Bawang Bombai Dikaitkan dengan Penurunan Gula Darah

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 03:45 WIB 6
Bawang Bombai Dikaitkan dengan Penurunan Gula Darah

Diabetes tipe 2 adalah kondisi yang ditandai fluktuasi kadar gula darah dan berisiko menimbulkan kerusakan pada tubuh. Sejumlah penelitian terus mencari bahan pangan yang dapat membantu mengendalikan kondisi tersebut, termasuk sayuran yang mudah ditemukan di pasaran.

Salah satu temuan terbaru menyebut ekstrak bawang bombai berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah secara signifikan, setidaknya pada uji coba terhadap tikus diabetes. Temuan itu dipresentasikan di San Diego dan menyoroti kemungkinan bawang bombai menjadi kandidat pendukung terapi diabetes, bukan pengganti obat utama.

Bawang bombai dan gula darah

Penelitian yang dikutip dari Surrey Live menemukan ekstrak umbi bawang bombai atau Allium cepa dapat menurunkan kadar gula darah tinggi pada tikus diabetes. Efek tersebut muncul ketika ekstrak diberikan bersama obat anti-diabetes metformin.

Peneliti utama Anthony Ojieh dari Delta State University di Abraka, Nigeria, menyebut bawang bombai murah, mudah didapat, dan selama ini juga dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Ia menilai bahan pangan tersebut berpotensi digunakan untuk membantu terapi pasien diabetes.

Dalam studi itu, tim peneliti memberikan metformin dan ekstrak bawang bombai dalam dosis 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus. Setiap kelompok terdiri dari lima tikus, dengan pembanding yang menerima perlakuan berbeda untuk melihat pengaruh ekstrak terhadap kadar gula darah.

Temuan pada tikus diabetes

Hasil penelitian menunjukkan dosis 400 mg dan 600 mg mampu menurunkan kadar gula darah puasa pada tikus diabetes secara signifikan. Penurunan yang dicatat mencapai 50 persen dan 35 persen dibandingkan dengan kadar awal penelitian.

Pada tikus non-diabetes, ekstrak bawang bombai justru dikaitkan dengan kenaikan berat badan rata-rata. Namun, kenaikan itu tidak terjadi pada tikus diabetes, sehingga peneliti menilai ada efek berbeda pada kondisi metabolik yang berlainan.

Ojieh menegaskan bawang bombai tidak tinggi kalori, tetapi tampaknya dapat meningkatkan laju metabolisme dan memicu nafsu makan. Ia menambahkan, mekanisme yang membuat bawang bombai mampu menurunkan glukosa darah masih perlu diteliti lebih jauh.

Cara mengelola gula darah

Meski hasil penelitian ini menarik, temuan tersebut masih terbatas pada uji coba hewan dan belum bisa langsung diterapkan pada manusia. Ekstrak bawang bombai yang digunakan juga berasal dari umbi yang dijual di supermarket lokal.

Jika nantinya diuji pada manusia, bahan itu biasanya harus melalui proses pemurnian terlebih dahulu. Proses tersebut diperlukan agar kandungan aktifnya terukur dan dosis yang tepat dapat ditentukan dengan aman.

Kementerian Kesehatan RI menyarankan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak hingga 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Anjuran ini menjadi langkah awal untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.

Pentingnya skrining kesehatan

Selain pola makan, aktivitas fisik juga perlu dilakukan secara rutin untuk membantu mengontrol gula darah. Kemenkes menyarankan olahraga 3 sampai 5 kali seminggu dengan durasi 30 sampai 45 menit, atau total sekitar 150 menit per minggu.

Spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menekankan pentingnya menjaga konsistensi olahraga tanpa jeda terlalu lama. Menurut dia, evaluasi berkala juga dibutuhkan agar perubahan gaya hidup tidak berhenti di tengah jalan.

Ia juga mengingatkan pentingnya skrining kesehatan untuk mengetahui apakah seseorang sudah masuk prediabetes atau diabetes. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c dapat memberi gambaran kadar gula darah dalam dua hingga tiga bulan terakhir, sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan lebih cepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!