusiasme terhadap acara tahun ini terlihat dari penjualan tiket yang terbatas. Panitia hanya menyediakan 300 tiket untuk peserta. Seluruh tiket tersebut habis terjual satu bulan sebelum acara dimulai.

Apik menyebut pembatasan jumlah peserta dilakukan agar kegiatan berjalan lebih efektif. Dengan jumlah yang lebih kecil, interaksi antar peserta dapat berlangsung lebih intens. Format ini juga mendukung pembahasan yang lebih fokus pada kebutuhan industri.

Ludesnya tiket sebelum acara menjadi sinyal tingginya minat pelaku usaha terhadap perkembangan bisnis laundry. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor penatu semakin dipandang serius sebagai peluang ekonomi. Minat pasar yang kuat memberi ruang bagi lahirnya inovasi baru.

Ke depan, Apik berharap industri laundry Indonesia mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan regional. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha dapat memperkuat posisi di pasar domestik maupun Asia Tenggara. Ia menilai kombinasi inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan akan menjadi kunci utama pertumbuhan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!