Indonesia dinilai perlu segera membangun bandar antariksa nasional agar tidak terus bergantung pada teknologi luar negeri. Pulau Biak disebut sebagai lokasi paling strategis karena berada di garis khatulistiwa dan dinilai unggul untuk peluncuran satelit.
Wacana itu mengemuka seiring pengoperasian satelit Nusantara Lima di Jakarta, ketika Adi menegaskan bahwa Indonesia harus naik kelas dari pengguna menjadi pemain di industri antariksa. BRIN juga menyoroti pentingnya ekosistem satelit nasional yang kuat, agar kebutuhan besar sebagai negara kepulauan dapat dijawab dengan kapasitas dalam negeri.
Bandar Antariksa Biak
Adi menilai Pulau Biak memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan untuk membangun bandar antariksa Indonesia. Lokasi itu berada dekat garis khatulistiwa, sehingga ideal untuk peluncuran satelit orbit ekuatorial dan geostasioner.
Menurut dia, keunggulan tersebut membuat Biak lebih efisien dibandingkan sejumlah lokasi peluncuran lain di dunia. Ia menyebut potensi penghematan bahan bakar dapat mencapai 15 persen, sementara kapasitas muatan bisa meningkat hingga 25 persen.
Dengan kondisi itu, Biak dinilai bukan hanya relevan untuk kebutuhan nasional, tetapi juga berpotensi menjadi pusat layanan peluncuran regional. Posisi strategis tersebut disebut dapat memperkuat daya saing Indonesia di sektor antariksa global.
Adi juga menekankan bahwa satelit memiliki fungsi vital sebagai penghubung digital antarpulau di Indonesia. Peran itu mencakup wilayah dari Sabang hingga Merauke, termasuk daerah terluar seperti Miangas dan Pulau Rote.
Ekosistem Antariksa Nasional
Adi menilai Indonesia tidak cukup hanya memiliki satelit dan kemampuan pengoperasian, karena selama lebih dari 50 tahun peran nasional masih terbatas. Ia menegaskan bahwa negara perlu membangun ekosistem industri antariksa yang utuh dan berkelanjutan.
Menurut dia, akses menuju luar angkasa tidak bisa dibangun oleh pihak swasta sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, sektor swasta, dan mitra internasional agar infrastruktur antariksa dapat berjalan efektif.
PSN disebut mendukung rencana pembangunan spaceport nasional yang tengah dipersiapkan bersama BRIN dan sejumlah negara mitra. Rusia, India, dan Turki disebut masuk dalam jajaran pihak yang dapat dilibatkan dalam pengembangan tersebut.
Adi menilai akses ke luar angkasa merupakan hak strategis yang harus dijaga bersama. Ia menekankan bahwa kemandirian antariksa hanya dapat dicapai jika Indonesia membangun kemampuan yang menyeluruh, bukan parsial.
Regulasi Antariksa Menguat
Dari sisi kebijakan, pemerintah disebut telah menyiapkan landasan regulasi untuk mendorong industri antariksa nasional. Salah satu yang menjadi pijakan adalah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Akuisisi Teknologi Antariksa.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyusun aturan pengelolaan spaceport agar proyek tersebut memiliki kepastian hukum. Pada saat yang sama, KBLI 2025 mulai memasukkan manufaktur satelit dan peluncuran sebagai sektor usaha resmi.
Arif Satria menyebut langkah regulasi itu penting untuk membuka jalan bagi investasi dan pengembangan industri dalam negeri. Tanpa kepastian aturan, ekosistem antariksa akan sulit tumbuh secara konsisten dan kompetitif.
Ia menilai Indonesia memerlukan sovereign capability atau kemampuan mandiri yang berkelanjutan di sektor antariksa. Hal itu mencakup kebijakan yang kuat, dukungan politik, serta pengembangan talenta muda di bidang teknologi antariksa.
Ekonomi Antariksa Masa Depan
BRIN mengakui tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah belum terbentuknya ekosistem industri satelit nasional yang kuat. Minimnya investasi swasta dan kolaborasi industri membuat Indonesia belum memiliki manufaktur satelit yang utuh.
Padahal, kebutuhan domestik Indonesia sangat besar sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Kondisi itu dinilai dapat menjadi modal awal untuk menumbuhkan pasar, produksi, dan layanan antariksa di dalam negeri.
Arif menjelaskan bahwa visi Indonesia 2045 menempatkan ekonomi antariksa sebagai sektor strategis masa depan. Sektor ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi, meningkatkan kemakmuran, dan memperkuat kedaulatan teknologi nasional.
Ia menegaskan pilihan Indonesia dalam lima tahun ke depan akan menentukan arah posisi negara di ekonomi antariksa global. Menurut dia, Indonesia harus memilih apakah hanya menjadi peserta, atau ikut mendefinisikan masa depan industri antariksa.
