Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali menggelar pertemuan lanjutan dengan sejumlah lembaga penyedia indeks global, termasuk MSCI dan FTSE Russell, sebagai bagian dari tindak lanjut reformasi pasar modal Indonesia. Pertemuan ini juga menjadi forum untuk membahas masukan teknis menjelang pemberlakuan rebalancing indeks yang memengaruhi sejumlah saham domestik.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan komunikasi dengan penyedia indeks global berlangsung rutin, baik pada level strategis maupun teknis. Ia menyebut BEI telah menyampaikan seluruh data yang diminta, sembari menunggu umpan balik dari MSCI, FTSE Russell, dan investor global.
Rebalancing MSCI dan FTSE
Jeffrey menjelaskan bahwa pertemuan terakhir dengan MSCI berlangsung pada akhir April 2026. Pada Mei 2026, BEI juga menerima permintaan data tambahan dari MSCI dan telah menindaklanjutinya sesuai kebutuhan.
Menurut Jeffrey, setelah itu masih akan ada pertemuan lagi di level teknis untuk memastikan seluruh informasi tersampaikan dengan baik. Ia menegaskan diskusi dengan penyedia indeks global berjalan terus dan dilakukan secara rutin.
BEI menilai dialog tersebut penting untuk menjaga transparansi pasar dan mendukung proses evaluasi indeks internasional. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Masukan Investor Global
Selain dengan MSCI dan FTSE Russell, BEI juga rutin bertemu dengan kelompok investor global. Jeffrey tidak menyebut secara rinci entitas yang terlibat, tetapi menegaskan komunikasi berlangsung konsisten.
Ia mengatakan BEI tidak hanya menyampaikan data yang diperlukan, tetapi juga membuka ruang untuk menerima pandangan dari berbagai pihak. Menurutnya, masukan dari investor global menjadi bagian penting dalam proses perbaikan pasar.
BEI berharap dialog yang berkesinambungan dapat membantu menciptakan penyesuaian yang lebih baik terhadap dinamika indeks global. Dengan begitu, pasar modal Indonesia dapat tetap kompetitif dan menarik bagi investor asing.
Dampak Pada Saham Indonesia
MSCI dan FTSE Russell telah mengumumkan pengeluaran sejumlah saham Indonesia dari indeks masing-masing. Kebijakan tersebut akan berlaku efektif pada 29 Mei 2026, seiring pelaksanaan rebalancing indeks global.
MSCI diketahui mengeluarkan 18 saham asal Indonesia, termasuk dua saham dalam kategori high shareholding concentration atau HSC. Dua saham itu adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
FTSE Russell juga melakukan penyesuaian serupa dengan mengeluarkan DSSA dari konstituen indeks Large Cap FTSE Global Equity Index Series atau GEIS. Selain itu, FTSE Russell menghapus PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dari kategori mikro cap karena tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Langkah BEI Ke Depan
BEI menegaskan seluruh informasi yang dibutuhkan telah disampaikan kepada penyedia indeks global. Saat ini, otoritas bursa tinggal menunggu tanggapan dan masukan lanjutan dari MSCI, FTSE Russell, serta investor global.
Proses tersebut dinilai penting untuk memastikan reformasi pasar modal berjalan searah dengan standar internasional. Dalam praktiknya, komunikasi yang intens juga diharapkan mampu meminimalkan kesalahpahaman terkait penilaian saham Indonesia.
Jeffrey menambahkan bahwa pertemuan teknis akan terus dilakukan bila diperlukan. Dengan pendekatan itu, BEI berharap hubungan dengan penyedia indeks global tetap konstruktif dan mendukung pengembangan pasar modal nasional.
