Bawang Bombay Diduga Bantu Turunkan Gula Darah pada Diabetes

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 13:47 WIB 2
Bawang Bombay Diduga Bantu Turunkan Gula Darah pada Diabetes

Diabetes tipe 2 ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu kerusakan pada berbagai organ tubuh. Di tengah upaya mencari cara pengelolaan yang lebih sederhana, sebuah penelitian menemukan bahwa bawang bombay berpotensi membantu menurunkan gula darah saat dikombinasikan dengan obat antidiabetes.

Temuan tersebut berasal dari riset yang dipresentasikan di San Diego dan mengamati efek ekstrak umbi Allium cepa pada tikus diabetes. Hasilnya menunjukkan penurunan kadar gula darah puasa yang signifikan, sehingga bawang bombay kembali menarik perhatian sebagai bahan pangan yang mungkin mendukung pengendalian diabetes.

Bawang Bombay dan Gula Darah

Penelitian yang dikutip dari Surrey Live menyebut ekstrak bawang bombay mampu menurunkan kadar gula darah tinggi pada tikus diabetes. Efek itu terlihat ketika ekstrak diberikan bersamaan dengan metformin, yaitu obat antidiabetes yang umum digunakan.

Peneliti utama, Anthony Ojieh dari Delta State University di Abraka, Nigeria, menilai bawang bombay murah, mudah didapat, dan selama ini telah dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Menurut dia, bahan pangan tersebut berpotensi dikembangkan untuk membantu terapi pasien diabetes.

Dalam riset itu, tim peneliti memberikan metformin dan ekstrak bawang bombay dalam beberapa dosis, yakni 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus setiap hari. Tiga kelompok tikus diabetes diinduksi secara medis untuk melihat apakah bawang bombay dapat meningkatkan efek obat.

Penelitian juga membandingkan hasil pada kelompok tikus non-diabetes yang tetap mendapatkan metformin dan ekstrak bawang bombay. Dua kelompok kontrol, masing-masing dengan kondisi diabetes dan non-diabetes, tidak menerima perlakuan apa pun, sedangkan dua kelompok lain hanya menerima metformin tanpa ekstrak bawang.

Hasil Penelitian pada Tikus

Hasil paling menonjol muncul pada kelompok yang menerima ekstrak bawang bombay dosis 400 mg dan 600 mg. Kadar gula darah puasa tikus diabetes turun signifikan, masing-masing sebesar 50 persen dan 35 persen, dibandingkan dengan kadar awal penelitian.

Temuan itu menunjukkan adanya potensi sinergi antara ekstrak bawang bombay dan metformin dalam menekan kadar gula darah. Meski demikian, penelitian tersebut masih berada pada tahap awal dan baru dilakukan pada hewan percobaan.

Ekstrak bawang bombay juga tercatat menyebabkan kenaikan berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes, tetapi tidak pada tikus diabetes. Ojieh menjelaskan bahwa bawang bombay tidak tinggi kalori, namun diduga dapat meningkatkan laju metabolisme dan nafsu makan.

Ia menambahkan, mekanisme pasti yang membuat bawang bombay menurunkan kadar glukosa darah masih perlu diteliti lebih lanjut. Karena itu, hasil riset ini belum dapat langsung disimpulkan sebagai terapi untuk manusia tanpa kajian tambahan.

Catatan untuk Penderita Diabetes

Bawang bombay yang digunakan dalam penelitian berasal dari umbi yang dibeli di supermarket lokal. Jika nantinya diterapkan pada manusia, bahan tersebut biasanya harus melalui proses pemurnian terlebih dahulu agar kandungan aktifnya dapat dihitung dengan tepat.

Proses itu penting untuk menentukan dosis yang aman dan efektif. Dengan demikian, penggunaan bawang bombay dalam konteks medis tidak bisa disamakan dengan konsumsi harian biasa di dapur.

Untuk pengelolaan gula darah, Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak hingga 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Anjuran ini menjadi salah satu langkah dasar untuk mencegah kadar gula darah naik secara berlebihan.

Olahraga fisik juga dinilai penting dilakukan secara teratur, yakni 3 hingga 5 kali seminggu selama 30 menit sampai 45 menit. Jika memungkinkan, aktivitas fisik disarankan tidak terputus dua hari berturut-turut agar manfaatnya lebih optimal.

Pentingnya Skrining Kesehatan

Spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD. menekankan bahwa pola hidup sehat perlu dievaluasi secara berkala. Menurut dia, olahraga sesekali tidak cukup jika tidak diikuti dengan pemantauan dan perbaikan kebiasaan secara konsisten.

Skrining kesehatan juga penting untuk mengetahui dampak konsumsi gula berlebih sejak dini. Dengan pemeriksaan yang tepat, seseorang dapat segera mengubah pola hidup sebelum kondisi memburuk.

Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan gula darah tidak cukup hanya dilakukan sekali, melainkan perlu penilaian laboratorium yang lebih lengkap. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c dibutuhkan untuk melihat rata-rata kadar gula darah dalam dua sampai tiga bulan terakhir.

Melalui pemeriksaan tersebut, seseorang bisa mengetahui apakah masih berada dalam kondisi aman, masuk prediabetes, atau sudah mengalami diabetes melitus. Informasi ini menjadi dasar penting untuk menentukan langkah pengendalian yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!