Bawang Bombay Dikaitkan dengan Penurunan Gula Darah

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 03:20 WIB 2
Bawang Bombay Dikaitkan dengan Penurunan Gula Darah

Diabetes tipe 2 merupakan kondisi kronis yang ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah dan berisiko menimbulkan kerusakan pada berbagai organ tubuh. Di tengah upaya mencari terapi pendukung, sebuah penelitian menyoroti potensi bawang bombay sebagai bahan pangan yang dapat membantu menurunkan gula darah.

Temuan itu berasal dari studi yang dipresentasikan di San Diego dan dikutip dari Surrey Live. Peneliti menemukan ekstrak umbi Allium cepa mampu menekan kadar gula darah tinggi pada tikus diabetes ketika dikombinasikan dengan obat anti-diabetes metformin.

Bawang Bombai dan Diabetes

Peneliti utama Anthony Ojieh, MBBS (MD), MSc, dari Delta State University di Abraka, Nigeria, menilai bawang bombay murah dan mudah didapat. Ia menyebut bahan pangan ini telah lama dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi.

Menurut Ojieh, bawang bombay berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan pengobatan pada pasien diabetes. Meski begitu, hasil riset tersebut masih berada pada tahap awal dan belum langsung dapat diterapkan pada manusia.

Dalam penelitian itu, tim memberikan metformin dan ekstrak bawang bombay dengan dosis 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus per hari. Tiga kelompok tikus diabetes dibuat melalui induksi medis untuk melihat apakah bawang bombay dapat meningkatkan efek obat.

Penelitian juga melibatkan tiga kelompok tikus non-diabetes yang mendapat metformin dan ekstrak bawang sebagai pembanding. Dua kelompok kontrol, masing-masing diabetes dan non-diabetes, tidak menerima metformin maupun ekstrak bawang.

Hasil Penelitian Tikus

Setiap kelompok terdiri dari lima tikus agar peneliti dapat membandingkan respons tubuh secara lebih terukur. Hasilnya, ekstrak bawang bombay dengan dosis 400 mg dan 600 mg menunjukkan penurunan kadar gula darah puasa yang signifikan pada tikus diabetes.

Penurunan tersebut mencapai 50 persen pada dosis 400 mg dan 35 persen pada dosis 600 mg dibandingkan kadar awal penelitian. Temuan ini membuat bawang bombay dipandang menarik sebagai kandidat bahan alami pendamping terapi diabetes.

Namun, penelitian juga mencatat adanya peningkatan berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes yang menerima ekstrak bawang bombay. Efek itu tidak muncul pada tikus diabetes, sehingga mekanismenya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Ojieh menjelaskan bahwa bawang bombay tidak tinggi kalori, tetapi diduga dapat meningkatkan laju metabolisme dan memicu nafsu makan. Akibatnya, konsumsi makanan pada tikus non-diabetes ikut bertambah.

Cara Menjaga Gula Darah

Di luar hasil penelitian tersebut, pengelolaan gula darah tetap bergantung pada pola hidup sehat dan pemeriksaan medis rutin. Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak sebesar 50 gram per hari atau setara empat sendok makan.

Aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah. Olahraga dianjurkan tiga hingga lima kali seminggu dengan durasi 30 menit hingga 45 menit setiap sesi.

Spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menekankan pentingnya konsistensi dalam berolahraga. Ia menyarankan agar aktivitas fisik dilakukan secara berkala, tanpa jeda terlalu panjang, supaya manfaatnya tetap terasa.

Menurut dr Erpryta, evaluasi berkala juga perlu dilakukan agar perubahan pola hidup benar-benar berdampak. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c membantu mengetahui apakah seseorang masih aman, masuk prediabetes, atau sudah diabetes.

Skrining Kesehatan Rutin

Skrining kesehatan menjadi langkah penting untuk mendeteksi dampak konsumsi gula berlebih sejak dini. Dengan mengetahui kondisi gula darah, perubahan gaya hidup bisa segera dilakukan sebelum muncul komplikasi yang lebih serius.

Pemeriksaan laboratorium juga membantu menilai risiko metabolik secara lebih akurat. Tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan gula darah sewaktu, karena diagnosis diabetes memerlukan parameter yang lebih lengkap.

HbA1c menjadi salah satu alat penting karena menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama dua hingga tiga bulan terakhir. Dari hasil itu, dokter dapat menilai apakah pasien berada dalam kondisi normal, prediabetes, atau diabetes.

Dengan kombinasi pola makan yang terkontrol, aktivitas fisik teratur, dan skrining berkala, risiko gangguan gula darah dapat ditekan. Temuan tentang bawang bombay memang menarik, tetapi penerapannya pada manusia masih memerlukan kajian ilmiah lanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!