BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat Usai Kenaikan BI Rate

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 16:55 WIB 4
BI Yakin Rupiah Stabil dan Menguat Usai Kenaikan BI Rate

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah BI menaikkan suku bunga acuan. Ia memperkirakan perbaikan rupiah mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026, seiring respons kebijakan moneter yang lebih ketat.

Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, diikuti kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen. Kebijakan ini diambil untuk meredam tekanan nilai tukar yang masih dipengaruhi faktor global dan musiman di dalam negeri.

BI Rate Dorong Rupiah

Perry menjelaskan bahwa rupiah secara fundamental masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Kondisi tersebut membuat tekanan pasar terhadap mata uang domestik masih terasa kuat dalam beberapa waktu terakhir. Namun, BI menilai respons kebijakan suku bunga akan membantu menahan gejolak yang muncul. Dengan arah kebijakan yang lebih tegas, stabilitas rupiah diharapkan segera terbentuk kembali.

Menurut Perry, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada suku bunga acuan, tetapi juga pada kepercayaan pelaku pasar. Saat investor melihat bank sentral mengambil langkah cepat, ekspektasi terhadap stabilitas mata uang biasanya ikut membaik. BI pun ingin memastikan kebijakan yang ditempuh selaras dengan kondisi pasar keuangan. Dalam pandangannya, penyesuaian suku bunga menjadi sinyal penting bagi pasar.

Perry menegaskan bahwa penguatan rupiah berpeluang mulai terlihat pada periode Juli dan Agustus 2026. Pola historis menunjukkan rupiah kerap menghadapi tekanan pada April, Mei, dan Juni, lalu bergerak lebih kuat setelahnya. BI meyakini tren tersebut dapat terulang jika tekanan eksternal mereda. Karena itu, otoritas moneter tetap optimistis terhadap arah nilai tukar ke depan.

Tekanan Global Masih Berat

Dari sisi global, Perry menyebut rupiah masih tertekan oleh beragam sentimen negatif. Kebijakan tarif global, konflik geopolitik di Timur Tengah, dan kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang. Di saat yang sama, arah suku bunga global masih cenderung ketat. Situasi ini membuat dolar Amerika Serikat tetap kuat di pasar internasional.

Perry menambahkan bahwa kondisi tersebut tidak hanya dirasakan Indonesia, melainkan hampir seluruh dunia. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat, inflasi yang meningkat, serta tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat turut memperberat tekanan. Kenaikan Fed Fund Rate dan Yield US Treasury juga mendorong penguatan dolar. Akibatnya, mata uang lain, termasuk rupiah, ikut melemah.

Dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 20 Mei 2026, Perry menilai tekanan global tersebut masih akan memengaruhi pasar dalam jangka pendek. Ia menekankan bahwa kombinasi harga minyak tinggi dan kebijakan moneter ketat membuat investor cenderung berhati-hati. Arus modal pun bergerak lebih selektif ke negara dengan imbal hasil dan stabilitas yang dianggap menarik. Di tengah kondisi itu, BI memilih merespons dengan kebijakan yang terukur.

Permintaan Valas Musiman

Dari sisi domestik, rupiah turut melemah akibat tingginya kebutuhan valuta asing pada periode April hingga Juni. Permintaan valas tersebut bersifat musiman dan biasanya meningkat menjelang berbagai kebutuhan rutin masyarakat dan korporasi. Kebutuhan ibadah haji dan umrah menjadi salah satu pendorong utama. Selain itu, pembayaran utang luar negeri dan pembagian dividen perusahaan juga menambah tekanan.

Perry menjelaskan bahwa tingginya permintaan valas domestik berlangsung bersamaan dengan kondisi global yang memicu capital outflow. Kombinasi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih berat dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, BI melihat pola ini lazim terjadi pada pertengahan tahun. Setelah periode tersebut berlalu, permintaan valas biasanya cenderung menurun.

Ia menilai tekanan musiman itu tidak menggambarkan kelemahan struktural ekonomi Indonesia. Menurutnya, tantangan yang muncul lebih banyak berasal dari perpaduan faktor eksternal dan kebutuhan domestik yang sementara. Karena itu, BI terus menjaga keseimbangan pasar agar gejolak tidak berlangsung lebih lama. Langkah stabilisasi dilakukan agar rupiah kembali bergerak sesuai fundamentalnya.

Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Di tengah tekanan yang terjadi, Perry menilai ekonomi domestik masih mampu menopang penguatan rupiah. Defisit transaksi berjalan tetap rendah, pertumbuhan ekonomi masih tinggi, dan inflasi berada pada level yang terkendali. Kombinasi tersebut menjadi penopang penting bagi stabilitas makroekonomi Indonesia. Menurut BI, fondasi ini memberi ruang bagi rupiah untuk pulih.

Bank Indonesia juga melakukan intervensi pasar valas secara intensif untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Pada saat yang sama, BI menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI agar lebih menarik bagi investor. Kebijakan itu dinilai berhasil membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar besar-besaran. Dengan demikian, tekanan dari sisi aliran dana dapat diredam lebih cepat.

Perry menutup penjelasannya dengan keyakinan bahwa rupiah akan stabil pada Juni dan cenderung menguat pada Juli serta Agustus. Ia melihat pola historis sebagai salah satu dasar optimisme bank sentral dalam membaca arah pasar. Meski tantangan global masih ada, BI menilai kombinasi kebijakan suku bunga, intervensi pasar, dan fundamental ekonomi akan menjaga ketahanan rupiah. Dengan dukungan tersebut, pasar diharapkan kembali tenang dalam beberapa bulan mendatang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!