Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali bertemu dengan sejumlah penyedia indeks global, termasuk MSCI dan FTSE Russell, untuk melanjutkan pembahasan reformasi pasar modal Indonesia. Pertemuan ini digelar di tengah sorotan pasar atas rebalancing indeks yang berdampak pada sejumlah saham Tanah Air.
Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan komunikasi dengan penyedia indeks dan investor global dilakukan secara rutin. Ia menyebut BEI sudah menyampaikan seluruh data yang diminta, lalu menunggu masukan lanjutan dari pihak terkait.
MSCI dan BEI
Jeffrey menjelaskan pertemuan dengan MSCI terakhir berlangsung pada akhir April. Setelah itu, pada Mei, pihaknya kembali menerima permintaan data dari MSCI dan telah menindaklanjutinya.
Menurut Jeffrey, setelah pertukaran data selesai, akan ada pertemuan lagi di level teknis. Ia menegaskan diskusi dengan penyedia indeks berjalan intensif dan terus berlanjut.
BEI menilai dialog itu penting karena berkaitan dengan arah kebijakan dan penilaian investor global terhadap pasar modal Indonesia. Karena itu, setiap informasi yang diperlukan disampaikan secara terbuka dan tepat waktu.
Jeffrey menyebut pembahasan ini bukan pertemuan yang bersifat satu kali, melainkan bagian dari proses rutin. Ia menambahkan koordinasi juga dilakukan untuk memastikan reformasi pasar modal berjalan sesuai harapan.
Masukan Investor Global
Selain dengan MSCI dan FTSE Russell, BEI juga rutin menggelar pertemuan dengan kelompok investor global. Jeffrey tidak menyebut secara rinci identitas kelompok investor tersebut, namun menegaskan dialog berlangsung berkesinambungan.
Menurut dia, masukan dari investor global menjadi bagian penting dalam memahami persepsi pasar terhadap saham-saham Indonesia. BEI ingin memastikan setiap kebijakan dan perubahan indeks dapat dipahami dengan baik oleh pelaku pasar.
Jeffrey menuturkan pihaknya kini menunggu tanggapan dari berbagai pemangku kepentingan. Bagi BEI, proses komunikasi dua arah jauh lebih penting daripada sekadar menyampaikan data satu kali.
Ia menekankan bahwa BEI tidak hanya menunggu respons dari MSCI dan FTSE Russell, tetapi juga dari investor global. Langkah ini diharapkan memberi gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi pasar modal domestik.
Dampak Rebalancing Indeks
BEI telah menyampaikan informasi yang diperlukan terkait rebalancing indeks MSCI yang efektif pada 29 Mei 2026. Perubahan itu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arus dana dan minat investor terhadap sejumlah emiten.
MSCI sebelumnya mengumumkan pengeluaran 18 saham Indonesia dari konstituen indeks. Dari jumlah tersebut, dua saham masuk kategori high shareholding concentration atau HSC.
Kedua saham yang dikeluarkan MSCI dari kategori itu adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Keputusan tersebut menjadi salah satu sorotan utama pelaku pasar.
Rebalancing indeks kerap menjadi katalis pergerakan harga saham karena berkaitan dengan alokasi dana pasif global. Oleh sebab itu, pasar menunggu dampak lanjutan dari keputusan penyedia indeks tersebut.
Langkah FTSE Russell
FTSE Russell juga mengambil langkah serupa dengan mengeluarkan DSSA dari konstituen indeks Large Cap FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Kebijakan ini menambah perhatian pasar terhadap emiten-emiten Indonesia yang tercatat di indeks global.
Selain DSSA, FTSE Russell turut mengeluarkan tiga saham lain dari kategori mikro cap. Ketiganya adalah PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA).
DAAZ dikeluarkan karena free float berada di bawah batas minimum. Sementara itu, HILL dan MLIA tidak memenuhi kriteria failed surveillance stocks screen.
Serangkaian keputusan MSCI dan FTSE Russell menunjukkan ketatnya standar seleksi dalam indeks global. Bagi BEI, dialog lanjutan diharapkan mampu memperkuat posisi pasar modal Indonesia di mata investor internasional.
