Jastip Jajanan Puncak Jadi Peluang Cuan Menarik

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 11:46 WIB 2
Jastip Jajanan Puncak Jadi Peluang Cuan Menarik

Jasa titip atau jastip masih menjadi peluang usaha yang relevan di tengah perubahan tren belanja digital. Dari makanan, produk kecantikan, hingga perlengkapan ibu dan balita, layanan ini terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Salah satu contoh datang dari Fristo Linanggeng yang bersama istrinya membuka jastip jajanan Puncak, Bogor. Berawal dari komentar singkat di media sosial, usaha itu kini berjalan selama enam bulan dan melayani permintaan pelanggan yang terus bertambah.

Jastip Jajanan Puncak Makin Diminati

Jastip jajanan Puncak menarik perhatian karena menawarkan makanan yang sulit ditemukan di luar kawasan tersebut. Banyak orang ingin menikmati cita rasa khas Bogor tanpa harus datang langsung ke lokasi.

Fristo melihat peluang itu saat sedang berada di Puncak dan membagikan aktivitasnya di media sosial. Dari unggahan ringan tersebut, muncul respons dari warganet yang meminta dirinya membelikan sate maranggi.

Awalnya, hanya tiga orang yang meninggalkan komentar dan meminta titipan makanan. Namun, permintaan itu justru menjadi awal dari usaha yang kini dijalankan lebih serius.

Setelah melihat minat yang terus tumbuh, Fristo memutuskan untuk membuka layanan jastip secara lebih teratur. Ia mengaku tidak menyangka konten yang dibuatnya bisa memancing antusiasme sebesar itu.

Berawal Dari Komentar Warganet

Fristo bercerita bahwa kebiasaan membaca komentar satu per satu membawanya pada ide bisnis baru. Saat itu, salah satu komentar berisi permintaan untuk membelikan sate maranggi dari Puncak.

Ia kemudian mengiyakan permintaan tersebut, meski awalnya hanya untuk tiga orang. Dari momen sederhana itu, lahir layanan jastip jajanan Puncak yang kemudian berkembang secara organik.

Setelah itu, Fristo kembali membuat konten serupa di TikTok dan Instagram. Respons publik di dua platform itu jauh lebih besar dari perkiraannya.

Video yang diunggahnya ternyata ditonton banyak orang dan memunculkan permintaan baru. Situasi tersebut membuatnya melihat jastip bukan lagi sekadar iseng, melainkan peluang usaha yang layak dijalankan.

Menjalankan Usaha Dari Puncak

Fristo saat ini tinggal sementara di Puncak, Bogor, untuk menemani orang tuanya. Meski begitu, ia tetap memiliki pekerjaan tetap di Jakarta yang tidak ditinggalkan.

Kondisi tersebut membuatnya harus membagi waktu antara pekerjaan utama dan layanan jastip. Aktivitas itu dijalankan bersamaan dengan pengiriman pesanan pelanggan yang sudah masuk sebelumnya.

Untuk perjalanan, ia kerap menempuh rute dari Puncak ke Bogor menggunakan motor. Dari Bogor, perjalanan dilanjutkan dengan kereta menuju Jakarta.

Ia menyebut perjalanan pulang pergi itu memakan waktu sekitar tiga jam. Meski melelahkan, ritme tersebut tetap dijalani demi menjaga dua sumber penghasilannya.

Bisnis Kuliner Berbasis Konten

Kasus jastip jajanan Puncak menunjukkan bahwa konten media sosial dapat menjadi pintu masuk bisnis kuliner. Interaksi sederhana dengan pengikut dapat berubah menjadi permintaan nyata yang bernilai ekonomi.

Model usaha seperti ini juga memperlihatkan bahwa produk lokal memiliki daya tarik yang kuat. Selama ada cerita dan keunikan rasa, makanan daerah tetap bisa bersaing di tengah pasar digital.

Jastip memberi kemudahan bagi konsumen yang ingin mencoba kuliner khas tanpa harus datang langsung. Bagi pelaku usaha, layanan ini membuka peluang tambahan pendapatan dengan modal yang relatif fleksibel.

Fristo menjadi contoh bahwa konsistensi dan kepekaan membaca peluang dapat menghasilkan usaha yang berkelanjutan. Dari komentar singkat di media sosial, jastip jajanan Puncak kini berkembang menjadi bisnis yang terus berjalan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!