Biak Dinilai Strategis untuk Bandar Antariksa Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 01 Juni 2026 15:17 WIB 2
Biak Dinilai Strategis untuk Bandar Antariksa Indonesia

Indonesia dinilai perlu segera membangun bandar antariksa nasional agar tidak terus bergantung pada teknologi luar negeri. Penilaian itu muncul seiring dorongan untuk memperkuat ekosistem industri antariksa yang lebih utuh dan mandiri. Di tengah kebutuhan konektivitas satelit yang makin besar, penguasaan akses ke luar angkasa dipandang sebagai kepentingan strategis nasional. Pulau Biak disebut sebagai salah satu lokasi paling potensial untuk mewujudkan target tersebut.

Adi menuturkan, selama lebih dari 50 tahun Indonesia berkecimpung di dunia satelit, kemampuan nasional masih terbatas pada pengoperasian satelit dan peluncuran sejumlah satelit riset. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pengguna, melainkan harus naik kelas menjadi pemain dalam ekonomi antariksa. Menurut dia, satelit berperan sebagai benang digital yang menghubungkan wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke, termasuk daerah terluar. Karena itu, akses mandiri ke luar angkasa dianggap tidak bisa ditunda lagi.

Bandar Antariksa Biak

Menurut Adi, posisi geografis Indonesia sangat menguntungkan karena berada di garis khatulistiwa. Kondisi tersebut ideal untuk peluncuran satelit orbit ekuatorial maupun geostasioner. Pulau Biak dinilai memiliki keunggulan alam yang dapat dimanfaatkan untuk membangun bandar antariksa nasional. Dalam perbandingan teknis, lokasi itu disebut lebih efisien daripada sejumlah pusat peluncuran lain di dunia.

Adi menyebut, Biak dapat menghemat bahan bakar hingga 15 persen dan menambah kapasitas muatan sampai 25 persen dibandingkan Cape Canaveral. Keunggulan itu membuat Biak dipandang sebagai lokasi yang sangat kompetitif untuk aktivitas peluncuran satelit. Dengan posisi tersebut, Indonesia berpeluang menjadi titik penting bagi penempatan satelit geostasioner di kawasan ekuator. Potensi itu juga memperkuat alasan pembangunan spaceport nasional di wilayah timur Indonesia.

Ia menilai fasilitas peluncuran tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga simbol kedaulatan teknologi. Jika Indonesia memiliki bandar antariksa sendiri, maka rantai layanan antariksa dapat dibangun di dalam negeri. Hal itu akan memberi ruang lebih besar bagi industri, riset, dan pengembangan talenta nasional. Dalam jangka panjang, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada fasilitas peluncuran negara lain.

Selain efisiensi teknis, Biak disebut memiliki nilai strategis bagi pemerataan pembangunan nasional. Kehadiran bandar antariksa berpotensi mendorong ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan memunculkan sektor turunan baru. Di sisi lain, infrastruktur ini dapat menjadi penguat posisi Indonesia dalam percaturan antariksa regional. Karena itu, Biak dinilai bukan sekadar lokasi proyek, melainkan pintu masuk menuju kemandirian antariksa.

Ekosistem Satelit Nasional

Adi menegaskan bahwa akses menuju luar angkasa tidak mungkin dibangun oleh pihak swasta semata. Dibutuhkan kolaborasi nasional yang melibatkan pemerintah, lembaga riset, sektor swasta, dan mitra internasional. Model kerja sama seperti itu dinilai penting agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain yang lebih dahulu mengembangkan industri antariksa. Tanpa ekosistem yang solid, pembangunan spaceport berisiko berhenti pada tahap infrastruktur.

Ia menyebut, satelit memiliki fungsi vital sebagai penghubung layanan komunikasi, navigasi, dan data lintas wilayah. Bagi Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, kebutuhan terhadap jaringan satelit sangat besar dan terus tumbuh. Karena itu, industri yang menopang peluncuran dan manufaktur satelit harus dibangun secara serius. Dengan dasar tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen solusi antariksa.

PSN disebut mendukung rencana pembangunan spaceport nasional yang tengah disiapkan pemerintah bersama BRIN dan sejumlah negara mitra. Rusia, India, dan Turki termasuk dalam daftar mitra yang disebut membuka peluang kerja sama. Dukungan lintas negara itu dipandang dapat mempercepat transfer pengetahuan dan penguatan kapabilitas lokal. Pada saat yang sama, kerja sama harus tetap diarahkan untuk memperbesar kemampuan nasional.

Di sektor hulu, Indonesia juga perlu menyiapkan rantai pasok industri yang mampu menopang pengembangan satelit dari tahap desain hingga integrasi. Ketiadaan manufaktur satelit yang utuh selama ini menjadi hambatan besar bagi kemandirian nasional. Jika rantai industri terbentuk, manfaat ekonominya tidak hanya dirasakan oleh pelaku besar, tetapi juga oleh usaha penunjang. Ekosistem yang lengkap akan membuat Indonesia lebih siap bersaing di pasar antariksa global.

Regulasi dan Investasi

Di tempat terpisah, Kepala BRIN Arif Satria mengakui tantangan utama Indonesia adalah belum terbentuknya ekosistem industri satelit nasional yang kuat. Menurut dia, minimnya investasi swasta dan kolaborasi industri membuat sektor ini belum berkembang secara utuh. Padahal, kebutuhan domestik Indonesia sangat besar sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Kondisi itu menunjukkan bahwa peluang pasar sebenarnya tersedia, tetapi belum tergarap maksimal.

Pemerintah disebut telah menyiapkan sejumlah landasan kebijakan penting untuk memperkuat sektor antariksa. Di antaranya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Akuisisi Teknologi Antariksa. Selain itu, ada rancangan aturan pengelolaan spaceport dan KBLI 2025 yang mulai memasukkan manufaktur satelit serta peluncuran sebagai sektor usaha resmi. Kehadiran regulasi ini diharapkan memberi kepastian bagi investor dan pelaku industri.

Arif menilai kepastian hukum menjadi syarat penting agar investasi mengalir ke sektor antariksa. Tanpa aturan yang jelas, pelaku usaha akan ragu masuk ke industri yang membutuhkan modal besar dan waktu panjang. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kerangka regulasi berjalan seiring dengan kesiapan teknis di lapangan. Kombinasi keduanya akan menentukan seberapa cepat ekosistem antariksa nasional tumbuh.

Selain regulasi, dukungan pembiayaan dan skema kemitraan juga dinilai penting untuk mendorong partisipasi swasta. Industri antariksa membutuhkan investasi jangka panjang, tetapi potensi imbal hasilnya dapat sangat besar. Jika ekosistem terbentuk, efek bergandanya akan terasa pada riset, manufaktur, dan layanan berbasis data. Dengan demikian, antariksa dapat berkembang menjadi sektor ekonomi baru yang bernilai tinggi.

Menuju Ekonomi Antariksa

Arif menyebut seluruh langkah yang sedang disiapkan merupakan bagian dari visi Indonesia 2045. Visi itu menempatkan ekonomi antariksa sebagai sektor strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi. Selain itu, pengembangan sektor ini diharapkan dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat. Pada saat yang sama, kedaulatan teknologi nasional juga akan semakin kuat.

Menurut dia, pembangunan spaceport di Pulau Biak menjadi salah satu elemen penting dalam perjalanan tersebut. Fasilitas itu tidak hanya berfungsi untuk peluncuran satelit regional, tetapi juga sebagai penopang industri yang lebih luas. Jika dikelola dengan baik, Indonesia dapat masuk ke rantai nilai antariksa global. Posisi itu akan memberi keuntungan strategis dalam jangka panjang.

Arif menegaskan bahwa pilihan Indonesia dalam lima tahun ke depan akan sangat menentukan arah masa depan sektor ini. Negara ini bisa tetap menjadi peserta dalam ekonomi antariksa, atau justru ikut mendefinisikan arahnya. Pilihan tersebut menuntut keberanian politik, konsistensi kebijakan, dan keberlanjutan investasi. Tanpa tiga hal itu, peluang besar yang dimiliki Indonesia bisa berlalu begitu saja.

Dengan keunggulan geografis, kebutuhan domestik yang besar, dan dukungan kebijakan yang mulai terbentuk, Indonesia dinilai memiliki modal awal yang kuat. Tantangannya kini adalah memastikan seluruh unsur bergerak dalam satu arah yang sama. Jika ekosistem antariksa berhasil dibangun, Indonesia berpeluang menjadi pemain penting di kawasan. Dari sana, kemandirian antariksa bukan lagi wacana, melainkan kenyataan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!