Ferry Maryadi merayakan Idul Adha bersama keluarga dengan cara yang sederhana dan penuh makna. Ia menjalankan salat Id, lalu menyembelih hewan kurban bersama orang-orang terdekat. Momen tersebut juga menjadi ajang bagi anak bungsunya, Abay, untuk mulai belajar memahami arti berkurban.
Ferry mengungkapkan, keluarga mereka menjalani perayaan seperti masyarakat pada umumnya. Ia menilai pengalaman itu penting, terutama karena sang putra mulai dilibatkan dalam proses memilih hewan kurban. Di sisi lain, keluarga kecil itu juga kembali memperoleh rezeki untuk berkurban sapi pada tahun ini.
Idul Adha bersama keluarga
Ferry Maryadi menyebut perayaan Idul Adha tahun ini berlangsung normal bersama keluarga. Mereka memulai hari dengan salat Id berjemaah, lalu melanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Menurutnya, suasana tersebut terasa hangat karena dijalani bersama orang-orang terdekat.
Ia mengatakan tidak ada yang berlebihan dalam perayaan itu. Semua dijalani sebagaimana kebanyakan keluarga Muslim pada umumnya. Ferry menilai kebersamaan justru menjadi hal paling berkesan dalam momen tersebut.
Meski sederhana, perayaan itu tetap memberi makna penting bagi keluarganya. Ferry merasa momen Idul Adha dapat menjadi pengingat tentang rasa syukur dan berbagi. Karena itu, ia berusaha menjaga tradisi tersebut di dalam keluarga.
Abay belajar berkurban
Salah satu hal yang paling disorot Ferry adalah keterlibatan anak bungsunya, Abay. Tahun ini, sang putra mulai belajar membeli hewan kurban sendiri. Ferry menyebut langkah itu sebagai proses awal untuk memahami nilai ibadah kurban.
Abay diketahui membeli seekor kambing dengan uang tabungannya sendiri. Dana itu berasal dari uang hadiah Lebaran dan uang khitan yang selama ini disimpan. Ferry melihat kebiasaan menabung itu sebagai hal positif bagi anaknya.
Menurut Ferry, Abay memang ingin belajar secara langsung tentang kurban. Ia lalu mengarahkan sang anak untuk membeli kambing terlebih dahulu sebagai tahap awal. Dengan cara itu, Ferry berharap Abay memahami proses dan makna ibadah tersebut.
Tabungan jadi pelajaran
Ferry menjelaskan bahwa pembelian kambing tersebut tidak menggunakan uang orang tua. Abay memakai uang jajannya sendiri yang sudah dikumpulkan dalam waktu cukup lama. Kebiasaan itu membuat sang anak belajar mengelola uang sejak dini.
Ia mengatakan, uang dari Lebaran Idul Fitri dan hadiah sunat menjadi sumber tabungan Abay. Jumlahnya kemudian cukup untuk membeli hewan kurban yang diinginkan. Ferry menilai pengalaman itu penting agar anak memahami nilai dari usaha dan kesabaran.
Di usia 11 tahun, Abay disebut masih sering bertanya tentang konsep berkurban. Ferry mengaku pertanyaan itu wajar karena anak seusianya memang belum sepenuhnya memahami pembagian daging kurban. Menurutnya, rasa ingin tahu itu justru menjadi bagian dari proses belajar.
Syukur atas rezeki sapi
Selain Abay, Ferry dan Deswita Maharani juga ikut berkurban pada Idul Adha tahun ini. Keduanya kembali mendapat rezeki untuk menyembelih sapi. Ferry menyebut hal itu sebagai bentuk syukur atas kelancaran rezeki keluarga mereka.
Ia merasa bersyukur karena keluarga masih diberi kesempatan untuk berbagi melalui kurban. Menurutnya, kemampuan berkurban bukan hanya soal materi, tetapi juga tentang niat dan keikhlasan. Karena itu, ia menilai Idul Adha selalu membawa pelajaran penting bagi keluarga.
Ferry pun berharap tradisi tersebut bisa terus dijaga dari tahun ke tahun. Ia ingin anak-anaknya tumbuh dengan pemahaman bahwa kurban bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, kurban adalah latihan berbagi, peduli, dan bersyukur atas rezeki yang diterima.
