BI Perluas Mata Uang DHE SDA ke Yuan China

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 06:11 WIB 2
BI Perluas Mata Uang DHE SDA ke Yuan China

Bank Indonesia (BI) akan memperluas mata uang yang dapat digunakan eksportir dalam penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Kebijakan ini membuat yuan China ikut masuk sebagai opsi, seiring makin besarnya transaksi perdagangan Indonesia dengan China.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan langkah itu dalam rapat bersama sejumlah asosiasi pengusaha di Jakarta, Kamis (21/5/2026). Aturan terbaru DHE SDA juga mewajibkan penempatan dana di bank BUMN maupun bank swasta dalam negeri mulai 1 Juni 2026.

DHE SDA dan yuan China

Perry menjelaskan, selama ini instrumen penempatan DHE SDA masih didominasi dolar Amerika Serikat. Namun, BI kini memperluas penggunaan mata uang non-USD agar eksportir memiliki pilihan yang lebih fleksibel.

Menurut Perry, perluasan itu sejalan dengan pendalaman pasar valuta asing domestik. Salah satu yang menjadi pendorong utama adalah meningkatnya transaksi yuan dalam negeri melalui skema Local Currency Transaction atau LCT.

Ia menilai, perdagangan Indonesia dan China yang terus bertumbuh membuat penggunaan yuan semakin relevan. Karena itu, BI mendorong agar transaksi valuta asing tidak hanya bergantung pada dolar AS.

BI juga melihat penggunaan yuan telah semakin diterima pelaku usaha. Dengan dukungan pasar domestik yang lebih dalam, eksportir diharapkan dapat mengelola devisa dengan biaya transaksi yang lebih efisien.

Transaksi lokal terus meningkat

Perry menyebut nilai transaksi LCT Indonesia-China terus naik dari tahun ke tahun. Pada 2025, nilainya disebut mencapai lebih dari US$ 25 miliar per tahun.

Adapun pada 2026, nilai transaksi bulanan sudah berada di kisaran US$ 3,7 miliar. Angka ini menunjukkan permintaan terhadap transaksi lintas mata uang lokal semakin kuat.

BI menilai tren tersebut menjadi bukti bahwa pasar valuta asing domestik semakin matang. Dalam kondisi itu, penggunaan yuan untuk penempatan DHE SDA dianggap lebih mudah diterapkan.

Selain China, BI juga terus mendorong pemanfaatan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan mitra dagang lain. Strategi ini diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam jangka panjang.

Kerja sama bank diperluas

Untuk mendukung kebijakan tersebut, BI telah bekerja sama dengan sejumlah bank dan bank sentral China. Kolaborasi itu memungkinkan transaksi yuan dilakukan langsung di dalam negeri.

Perry mengatakan masyarakat dan pelaku usaha kini sudah dapat melakukan transaksi yuan di Indonesia. Fasilitas yang tersedia mencakup transaksi spot, swap, hingga forward.

Keberadaan infrastruktur tersebut dinilai penting agar eksportir tidak kesulitan saat menempatkan maupun mengelola hasil ekspornya. Dengan demikian, kebijakan DHE SDA dapat berjalan lebih efektif.

BI menegaskan penguatan kerja sama lintas lembaga akan terus dilakukan. Tujuannya adalah memastikan seluruh kebutuhan transaksi valas tetap aman, cepat, dan efisien.

Bank swasta ikut disiapkan

Selain memperluas mata uang, BI juga memperpanjang tenor instrumen DHE SDA hingga 12 bulan. Kebijakan ini memberi ruang lebih besar bagi eksportir untuk menempatkan dana di perbankan domestik.

Perry menegaskan BI mendukung penuh implementasi DHE SDA agar devisa hasil ekspor benar-benar bermanfaat bagi perekonomian nasional. Di sisi lain, dunia usaha tetap diharapkan memperoleh fleksibilitas dalam pengelolaan dana.

Terkait penempatan di bank swasta, Perry menyebut tidak semua bank dapat dipilih. Bank harus memiliki kerja sama internasional, ukuran yang besar, manajemen risiko yang memadai, dan infrastruktur yang mendukung kebutuhan eksportir.

BI juga menekankan pentingnya kualitas layanan bank agar penempatan DHE SDA tidak menghambat aktivitas usaha. Dengan skema ini, pemerintah berharap devisa ekspor dapat memperkuat likuiditas domestik dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!