Bawang Bombay Diduga Bantu Turunkan Gula Darah pada Diabetes

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 15:52 WIB 5
Bawang Bombay Diduga Bantu Turunkan Gula Darah pada Diabetes

Diabetes tipe 2 ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu komplikasi serius pada tubuh jika tidak dikendalikan dengan baik. Di tengah upaya mencari dukungan alami untuk membantu pengelolaan penyakit ini, sebuah penelitian menyoroti potensi bawang bombay dalam menurunkan gula darah.

Temuan tersebut berasal dari studi yang dipresentasikan di San Diego dan dikutip dari Surrey Live, yang menunjukkan ekstrak umbi bawang bombay atau Allium cepa dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus diabetes saat diberikan bersama metformin. Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan masih diperlukan kajian lebih lanjut sebelum hasilnya diterapkan pada manusia.

Bawang Bombay dan Diabetes

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak bawang bombay mampu menurunkan kadar gula darah puasa pada tikus diabetes secara signifikan. Efek ini muncul ketika ekstrak diberikan bersamaan dengan obat anti-diabetes metformin.

Peneliti utama, Anthony Ojieh dari Delta State University di Abraka, Nigeria, menyebut bawang bombay murah, mudah didapat, dan sudah dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Ia menilai bahan pangan ini berpotensi dikembangkan untuk membantu terapi pasien diabetes.

Dalam riset itu, tim peneliti memberi metformin bersama ekstrak bawang bombay dalam beberapa dosis, yakni 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus per hari. Tujuannya adalah melihat apakah bawang bombay dapat meningkatkan efek obat pada hewan uji.

Studi juga melibatkan kelompok tikus non-diabetes sebagai pembanding, termasuk kelompok yang hanya menerima metformin dan kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan apa pun. Masing-masing kelompok terdiri dari lima tikus untuk mengamati perbedaan respons secara lebih terukur.

Hasil Penelitian Terkini

Dari hasil pengamatan, dosis 400 mg dan 600 mg ekstrak bawang bombay terbukti menurunkan gula darah puasa pada tikus diabetes. Penurunan masing-masing tercatat sebesar 50 persen dan 35 persen dibandingkan kadar awal penelitian.

Meski demikian, efek samping berupa peningkatan berat badan rata-rata muncul pada tikus non-diabetes. Kondisi tersebut tidak ditemukan pada tikus diabetes yang menjadi bagian dari uji coba.

Ojieh menjelaskan bahwa bawang bombay tidak tinggi kalori, sehingga kenaikan berat badan kemungkinan terjadi karena peningkatan laju metabolisme dan nafsu makan. Akibatnya, konsumsi makanan pada tikus non-diabetes ikut bertambah.

Ia menambahkan bahwa mekanisme penurunan glukosa darah oleh bawang bombay masih perlu diselidiki lebih jauh. Menurutnya, hasil penelitian ini baru menjadi dasar awal untuk memahami potensi manfaat bawang bombay dalam pengelolaan diabetes.

Potensi untuk Manusia

Ekstrak bawang yang digunakan dalam studi dibuat dari umbi bawang bombay yang dibeli di supermarket lokal. Jika ingin diterapkan pada manusia, bahan tersebut biasanya harus melalui proses pemurnian terlebih dahulu.

Proses itu diperlukan agar kandungan aktifnya dapat diukur dengan tepat sebelum menentukan dosis yang aman. Dengan demikian, penggunaan pada manusia tidak bisa disamakan langsung dengan hasil pada hewan percobaan.

Peneliti menekankan bahwa temuan ini belum dapat dijadikan dasar pengobatan mandiri. Evaluasi ilmiah lanjutan tetap dibutuhkan untuk memastikan efektivitas, keamanan, dan cara kerja senyawa aktif bawang bombay.

Di sisi lain, hasil studi ini membuka peluang penelitian lanjutan untuk mencari sumber pangan yang dapat mendukung terapi diabetes. Namun, keputusan penggunaan tetap harus berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

Cara Menjaga Gula Darah

Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak, dengan gula maksimal 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Anjuran ini penting untuk membantu menjaga kestabilan kadar gula darah.

Aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes. Olahraga disarankan dilakukan tiga hingga lima kali seminggu dengan durasi 30 menit sampai 45 menit setiap sesi.

Spesialis penyakit dalam, dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menekankan pentingnya olahraga rutin sekitar 150 menit per minggu. Ia juga mengingatkan agar tidak ada jeda terlalu panjang, sehingga kebiasaan sehat tetap terjaga secara konsisten.

Skrining kesehatan berkala diperlukan untuk mengetahui kadar gula darah dan mendeteksi risiko prediabetes maupun diabetes sejak dini. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c membantu menilai rata-rata gula darah dalam dua hingga tiga bulan terakhir.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!