BI: Rupiah Dipicu Faktor Global, Fundamental Kuat

BRH 13 Mei 2026 09:27 WIB 8
BI: Rupiah Dipicu Faktor Global, Fundamental Kuat

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan pelemahan Rupiah tidak disebabkan oleh fundamental ekonomi Indonesia, melainkan dipicu faktor global.

Menurut Perry, indikator domestik tetap kuat meski kurs mengalami tekanan, sehingga penurunan nilai tukar lebih banyak bersifat siklis ketimbang struktural.

Penjelasan tersebut disampaikan pada Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di Jakarta, 7 Mei 2026, untuk menguraikan dinamika kurs Rupiah.

Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen, menjadi salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20.

Laju inflasi berada pada 2,42 persen, sedangkan neraca perdagangan menunjukkan surplus dan kredit perbankan tumbuh tinggi.

Fundamental domestik dinilai tetap kuat, tetapi pelemahan Rupiah dipicu faktor eksternal seperti harga minyak, tensi geopolitik, dan penguatan dolar AS.

Faktor Global Tekan Rupiah

Perry menjelaskan pelemahan Rupiah lebih dipicu faktor global ketimbang lemah secara fundamental.

Faktor utama yang disebut ialah kenaikan harga minyak, tensi geopolitik di Timur Tengah, dan peningkatan suku bunga AS.

Suku bunga AS meningkat ke kisaran 4,41 persen, membuat dolar menguat dan aliran modal keluar dari negara berkembang meningkat.

Nilai tukar Rupiah terdampak oleh dinamika dolar AS yang kuat secara global.

Investor asing juga cenderung outflow dari berbagai negara berkembang akibat respons kebijakan moneter besar.

Kondisi ini mempengaruhi pasar valas domestik meski fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat.

Segi musiman turut meningkatkan kebutuhan valas, terutama pada periode April hingga Mei.

Permintaan valas meningkat untuk keperluan ibadah umrah dan haji.

Selain itu, banyak korporasi melakukan repatriasi dividen serta membayar utang luar negeri pada periode tersebut.

Musiman dan Ketidakpastian

Segi musiman turut meningkatkan kebutuhan valas, terutama pada periode April hingga Mei.

Permintaan valas meningkat untuk keperluan ibadah umrah dan haji.

BI memantau pergerakan arus modal untuk menjaga stabilitas kurs.

Selain faktor ibadah, korporasi juga melakukan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri pada periode itu.

Hal ini menambah tekanan terhadap likuiditas rupiah di pasar valas domestik.

Langkah kebijakan BI difokuskan pada memperkuat landasan stabilitas nilai tukar sambil menjaga likuiditas.

Kondisi Fundamental Indonesia

Perry menegaskan bahwa secara indikator fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

Pertumbuhan triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen dan inflasi terjaga di 2,42 persen.

Neraca perdagangan menunjukkan surplus dan kredit perbankan tumbuh tinggi, mendukung stabilitas.

Indikator tersebut menunjukkan kapasitas Indonesia menjaga momentum pertumbuhan meski kurs bergejolak.

Intervensi kebijakan moneter BI difokuskan pada menjaga stabilitas nilai tukar sambil mendorong aktivitas ekonomi.

Investor disarankan memantau dinamika global sambil menilai potensi risiko dan peluang.

Pembahasan selanjutnya akan memantau respons kebijakan terhadap perubahan kondisi global.

BI berkomitmen menjaga stabilitas keuangan nasional melalui kombinasi kebijakan moneter dan koordinasi dengan otoritas terkait.

Sekaligus, upaya reformasi struktural diharapkan memperkuat ketahanan ekonomi menghadapi gejolak eksternal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!