Penjabat sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, merespons optimistis pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam pidato itu, Prabowo memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027, termasuk target pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Jeffrey menilai proyeksi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi pasar modal, terutama bagi Indeks Harga Saham Gabungan. Saat ini, IHSG masih bergerak fluktuatif, namun koreksinya sudah berkurang seiring meningkatnya ekspektasi terhadap prospek ekonomi nasional.
Optimisme pasar modal
Jeffrey menyebut BEI optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan yang lebih tinggi akan mendorong kepercayaan investor. Kondisi itu dinilai bisa memperkuat minat investasi di pasar modal. Pada akhirnya, IHSG berpeluang ikut tumbuh sejalan dengan ekonomi nasional.
Ia menegaskan bahwa optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Pasar cenderung merespons positif ketika pemerintah menunjukkan arah kebijakan yang jelas. Kepastian mengenai fiskal dan iklim usaha menjadi faktor penting bagi pelaku pasar. Hal ini juga mendukung persepsi risiko yang lebih rendah.
Dalam pandangannya, kemudahan berusaha akan menjadi penopang tambahan. Investor domestik disebut akan lebih percaya diri jika ekspansi ekonomi terjaga. Sentimen itu dapat membantu pergerakan saham di berbagai sektor. Karena itu, BEI memandang pidato fiskal tersebut relevan bagi pasar.
Pergerakan IHSG terkini
Di tengah respons pasar terhadap pidato tersebut, IHSG tercatat memangkas koreksi hariannya. Indeks sempat melemah hingga 2,25 persen ke level 6.227,41 pada pukul 11.19 WIB. Namun, tekanan jual kemudian mereda. IHSG akhirnya bergerak lebih baik dan memangkas pelemahan menjadi 0,60 persen ke level 6.332,17.
Pergerakan itu menunjukkan pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan ekonomi pemerintah. Meski volatilitas sempat tinggi, pasar tidak kehilangan minat sepenuhnya. Koreksi yang lebih dangkal sering kali dianggap sebagai sinyal bertahannya kepercayaan investor. Dalam situasi seperti ini, sentimen makro memiliki peran besar.
Jeffrey menilai pasar masih memiliki ruang untuk melanjutkan pemulihan. Ia mengaitkan itu dengan harapan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada tahun mendatang. Jika dukungan kebijakan berjalan konsisten, indeks dapat memperoleh dorongan tambahan. Optimisme tersebut menjadi modal penting bagi bursa.
Target ekonomi 2027
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menetapkan sejumlah sasaran ekonomi untuk tahun 2027. Target pertumbuhan ekonomi dipatok di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen. Pemerintah juga menargetkan inflasi berada pada rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Selain itu, rupiah diperkirakan berada di level Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Prabowo menekankan pentingnya strategi fiskal dan moneter yang menjaga stabilitas nilai tukar. Ia menyebut kebijakan tersebut harus mampu melindungi rupiah terhadap gejolak mata uang dunia. Target itu dinilai mencerminkan upaya pemerintah menjaga fondasi ekonomi. Pasar kemudian menyoroti konsistensi implementasinya.
Selain nilai tukar, pemerintah juga memproyeksikan tingkat bunga SUN 10 tahun di kisaran 6,5 persen hingga 7,3 persen. Untuk sektor energi, harga minyak mentah Indonesia atau ICP ditetapkan sebesar US$70 hingga US$95 per barel. Adapun lifting minyak bumi ditargetkan 602.000 hingga 615.000 barel per hari. Lifting gas bumi dipatok 934.000 hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.
Prospek rupiah dan investasi
Target rupiah dalam RAPBN 2027 menjadi perhatian pelaku pasar keuangan. Kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS dinilai mencerminkan asumsi yang cukup menantang. Meski begitu, proyeksi tersebut dianggap memberi arah bagi pelaku usaha dan investor. Kepastian target membantu pasar membaca arah kebijakan pemerintah.
Bagi pasar saham, stabilitas rupiah penting karena memengaruhi arus modal asing. Bila nilai tukar lebih terkendali, kepercayaan investor biasanya ikut membaik. Hal ini dapat menopang kinerja emiten yang memiliki eksposur impor maupun utang valuta asing. Dengan begitu, efeknya bisa merembet ke sentimen IHSG.
Jeffrey menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi, kemudahan berusaha, dan stabilitas investasi akan menjadi pendorong utama. Ia menegaskan BEI tetap memantau dinamika kebijakan fiskal dan moneter. Pasar, menurut dia, membutuhkan konsistensi agar optimisme berubah menjadi kinerja nyata. Dalam konteks itu, target pemerintah menjadi katalis yang patut dicermati.
